Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah prioritas dakwah Islamiyah berubah-ubah dari masa ke masa dan dari suatu masyrakat ke masyarakat lainnya ? Lalu apakah menyerukan aqidah yang pertama-tama dilakukan oleh Rasulullah Shallallau ‘alaihi wa sallam, harus pula dilakukan oleh para da’i di setiap zaman ?
Jawaban.
Tidak diragukan lagi, bahwa prioritas dan pokok-pokok dakwah Islamiyah sejak diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari Kiamat tetap sama, tidak berubah karena perubahan zaman. Adakalanya sebagian pokok-pokok itu telah terealisasi pada suatu kaum dan tidak ada hal yang menggugurkannya atau mengurangi bobotnya, pada kondisi seperti ini, sang da’i harus membahas perkara-perkara lainnya yang dipandang masih kurang. Kendati demikian, pokok-pokok dakwah Islamiyah sama sekali tidak berubah. Ketika Rasulullah Shallallahu a’laihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda.
“Artinya : Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Setelah mereka mematuhi itu, beritahulah mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas mereka pelaksanaan lima kali shalat dalam sehari semalan. Setelah mereka mematuhi itu, beritahulah mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan zakat atas mereka yang diambil dari yang kaya untuk disalurkan kepada yang miskin di antara mereka” [Hadits Riwayat Bukhari dalam Az-Zakah 1458, Muslim dalam Al-Iman 19]
Itulah pokok-pokok dakwah yang harus diurutkan seperti demikian ketika kita mendakwahi orang lafir. Tapi jika kita mendakwahi kaum muslimin yang telah mengetahui pokok pertama, yaitu tauhid dan tidak ada hal-hal yang menggugurkan atau menguranginya, maka kita menyerukan kepada mereka pokok-pokok selanjutnya sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits tadi.
[Kitabud Da’wah 5, Syaikh Ibnu Utsaimin 2/154-155]
[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 265-266 Darul Haq]
Kamis, 30 Juni 2011
Dan Allah Menyempurnakan CahayaNya (Agamanya)
Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaaly
LIMADZA IKHTARTU AL-MANHAJ AS-SALAFY MENGAPA MEMILIH MANHAJ SALAF
Studi Kritis Solusi Problematika Umat
Meskipun ada tipu daya baik siang maupun malam yang menyeru kaum muslimin kedalam neraka, bermunculanlah sejumlah Du'at kebenaran dari ahli ilmu dan para Thalibul Ilmu. Mereka mengejutkan tempat-tempat kesesatan dan markas-markas penyimpangan yang tumbuh hidup di negeri-negeri muslimin dan menghamburkan kerusakan di tanah air mereka. Hal ini dikarenakan tamu-tamu tak diundang ini memindahkan sasaran mereka seluruhnya atau hampir seluruhnya kepada lingkungan masyarakat salib yahudi. Tamu tak diundang ini menyangka dengan persangkaan buruk bahwa umat ini telah pasti akan keluar dari Islam dan tidak akan kembali. Akan tetapi mereka itu lupa kepada banyak kenyataan yang tidak berjalan sesuai dengan arahan dan tidak masuk dalam perhitungan mereka, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala menyumpal pendengaran mereka dari mendengar, menutup hati mereka dari memahami dan menutup penglihatan mereka dari melihat kebenaran.
[1]. Mereka telah lalai terhadap hal-hal yang sangat mendasar, bahwa segala sesuatu berada di dalam kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala bagi yang telah lalu maupun yang akan datang, dan bukan di tangan mereka atau yang lainnya dari manusia dan jin. [1]
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Artinya : Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengatahuinya" [Yusuf : 21]
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka". [Al-Qashah : 68]
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Allah pencipta langit dan bumi, dan Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya : "Jadilah". Lalu jadilah ia". [Al-Baqarah : 117]
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan keberadaan agama ini di dunia walaupun ada tipu daya dan makar para musuh-musuh, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus rasulnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci" [Ash-Shaaf : 8-9]
Hal ini menuntut keberadaan sekelompok dari kaum muslimin yang menegakkan agama Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tidak merusak mereka tipu daya para musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala sampai hari kiamat.
[2]. Kebanyakan kaum muslimin telah memeluk agama ini berabad-abad lamanya sebelum para penghasut menerbarkan racun-racun salibisme, yahudisme serta penyimpangan agama ke dalam negeri-negeri muslimin. Jika kaum muslimin lalai dari agamanya beberapa saat, maka itu hanyalah seperti awan musim panas yang jumlahnya sedikit yang segera akan hilang ketika hilang pengaruh bius yang disuntikkan ke dalam tubuh umat Islam. Hal ini menuntut keberadaan di permukaan bumi ini orang yang melaksanakan agama Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memberikan hujah kepada manusia, mengatakan kebenaran, menjelaskan dan menerangkannya.
[3]. Mereka telah lalai bahwa agama ini adalah agama kebenaran, dan kebanaran akan tetap tinggal di permukaan bumi ini karena dia bermanfaat bagi manusia. Kekekalan adalah milik kebenaran karena dia lebih kuat dan lebih pantas dan sungguh kamu akan mengetahui kebenarannya setelah beberapa waktu.
Ini menuntut keberadaan sekelompok kaum muslimin yang berada di atas kebenaran yang tidak merugikan dan merendahkan mereka orang yang menyelisihi, karena umat yang dirahmati ini tidak akan bersepakat di dalam kesesatan.
[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]
_________
Foote Note.
[1] Saya telah mengambil asal perkataan ini dari kitab Waaqiunal Muashir karya Muhammad Qutub ! dan kitab ini terdapat banyak kekeliruan dan kesalahan yang berbahaya seputar manhaj salaf, dan saya telah menjelaskannya dalam tulisan khusus yang saya beri judul : "Aqdul Khanaashir fi Raddi Abaathili Waqiunaa Al-Muashir.
Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaaly
LIMADZA IKHTARTU AL-MANHAJ AS-SALAFY MENGAPA MEMILIH MANHAJ SALAF
Studi Kritis Solusi Problematika Umat
Meskipun ada tipu daya baik siang maupun malam yang menyeru kaum muslimin kedalam neraka, bermunculanlah sejumlah Du'at kebenaran dari ahli ilmu dan para Thalibul Ilmu. Mereka mengejutkan tempat-tempat kesesatan dan markas-markas penyimpangan yang tumbuh hidup di negeri-negeri muslimin dan menghamburkan kerusakan di tanah air mereka. Hal ini dikarenakan tamu-tamu tak diundang ini memindahkan sasaran mereka seluruhnya atau hampir seluruhnya kepada lingkungan masyarakat salib yahudi. Tamu tak diundang ini menyangka dengan persangkaan buruk bahwa umat ini telah pasti akan keluar dari Islam dan tidak akan kembali. Akan tetapi mereka itu lupa kepada banyak kenyataan yang tidak berjalan sesuai dengan arahan dan tidak masuk dalam perhitungan mereka, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala menyumpal pendengaran mereka dari mendengar, menutup hati mereka dari memahami dan menutup penglihatan mereka dari melihat kebenaran.
[1]. Mereka telah lalai terhadap hal-hal yang sangat mendasar, bahwa segala sesuatu berada di dalam kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala bagi yang telah lalu maupun yang akan datang, dan bukan di tangan mereka atau yang lainnya dari manusia dan jin. [1]
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Artinya : Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengatahuinya" [Yusuf : 21]
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka". [Al-Qashah : 68]
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Allah pencipta langit dan bumi, dan Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya : "Jadilah". Lalu jadilah ia". [Al-Baqarah : 117]
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan keberadaan agama ini di dunia walaupun ada tipu daya dan makar para musuh-musuh, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus rasulnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci" [Ash-Shaaf : 8-9]
Hal ini menuntut keberadaan sekelompok dari kaum muslimin yang menegakkan agama Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tidak merusak mereka tipu daya para musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala sampai hari kiamat.
[2]. Kebanyakan kaum muslimin telah memeluk agama ini berabad-abad lamanya sebelum para penghasut menerbarkan racun-racun salibisme, yahudisme serta penyimpangan agama ke dalam negeri-negeri muslimin. Jika kaum muslimin lalai dari agamanya beberapa saat, maka itu hanyalah seperti awan musim panas yang jumlahnya sedikit yang segera akan hilang ketika hilang pengaruh bius yang disuntikkan ke dalam tubuh umat Islam. Hal ini menuntut keberadaan di permukaan bumi ini orang yang melaksanakan agama Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memberikan hujah kepada manusia, mengatakan kebenaran, menjelaskan dan menerangkannya.
[3]. Mereka telah lalai bahwa agama ini adalah agama kebenaran, dan kebanaran akan tetap tinggal di permukaan bumi ini karena dia bermanfaat bagi manusia. Kekekalan adalah milik kebenaran karena dia lebih kuat dan lebih pantas dan sungguh kamu akan mengetahui kebenarannya setelah beberapa waktu.
Ini menuntut keberadaan sekelompok kaum muslimin yang berada di atas kebenaran yang tidak merugikan dan merendahkan mereka orang yang menyelisihi, karena umat yang dirahmati ini tidak akan bersepakat di dalam kesesatan.
[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]
_________
Foote Note.
[1] Saya telah mengambil asal perkataan ini dari kitab Waaqiunal Muashir karya Muhammad Qutub ! dan kitab ini terdapat banyak kekeliruan dan kesalahan yang berbahaya seputar manhaj salaf, dan saya telah menjelaskannya dalam tulisan khusus yang saya beri judul : "Aqdul Khanaashir fi Raddi Abaathili Waqiunaa Al-Muashir.
Asas Kebangkitan Dunia Islam
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : "Asas-asas apakah yang dapat menyebabkan Dunia Islam bangkit kembali .?
Jawaban.
Yang saya yakini ialah apa yang terdapat dalam hadits shahih. Ia merupakan jawaban tegas terhadap pertanyaan semacam itu, yang mungkin di lontarkan pada masa sekarang ini. Hadits itu adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem 'iinah (seseorang menjual sesuatu kepada orang lain dengan pembayaran di belakang, tetapi sebelum si pembeli membayarnya si penjual telah membelinya kembali dengan harga murah -red), menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu rujuk (kembali) kepada dien kamu". [Hadist Shahih riwayat Abu Dawud].
Jadi Asasnya ialah RUJUK (Kembali) Kepada ISLAM.
Persoalan ini, telah diisyaratkan oleh Imam Malik rahimahullah dalam sebuah kalimat ma'tsur yang ditulis dengan tinta emas : "Barangsiapa mengada-adakan bid'ah di dalam Islam kemudian menganggap bid'ah itu baik, berarti ia telah menganggap Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menghianati risalah". Bacalah firman Allah Tabaraka wa Ta'ala.
"Artinya : Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan buatmu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu". [Al-Maaidah : 3].
"Oleh karenanya apa yang hari itu bukan agama, maka hari ini-pun bukan agama, dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini"
Kalimat terakhir (Imam Malik) di atas itulah yang berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan ini, yaitu pernyataannya :
" Dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini".
Oleh sebab itu, sebagaimana halnya orang Arab Jahiliyah dahulu tidak menjadi baik keadaannya kecuali setelah datangnya Nabi mereka, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan membawa wahyu dari langit, yang telah menyebabkan kehidupan mereka di dunia berbahagia dan selamat dalam kehidupan akhirat. Demikian pula seyogyanya asas yang mesti dijadikan pijakan bagi kehidupan Islami nan membahagiakan di masa kini, yakni tiada lain hanyalah RUJUK (kembali) kepada Al-Kitab was Sunnah.
Hanya saja, masalahnya memerlukan sedikit penjelasan, sebab betapa banyak jama'ah serta golongan-golongan di "lapangan" mengaku bahwa mereka telah meletakkan sebuah manhaj yang memungkinkan dengannya terwujud masyarakat Islam dan terwujud pelaksanaan hukum berdasarkan Islam.
Sementara itu kita mengetahui dari Al-Kitab dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa jalan bagi terwujudnya itu semua hanya ada satu jalan, yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta'ala dalam firmannya.
"Artinya : Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya". [Al-An'am : 153].
Dan sungguh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, telah menjelaskan makna ayat ini kepada para shahabatnya. Beliau pada suatu hari menggambarkan kepada para shahabat sebuah garis lurus di atas tanah, disusul dengan menggambar garis-garis pendek yang banyak di sisi-sisi garis lurus tadi.
Kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan ayat di atas ketika menudingkan jari tangannya yang mulia ke atas garis yang lurus dan kemudian menunjuk garis-garis yang terdapat pada sisi-sisinya, beliau bersabda:
"Artinya : Ini adalah jalan Allah, sedangkan jalan-jalan ini, pada setiap muara jalan-jalan tersebut ada syaithan yang menyeru kepadanya". [Shahih sebagaimana terdapat di dalam "Zhilalul Jannah fi takhrij As-Sunnah : 16-17].
Allah 'Azza wa Jalla-pun menguatkan ayat beserta penjelasannya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits di atas, dengan ayat lain, yaitu firman-Nya.
"Artinya : Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk (kebenaran) baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali". [An-Nisaa : 115]
Dalam ayat ini terdapat sebuah hikmah yang tegas, yakni bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mengikatkan "jalannya orang-orang mukmin" kepada apa yang telah di bawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal inilah yang telah diisyaratkan oleh Rasullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits iftiraq (perpecahan) ketika beliau ditanya tentang Al-Firqah An Najiyah (golongan yang selamat), saat itu beliau menjawab :
"Artinya : (Yaitu) apa yang aku dan shahabatku hari ini ada di atasnya" [lihat As-Silsilah Ash-Shahihah : 203]
Apakah gerangan hikmah yang di maksud ketika Allah menyebutkan "Jalannya orang-orang mukmin (Sabiilul mukminim)" dalam ayat tersebut .? Dan apakah kiranya hal yang dimaksud ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengikatkan para shahabatnya kepada diri beliau sendiri dalam hadits di muka .? Jawabannya, bahwa para shahabat radliyallahu anhum itu adalah orang-orang yang telah menerima pelajaran dua wahyu (Al-Qur'an dan As-Sunnah) langsung dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau telah menjelaskannya langsung kepada mereka tanpa perantara, tidak sebagaimana keadaan orang-orang yang sesudahnya.
Tentu saja hasilnya adalah seperti yang pernah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya :
"Artinya : Sesungguhnya orang yang hadir akan dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang yang tidak hadir" [Lihat Shahih Al-Jami' : 1641].
Oleh sebab itulah, iman para shahabat terdahulu lebih kuat daripada orang-orang yang datang sesudahnya. Ini pula telah diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits mutawatir :
"Artinya : Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudahnya, kemudian orang-orang yang sesudahnya lagi " [Muttafaq 'alaihi].
Berdasarkan hal ini, seorang muslim tidak bisa berdiri sendiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah, tetapi ia harus meminta bantuan dalam memahami keduanya dengan kembali kepada para shahabat Nabi yang Mulia, orang-orang yang telah menerima pelajaran tentang keduanya langsung dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang terkadang menjelaskannya dengan perkataan, terkadang dengan perbuatan dan terkadang dengan taqrir (persetujuan) beliau.
Jika demikian, adalah mendesak sekali dalam "mengajak orang kembali kepada Al-qur'an dan As-Sunnah" untuk menambahkan prinsip "berjalan di atas apa yang ditempuh oleh AS-SALAFU AS-SHALIH" dalam rangka mengamalkan ayat-ayat serta hadits-hadits yang telah disebutkan di muka, manakala Allah menyebutkan "Jalannya orang-orang mukmin (sabilul mu'minin)", dan menyebutkan Nabi-Nya yang mulia serta para shahabatnya dengan maksud supaya memahami Al-Kitab was Sunnah sesuai dengan apa yang dipahami oleh KAUM SALAF generasi pertama dari kalangan shahabat radliyallahu anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka secara ihsan.
Kemudian, dalam hal ini ada satu persoalan yang teramat penting namun dilupakan oleh banyak kalangan jama'ah serta hizb-hizb Islam. Persoalan itu ialah : "Jalan mana gerangan yang dapat digunakan untuk mengetahui apa yang ditempuh oleh para shahabat dalam memahami dan melaksanakan sunnah ini ..?".
Jawabannya : "Tiada jalan lain untuk menuju pemahaman itu kecuali harus RUJUK (kembali) kepada Ilmu Hadits, Ilmu Mushtalah Hadits, Ilmu Al-Jarh wa At-Ta'dil dan mengamalkan kaidah-kaidah serta musthalah-musthalah-nya tersebut, sehingga para ulama dapat dengan mantap mengetahui mana yang shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mana yang tidak shahih".
Sebagai penutup jawaban, kami bisa mengatakan dengan bahasa yang lebih jelas kepada kaum muslimin yang betul-betul ingin kembali mendapatkan 'IZZAH (kehormatan), kejayaan dan hukum bagi Islam, yaitu anda harus bisa merealisasikan dua perkara :
Pertama :
Anda harus mengembalikan syari'at Islam ke dalam benak-benak kaum muslimin dalam keadaan bersih dari segenap unsur yang menyusup ke dalammnya, apa yang sebenarnya bukan berasal daripadanya, ketika Allah Tabaraka wa Ta'ala menurunkan firmannya :
"Artinya : Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu" [Al-Maaidah : 3].
Mengembalikan persoalan hari ini menjadi seperti persoalan zaman pertama dahulu, membutuhkan perjuangan ekstra keras dari para ulama kaum muslimin di pelbagai penjuru dunia.
Kedua :
Kerja keras yang terus menerus tanpa henti ini harus dibarengi dengan ilmu yang telah terbersihkan itu.
Pada hari kaum muslimin telah kembali memahami dien mereka sebagai mana yang dipahami para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian melaksanakan pengamalan ajaran Islam yang telah terbersihkan ini secara benar dalam semua segi kehidupan, maka pada hari itulah kaum mu'minin dapat bergembira merasakan kemenangan yang datangnya dari Allah.
Inilah yang bisa saya katakan dalam ketergesa-gesaan ini, dengan memohon kepada Allah agar Dia memberikan pemahaman Islam secara benar kepada kita dan seluruh kaum muslimin, sesuai dengan tuntunan kitab-Nya dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih sebagaimana yang telah ditempuh oleh SALAFUNA ASH-SHALIH.
Kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan taufiq kepada kita supaya dapat mengamalkan yang demikian itu, sesungguhnya Dia SAMI' (Maha Mendengar) lagi MUJIB (Maha Mengabulkan Do'a).
Wallahu 'alam.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : "Asas-asas apakah yang dapat menyebabkan Dunia Islam bangkit kembali .?
Jawaban.
Yang saya yakini ialah apa yang terdapat dalam hadits shahih. Ia merupakan jawaban tegas terhadap pertanyaan semacam itu, yang mungkin di lontarkan pada masa sekarang ini. Hadits itu adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem 'iinah (seseorang menjual sesuatu kepada orang lain dengan pembayaran di belakang, tetapi sebelum si pembeli membayarnya si penjual telah membelinya kembali dengan harga murah -red), menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu rujuk (kembali) kepada dien kamu". [Hadist Shahih riwayat Abu Dawud].
Jadi Asasnya ialah RUJUK (Kembali) Kepada ISLAM.
Persoalan ini, telah diisyaratkan oleh Imam Malik rahimahullah dalam sebuah kalimat ma'tsur yang ditulis dengan tinta emas : "Barangsiapa mengada-adakan bid'ah di dalam Islam kemudian menganggap bid'ah itu baik, berarti ia telah menganggap Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menghianati risalah". Bacalah firman Allah Tabaraka wa Ta'ala.
"Artinya : Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan buatmu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu". [Al-Maaidah : 3].
"Oleh karenanya apa yang hari itu bukan agama, maka hari ini-pun bukan agama, dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini"
Kalimat terakhir (Imam Malik) di atas itulah yang berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan ini, yaitu pernyataannya :
" Dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini".
Oleh sebab itu, sebagaimana halnya orang Arab Jahiliyah dahulu tidak menjadi baik keadaannya kecuali setelah datangnya Nabi mereka, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan membawa wahyu dari langit, yang telah menyebabkan kehidupan mereka di dunia berbahagia dan selamat dalam kehidupan akhirat. Demikian pula seyogyanya asas yang mesti dijadikan pijakan bagi kehidupan Islami nan membahagiakan di masa kini, yakni tiada lain hanyalah RUJUK (kembali) kepada Al-Kitab was Sunnah.
Hanya saja, masalahnya memerlukan sedikit penjelasan, sebab betapa banyak jama'ah serta golongan-golongan di "lapangan" mengaku bahwa mereka telah meletakkan sebuah manhaj yang memungkinkan dengannya terwujud masyarakat Islam dan terwujud pelaksanaan hukum berdasarkan Islam.
Sementara itu kita mengetahui dari Al-Kitab dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa jalan bagi terwujudnya itu semua hanya ada satu jalan, yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta'ala dalam firmannya.
"Artinya : Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya". [Al-An'am : 153].
Dan sungguh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, telah menjelaskan makna ayat ini kepada para shahabatnya. Beliau pada suatu hari menggambarkan kepada para shahabat sebuah garis lurus di atas tanah, disusul dengan menggambar garis-garis pendek yang banyak di sisi-sisi garis lurus tadi.
Kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan ayat di atas ketika menudingkan jari tangannya yang mulia ke atas garis yang lurus dan kemudian menunjuk garis-garis yang terdapat pada sisi-sisinya, beliau bersabda:
"Artinya : Ini adalah jalan Allah, sedangkan jalan-jalan ini, pada setiap muara jalan-jalan tersebut ada syaithan yang menyeru kepadanya". [Shahih sebagaimana terdapat di dalam "Zhilalul Jannah fi takhrij As-Sunnah : 16-17].
Allah 'Azza wa Jalla-pun menguatkan ayat beserta penjelasannya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits di atas, dengan ayat lain, yaitu firman-Nya.
"Artinya : Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk (kebenaran) baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali". [An-Nisaa : 115]
Dalam ayat ini terdapat sebuah hikmah yang tegas, yakni bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mengikatkan "jalannya orang-orang mukmin" kepada apa yang telah di bawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal inilah yang telah diisyaratkan oleh Rasullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits iftiraq (perpecahan) ketika beliau ditanya tentang Al-Firqah An Najiyah (golongan yang selamat), saat itu beliau menjawab :
"Artinya : (Yaitu) apa yang aku dan shahabatku hari ini ada di atasnya" [lihat As-Silsilah Ash-Shahihah : 203]
Apakah gerangan hikmah yang di maksud ketika Allah menyebutkan "Jalannya orang-orang mukmin (Sabiilul mukminim)" dalam ayat tersebut .? Dan apakah kiranya hal yang dimaksud ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengikatkan para shahabatnya kepada diri beliau sendiri dalam hadits di muka .? Jawabannya, bahwa para shahabat radliyallahu anhum itu adalah orang-orang yang telah menerima pelajaran dua wahyu (Al-Qur'an dan As-Sunnah) langsung dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau telah menjelaskannya langsung kepada mereka tanpa perantara, tidak sebagaimana keadaan orang-orang yang sesudahnya.
Tentu saja hasilnya adalah seperti yang pernah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya :
"Artinya : Sesungguhnya orang yang hadir akan dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang yang tidak hadir" [Lihat Shahih Al-Jami' : 1641].
Oleh sebab itulah, iman para shahabat terdahulu lebih kuat daripada orang-orang yang datang sesudahnya. Ini pula telah diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits mutawatir :
"Artinya : Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudahnya, kemudian orang-orang yang sesudahnya lagi " [Muttafaq 'alaihi].
Berdasarkan hal ini, seorang muslim tidak bisa berdiri sendiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah, tetapi ia harus meminta bantuan dalam memahami keduanya dengan kembali kepada para shahabat Nabi yang Mulia, orang-orang yang telah menerima pelajaran tentang keduanya langsung dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang terkadang menjelaskannya dengan perkataan, terkadang dengan perbuatan dan terkadang dengan taqrir (persetujuan) beliau.
Jika demikian, adalah mendesak sekali dalam "mengajak orang kembali kepada Al-qur'an dan As-Sunnah" untuk menambahkan prinsip "berjalan di atas apa yang ditempuh oleh AS-SALAFU AS-SHALIH" dalam rangka mengamalkan ayat-ayat serta hadits-hadits yang telah disebutkan di muka, manakala Allah menyebutkan "Jalannya orang-orang mukmin (sabilul mu'minin)", dan menyebutkan Nabi-Nya yang mulia serta para shahabatnya dengan maksud supaya memahami Al-Kitab was Sunnah sesuai dengan apa yang dipahami oleh KAUM SALAF generasi pertama dari kalangan shahabat radliyallahu anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka secara ihsan.
Kemudian, dalam hal ini ada satu persoalan yang teramat penting namun dilupakan oleh banyak kalangan jama'ah serta hizb-hizb Islam. Persoalan itu ialah : "Jalan mana gerangan yang dapat digunakan untuk mengetahui apa yang ditempuh oleh para shahabat dalam memahami dan melaksanakan sunnah ini ..?".
Jawabannya : "Tiada jalan lain untuk menuju pemahaman itu kecuali harus RUJUK (kembali) kepada Ilmu Hadits, Ilmu Mushtalah Hadits, Ilmu Al-Jarh wa At-Ta'dil dan mengamalkan kaidah-kaidah serta musthalah-musthalah-nya tersebut, sehingga para ulama dapat dengan mantap mengetahui mana yang shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mana yang tidak shahih".
Sebagai penutup jawaban, kami bisa mengatakan dengan bahasa yang lebih jelas kepada kaum muslimin yang betul-betul ingin kembali mendapatkan 'IZZAH (kehormatan), kejayaan dan hukum bagi Islam, yaitu anda harus bisa merealisasikan dua perkara :
Pertama :
Anda harus mengembalikan syari'at Islam ke dalam benak-benak kaum muslimin dalam keadaan bersih dari segenap unsur yang menyusup ke dalammnya, apa yang sebenarnya bukan berasal daripadanya, ketika Allah Tabaraka wa Ta'ala menurunkan firmannya :
"Artinya : Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu" [Al-Maaidah : 3].
Mengembalikan persoalan hari ini menjadi seperti persoalan zaman pertama dahulu, membutuhkan perjuangan ekstra keras dari para ulama kaum muslimin di pelbagai penjuru dunia.
Kedua :
Kerja keras yang terus menerus tanpa henti ini harus dibarengi dengan ilmu yang telah terbersihkan itu.
Pada hari kaum muslimin telah kembali memahami dien mereka sebagai mana yang dipahami para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian melaksanakan pengamalan ajaran Islam yang telah terbersihkan ini secara benar dalam semua segi kehidupan, maka pada hari itulah kaum mu'minin dapat bergembira merasakan kemenangan yang datangnya dari Allah.
Inilah yang bisa saya katakan dalam ketergesa-gesaan ini, dengan memohon kepada Allah agar Dia memberikan pemahaman Islam secara benar kepada kita dan seluruh kaum muslimin, sesuai dengan tuntunan kitab-Nya dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih sebagaimana yang telah ditempuh oleh SALAFUNA ASH-SHALIH.
Kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan taufiq kepada kita supaya dapat mengamalkan yang demikian itu, sesungguhnya Dia SAMI' (Maha Mendengar) lagi MUJIB (Maha Mengabulkan Do'a).
Wallahu 'alam.
Rabu, 29 Juni 2011
Jalan Menuju Kebangkitan Kaum Muslimin
Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
Pertanyaan.
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Apakah kaum muslimin dewasa ini terbelakang ? Kenapa ? Dan bagaimana dapat membuat mereka bangkit ?
Jawaban
Tidak dapat diragukan lagi bahwa tidak seorang mukmin pun yang rela terhadap kondisi kaum muslimin dewasa ini. Mereka benar-benar terkebelakang akibat keteledoran mereka mengemban tanggung jawab yang telah diwajibkan Allah diatas pundak mereka. Mereka telah teledor dari sisi penyampaian dien ini kepada seluruh dunia dan berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka juga telah teledor di dalam mempersiapkan kekuatan yang telah Allah perintahkan melalui firman-firmanNya.
“Artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu” [Al-Anfal : 60]
“Artinya : Dan siap siagalah kamu” [An-Nisa : 102]
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil mejadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu” [Ali-Imran : 118]
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu) ; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain” [Al-Maidah : 51]
Hal-hal yang mereka teledor terhadapnya inilah yang menyebabkan mereka mengalami ketertinggalan yang kita berharap kepada Allah agar dapat menghilangkannya dari mereka. Yaitu, dengan jalan kembalinya mereka ke jalan yang benar sebagaimana yang telah digariskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Aku telah meninggalkan kalian dalam kondisi putih bersih, yang malamnya seperti siangnya” [Hadits Riwayat Ibnu Majah, Al-Muqaddimah 43, Ahmad Jilid IV. No. 1374]
Dan dalam sabdanya yang lain.
“Artinya : Aku telah meninggalkan pada kalian dua hal, yang kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya ; Kitabullah dan Sunnah NabiNya” [Hadits Riwayat Malik di dalam Al-Muwaththa’, Al-Qadar, hal 899]
Jadi sebab ketertinggalan kaum muslimin adalah bahwa mereka belum mengamalkan wasiat Allah kepada mereka, demikian pula wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar berpegang teguh kepada dien mereka, Kitab Rabb dan Sunnah Nabi mereka. Juga karena mereka tidak mengambil sikap hati-hati agar aman dari makar musuh mereka akan tetapi sekalipun demikian, kita tidak hendak mengatakan bahwa kebaikan sudah tidak ada dan kesempatan sudah habis. Kebaikan masih ada pada umat ini selemah apapun kondisinya, sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Masih akan tetap ada sebuah golongan dari umatku yang membela Al-Haq, mereka tidak akan dapat dicelakai oleh orang-orang yang menghinakan mereka hingga datangnya urusan Allah (Kiamat)” [Hadits Riwayat Muslim, Al-Imarah 1920 dari hadits yang diriwayatkan Tsauban. Demikian pula terdapat riwayat semisalnya dari lebih dari seorang sahabat]
Maka, selemah apapun kondisi yang tengah dihadapi umat namun kebaikan tidaklah hilang padanya dan pasti akan ada orang yang menegakkan Dienullah sekalipun dalam lingkup yang sempit. Kebaikan akan tetap ada pada umat ini manakala para pemeluknya telah kembali kepadaNya.
[Kitab Ad-Da’wah, No. 7, Dari Fatwa Syaikh Al-Fauzan, Jilid II, hal.166-167]
[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 179-181 Darul Haq]
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
Pertanyaan.
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Apakah kaum muslimin dewasa ini terbelakang ? Kenapa ? Dan bagaimana dapat membuat mereka bangkit ?
Jawaban
Tidak dapat diragukan lagi bahwa tidak seorang mukmin pun yang rela terhadap kondisi kaum muslimin dewasa ini. Mereka benar-benar terkebelakang akibat keteledoran mereka mengemban tanggung jawab yang telah diwajibkan Allah diatas pundak mereka. Mereka telah teledor dari sisi penyampaian dien ini kepada seluruh dunia dan berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka juga telah teledor di dalam mempersiapkan kekuatan yang telah Allah perintahkan melalui firman-firmanNya.
“Artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu” [Al-Anfal : 60]
“Artinya : Dan siap siagalah kamu” [An-Nisa : 102]
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil mejadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu” [Ali-Imran : 118]
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu) ; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain” [Al-Maidah : 51]
Hal-hal yang mereka teledor terhadapnya inilah yang menyebabkan mereka mengalami ketertinggalan yang kita berharap kepada Allah agar dapat menghilangkannya dari mereka. Yaitu, dengan jalan kembalinya mereka ke jalan yang benar sebagaimana yang telah digariskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Aku telah meninggalkan kalian dalam kondisi putih bersih, yang malamnya seperti siangnya” [Hadits Riwayat Ibnu Majah, Al-Muqaddimah 43, Ahmad Jilid IV. No. 1374]
Dan dalam sabdanya yang lain.
“Artinya : Aku telah meninggalkan pada kalian dua hal, yang kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya ; Kitabullah dan Sunnah NabiNya” [Hadits Riwayat Malik di dalam Al-Muwaththa’, Al-Qadar, hal 899]
Jadi sebab ketertinggalan kaum muslimin adalah bahwa mereka belum mengamalkan wasiat Allah kepada mereka, demikian pula wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar berpegang teguh kepada dien mereka, Kitab Rabb dan Sunnah Nabi mereka. Juga karena mereka tidak mengambil sikap hati-hati agar aman dari makar musuh mereka akan tetapi sekalipun demikian, kita tidak hendak mengatakan bahwa kebaikan sudah tidak ada dan kesempatan sudah habis. Kebaikan masih ada pada umat ini selemah apapun kondisinya, sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Masih akan tetap ada sebuah golongan dari umatku yang membela Al-Haq, mereka tidak akan dapat dicelakai oleh orang-orang yang menghinakan mereka hingga datangnya urusan Allah (Kiamat)” [Hadits Riwayat Muslim, Al-Imarah 1920 dari hadits yang diriwayatkan Tsauban. Demikian pula terdapat riwayat semisalnya dari lebih dari seorang sahabat]
Maka, selemah apapun kondisi yang tengah dihadapi umat namun kebaikan tidaklah hilang padanya dan pasti akan ada orang yang menegakkan Dienullah sekalipun dalam lingkup yang sempit. Kebaikan akan tetap ada pada umat ini manakala para pemeluknya telah kembali kepadaNya.
[Kitab Ad-Da’wah, No. 7, Dari Fatwa Syaikh Al-Fauzan, Jilid II, hal.166-167]
[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 179-181 Darul Haq]
Senin, 20 Juni 2011
Ahmadiyah....Mengapa Kamu Berkilah???
Beberapa bulan yang lalu kita di suguhkan kepada 12 butir pernyataan sikap Ahmadiyah Qadiyani terhadap respon MUI dan masyarakat Islam atas embel-embel sesat dan menyesatkan dari keduanya. Di dalam 12 poin itu yang paling utama adalah mengenai “Khataman Nabiyyin” serta “Mirza Ghulam Ahmad sebagai mujadid” yang oleh Ahmadiyah dinyatakan bahwa Muhammad SAW memang nabi pembawa syariat terakhir dan Mirza Ghulam Ahmad adalah sebagai mujadid dan pembaharu Islam yang tidak menghapuskan syariat. Dengan berkilah yang macam-macam Ahmadiyah menggambarkan bahwa organisasi mereka tidak jauh dari ajaran Islam karena dalam segi pemaknaan Islam adalah sama. Tak hanya dari poin-poin itu saja, Ahmadiyah juga tetap membela diri bahwa dirinya adalah bagian dari agama Islam.
Hal ini sangatlah lucu, mengapa demikian?, karena jelas-jelas sekali Ahmadiyah melalui buku-buku dan situs mereka di Internet jauh berbeda dengan poin-poin pembelaan Ahmadiyah. Di dalam buku-buku terbitan mereka serta website mereka di internet mereka mengklaim bahwasanya masih ada nabi setelah Muhammad yang tidak membawa syariat, dan Mirza Ghulam Ahmad memang menurut Ahmadiyah merupakan Nabi dan Rasul non syariat yang akan tetap membawa ajaran islam, dan menurut mereka kenabian tidak hanya terhenti sampai Nabi Muhammad SAW saja, tetapi sampai akhir zaman.
Kontradiksi antara poin pembelaan Ahmadiyah dengan buku-buku mereka sejatinya merupakan sebuah retorika belaka agar dapat membuat seolah-olah Ahmadiyah tidak seperti yang diberitakan oleh buku-buku maupun website mereka. Ahmadiyah Qadiyan di Indonesia berusaha melakukan pembelaan dengan memposisikan diri sebagai Islam yang tertindas sehingga seolah-olah menjadi yang di dzalimi dan harus mendapat perhatian penuh dari berbagai umat beragama di Indonesia. Di milis-milis yang berbau relativisme, liberalisme, serta pluralisme Ahmadiyah di bela habis-habisan, mulai dari kasus Manislor hingga kasus Ahmadiyah Pontianak. Strategi kuno Ahmadiyah dengan meminta umat beragama non muslim ini pun gayung bersambut, oleh mereka (pengusung ide SEPILIS) dan umat non muslim lainnya Ahmadiyah lainnya dibela habis-habisan dan akan diupayakan menempuh jalur hukum untuk mengatasinya. Sebuah pencarian tameng yang menurut saya cukup cerdas tapi kebablasan.
Keyakinan kacau Ahmadiyah ini harus kita ketahui secara seksama agar kita tahu mana yang benar antara MUI dan massa yang ingin Ahmadiyah diterima karena 12 poin mereka itu. Kita akan bahas satu persatu klaim mereka berdasarkan buku-buku dan Tafsir Al Quran yang diterbitkan dan disebarkan oleh mereka sendiri.
1. Masalah Khataman Nabiyyin
Pihak Ahmadiyah tetap mengklaim bahwasanya nabi Muhammad memang nabi pamungkas dan nabi pembawa syariat keagungan terakhir, dengan kata lain masih ada nabi setelah nabi Muhammad, semua itu diawali dengan penafsiran surat Al Ahzab berikut ini:
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi dia adalah Rasulullah dan khataman nabiyyin dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al Ahzab [33]: 49).
Apa kata Ahmadiyah tentang hal ini:
a. Nabi Muhammad saw adalah Chataman-Nabijjin dan membawa agama sempurna jang tak dapat dirobah sampai hari Qiamat, Nabi saw memang membawa sjaerat jang terachir untuk seluruh ummat manusia sebagai rahmat bagi alam semesta tetapi kata “Chataman –Nabijjin” sekali-kali tidak menundjukan, bahwa ni’mat kenabian dalam ummat beliau telah terhenti. (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal.8).
b. Bahwa pengertian “tidak ada wahju” sesudah nabi Muhammad saw, demikian pula pengertian “tidak ada Nabi” menurut pandangan adalah bid’ah. (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal.17).
c. Sebenarnja ajat chataman nabijjin tidak pernah mendapat dukungan dari ajat2 Alquran lainnja-walaupun satu ajat sadja-kalau chataman Nabijjin tersebut mau diartikan sebagai Nabi penutup, penghabisan dan sebagainnja. Sebaliknja didalam Alquran terdapat puluhan ajat jang menundjukan , bahwa sesudah nabi Muhammad saw pintu ke-Nabian itu tetap terbuka. (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal 18)
d. Bahwa ma’na tentang Chataman nabijjin jang dewasa ini populer (Nabi Muhammad nabi terakhir. Pen) dikalangan kaum muslimin itu tidaklah sesuai dengan apa jang termaksud oleh ajat tersebut. (Apakah Ahmadiyah itu? Oleh: Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal. 11).
e. Siti ‘Aisjah r.a. adalah salah-seorang isteri nabi kita saw. Terkenal dan berpandangan djauh. Rupanja beliau dengan firasat jang dalam merasa, bahwa kata Chataman-Nabijjjin ini dapat menimbulkan pengertian jang salah (mengakui nabi Muhammad nabi terakhir. Pen) seperti jang kita alami sekarang. Oleh sebab itu beliau bersabda sebagai peringatan: “Quulu chatama’l-Anbijaa walaa taquuluu laa-Nabija ba’dah”. “Katakanlah Nabi Muhammad itu Chatam para Nabi tetap djangan mengatakan, bahwa sesudah beliau tidak ada lagi Nabi”. (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A.Nahdi hal.11).
f. Tjukup mejakinkan kiranja, bahwa sesudah nabi Muhammad saw pasti ada lagi Nabi (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal 27).
Dari keterangan diatas masihkah kita “percaya” dengan poin “pembelaan” Ahmadiyah yang mengatakan bahwa Nabi Muhamamd sebagai nabi pembawa syariat terakhir????? Orang cerdas dan pintar yang beriman pasti tahu apa yang harus dikatakannya.
2. Masalah Klaim Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi baru
Ahmadiyah dengan poin yang hampir bersamaan dengan poin diatas hanya mengklaim bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah mujadid saja dan penghidup nilai-nilai Islam. Dari poin pertama saja kita sudah dapat mengetahui bahwa sebenarnya Ahmadiyah masih meyakini akan datang nabi baru dan Mirza Ghulam Ahmadlah nabi baru itu. Tetapi dengan permainan kata-kata mereka (Ahmadiyah) berusaha sembunyi dari kenyataan ini. berikut ini bukti nyata bahwa pengikut Ahmadiyah serta Mirza Ghulam Ahmad mengkalim nabi dan Rasul.
a. Imam Mahdi dan Almasih jang dijanjikan jang sudah bangkit itu orangnja adalah Hazrat Mirza Gulam Ahmad a.s. pendiri Ahmadiyah. Beliau tidak datang sebagai Nabi baru dalam arti, bahwa beliau mengganti, merobah, menambah atau mengurangi adjaran Islam. (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal.100).
b. Antara ilham2 jang beliau terima dalam hubungan dengan kebangkitan sebagai Imam Mahdi dan Almasih oleh Tuhan dikatakan, bahwa Almasih jang dahulu itu sudah wafat dan Almasih jang didjanjikan achirzaman adalah mirza Gulam Ahmad a.s. sendiri. Dalam bahasa Arabnja antara lain ialah satu ilham berbunji: “dja’alnaakal Masiihabna Maryama” (Kami djadikan engkau Almasih anak Maryam. (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal. 103).
c. Tafsiran poin b tersebut menjustifikasi bahwa Isa putera Maryam=Al masih=nabi=Mirza Ghulam Ahmad adalah tampak jelas pada poin berikut: Nabi Isa a.s. akan mendjadi sebagai apanja? Kita-berdasarkan Quran dan Hadist-masih menunggu kedatangan Nabi, dalam Hadist dikatakan Nabi Isa a.s. akan datang. (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal. 55).
Adapun klaim bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang Rasul serta Nabi sekaligus yang keluar dari mulutnya sendiri adalah sebagai berikut:
I swear by God Who has sent me --- and about Whom it is the work of the accursed to make fabrications --- that He has sent me as the Promised Messiah. And just as I believe in the verses of the Holy Quran, similarly, without an iota of difference, I believe in the clear and open revelation of God which I receive, the truth of which has become evident to me by its repeated signs. I can swear on oath in the House of God that the holy revelation which descends on me is the word of the same God Who sent His word to Moses, Jesus and Muhammad mustafa, may peace and the blessings of God be upon him. The earth testified for me, and so did heaven. So also did both heaven and earth proclaim that I am the khalifa (appointed one) of God. However, according to the prophecies it was necessary that I should be denied, so those upon whose hearts are veils do not accept me. I know that God will certainly succour me, as He has ever been helping His messengers. None can stand against me, as he has not the aid of God. (Ayk Ghalati Ka Izala).
Wherever I have denied prophethood and messengership, it is only in the sense that I am not the independent bearer of a shariah, nor am I an independent prophet. However, in the sense that, having gained spiritual graces from the Messenger whom I follow, and having attained for myself his name, I have received knowledge of the unseen from God through the mediation of the Holy Prophet, I am a messenger and a prophet but without a new shariah. (Ayk Ghalati Ka Izala).
Masihkah kita percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad dan pengikutnya tidak pernah mengklaim bahwa dirinya adalah Rasul dan Nabi??? Orang Islam cerdas dan pintar yang beriman pastilah memikirkannya masak-masak. Jika memang masih memerlukan bukti, maka marilah kita simak statement Mirza Ghulam Ahmad berikut ini:
“It has been revealed to me that Iam the same man who is the mujaddid of this faith and the guide for the people I proclaim with a loud voice that Iam the Messiah, and that Iam the Khalifa of the great king who is now in heaven” (Predominance of Islam).
Dan penafsiran paling aneh serta nyeleneh tentang ramalan bahwa Mirza Ghulam Ahmad telah diramalkan di dalam Al Quran. Mereka mengklaim bahwa Mirza Ghulam Ahmad telah diramalkan di dalam surat Ash Shaf ayat 6 berikut:
Dan ketika Isa putera Maryam berkata: "Hai keturunan Israel, Sesungguhnya aku adalah rasulullah kepada kalian, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad”. Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (Q.S. Ash Shaf [61]: 6).
Menurut Ahmadiyah nama Ahmad itu bermakna ganda, selain untuk nabi Muhammad SAW, nama tersebut juga mencerminkan nama Mirza Ghulam Ahmad, berikut kami ambil dari buku Ahmadiyah:
Nama Muhammad mencerminkan sifat jalali (kebesaran dan keagungan)…akan tetapi, nama Ahmad mempunyai sifat jamali (keindahan).Tetapi sebagai mana diramalkan di akhir zaman, akan ada lagi penjelmaan dari nama Ahmad. (Gerakan Ahmadiyah hal. 25).
Dari berbagai bukti diatas masihkah syubhat siapa Ahmadiyah itu, Ahmadiyah Qadiyan secara tegas merupakan sebuah agama baru dengan nabi baru dan tak seperti dan sama dengan Islam karena mempunyai nabi sendiri yaitu mirza Ghulam Ahmad. Lalu bagaimana dengan Ahmadiyah Lahore, apakah mereka sesat dan menyesatkan pula?, saya katakan dengan tegas dan lantang “YA”, apa dasarnya?. Dasarnya adalah bahwa Ahmadiyah Lahore mengklaim bahwa Nabi Isa itu mempunyai ayah bologis yang bernama Yusuf, dengan kata lain Yusuf kawin dengan Maryam yang menghasilkan Isa secara tegas tertulis di Tafsir Quran:
“Sungguh menarik perhatian bahwa Quran tidak menyebut-nyebut suami Siti Maryam sama sekali; dalam hal ini, mirip sekali dengan peristiwa lahirnya Nabi Musa, karena disanapun tak disebut-sebut ayah nabi Musa sama sekali. Oleh karena itu, dengan tidak disebutnya ayah Nabi Isa, bukanlah suatu bukti bahwa Nabi Isa tak mempunyai ayah. Selain itu, diantara orang tua beliau (Siti Maryam dan Yusuf), Siti Maryam memang jauh lebih terkenal dari Yusuf”. (Quran Suci Terjemah dan Tafsir oleh: Maulana Muhamad Ali hal. 171 tafsir nomor 424.).
Sudah jelas sekali bahwa kesesatan dan penyesatan oleh Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore ini harus segera ditindak tegas, karena dapat mengancam stabilitas aqidah umat Islam. Wallahu ‘alam bi showab
Bisa juga dibaca di Web Swaramuslim: http://swaramuslim.com/more.php?id=5886_0_1_0_M
Hal ini sangatlah lucu, mengapa demikian?, karena jelas-jelas sekali Ahmadiyah melalui buku-buku dan situs mereka di Internet jauh berbeda dengan poin-poin pembelaan Ahmadiyah. Di dalam buku-buku terbitan mereka serta website mereka di internet mereka mengklaim bahwasanya masih ada nabi setelah Muhammad yang tidak membawa syariat, dan Mirza Ghulam Ahmad memang menurut Ahmadiyah merupakan Nabi dan Rasul non syariat yang akan tetap membawa ajaran islam, dan menurut mereka kenabian tidak hanya terhenti sampai Nabi Muhammad SAW saja, tetapi sampai akhir zaman.
Kontradiksi antara poin pembelaan Ahmadiyah dengan buku-buku mereka sejatinya merupakan sebuah retorika belaka agar dapat membuat seolah-olah Ahmadiyah tidak seperti yang diberitakan oleh buku-buku maupun website mereka. Ahmadiyah Qadiyan di Indonesia berusaha melakukan pembelaan dengan memposisikan diri sebagai Islam yang tertindas sehingga seolah-olah menjadi yang di dzalimi dan harus mendapat perhatian penuh dari berbagai umat beragama di Indonesia. Di milis-milis yang berbau relativisme, liberalisme, serta pluralisme Ahmadiyah di bela habis-habisan, mulai dari kasus Manislor hingga kasus Ahmadiyah Pontianak. Strategi kuno Ahmadiyah dengan meminta umat beragama non muslim ini pun gayung bersambut, oleh mereka (pengusung ide SEPILIS) dan umat non muslim lainnya Ahmadiyah lainnya dibela habis-habisan dan akan diupayakan menempuh jalur hukum untuk mengatasinya. Sebuah pencarian tameng yang menurut saya cukup cerdas tapi kebablasan.
Keyakinan kacau Ahmadiyah ini harus kita ketahui secara seksama agar kita tahu mana yang benar antara MUI dan massa yang ingin Ahmadiyah diterima karena 12 poin mereka itu. Kita akan bahas satu persatu klaim mereka berdasarkan buku-buku dan Tafsir Al Quran yang diterbitkan dan disebarkan oleh mereka sendiri.
1. Masalah Khataman Nabiyyin
Pihak Ahmadiyah tetap mengklaim bahwasanya nabi Muhammad memang nabi pamungkas dan nabi pembawa syariat keagungan terakhir, dengan kata lain masih ada nabi setelah nabi Muhammad, semua itu diawali dengan penafsiran surat Al Ahzab berikut ini:
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi dia adalah Rasulullah dan khataman nabiyyin dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al Ahzab [33]: 49).
Apa kata Ahmadiyah tentang hal ini:
a. Nabi Muhammad saw adalah Chataman-Nabijjin dan membawa agama sempurna jang tak dapat dirobah sampai hari Qiamat, Nabi saw memang membawa sjaerat jang terachir untuk seluruh ummat manusia sebagai rahmat bagi alam semesta tetapi kata “Chataman –Nabijjin” sekali-kali tidak menundjukan, bahwa ni’mat kenabian dalam ummat beliau telah terhenti. (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal.8).
b. Bahwa pengertian “tidak ada wahju” sesudah nabi Muhammad saw, demikian pula pengertian “tidak ada Nabi” menurut pandangan adalah bid’ah. (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal.17).
c. Sebenarnja ajat chataman nabijjin tidak pernah mendapat dukungan dari ajat2 Alquran lainnja-walaupun satu ajat sadja-kalau chataman Nabijjin tersebut mau diartikan sebagai Nabi penutup, penghabisan dan sebagainnja. Sebaliknja didalam Alquran terdapat puluhan ajat jang menundjukan , bahwa sesudah nabi Muhammad saw pintu ke-Nabian itu tetap terbuka. (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal 18)
d. Bahwa ma’na tentang Chataman nabijjin jang dewasa ini populer (Nabi Muhammad nabi terakhir. Pen) dikalangan kaum muslimin itu tidaklah sesuai dengan apa jang termaksud oleh ajat tersebut. (Apakah Ahmadiyah itu? Oleh: Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal. 11).
e. Siti ‘Aisjah r.a. adalah salah-seorang isteri nabi kita saw. Terkenal dan berpandangan djauh. Rupanja beliau dengan firasat jang dalam merasa, bahwa kata Chataman-Nabijjjin ini dapat menimbulkan pengertian jang salah (mengakui nabi Muhammad nabi terakhir. Pen) seperti jang kita alami sekarang. Oleh sebab itu beliau bersabda sebagai peringatan: “Quulu chatama’l-Anbijaa walaa taquuluu laa-Nabija ba’dah”. “Katakanlah Nabi Muhammad itu Chatam para Nabi tetap djangan mengatakan, bahwa sesudah beliau tidak ada lagi Nabi”. (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A.Nahdi hal.11).
f. Tjukup mejakinkan kiranja, bahwa sesudah nabi Muhammad saw pasti ada lagi Nabi (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal 27).
Dari keterangan diatas masihkah kita “percaya” dengan poin “pembelaan” Ahmadiyah yang mengatakan bahwa Nabi Muhamamd sebagai nabi pembawa syariat terakhir????? Orang cerdas dan pintar yang beriman pasti tahu apa yang harus dikatakannya.
2. Masalah Klaim Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi baru
Ahmadiyah dengan poin yang hampir bersamaan dengan poin diatas hanya mengklaim bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah mujadid saja dan penghidup nilai-nilai Islam. Dari poin pertama saja kita sudah dapat mengetahui bahwa sebenarnya Ahmadiyah masih meyakini akan datang nabi baru dan Mirza Ghulam Ahmadlah nabi baru itu. Tetapi dengan permainan kata-kata mereka (Ahmadiyah) berusaha sembunyi dari kenyataan ini. berikut ini bukti nyata bahwa pengikut Ahmadiyah serta Mirza Ghulam Ahmad mengkalim nabi dan Rasul.
a. Imam Mahdi dan Almasih jang dijanjikan jang sudah bangkit itu orangnja adalah Hazrat Mirza Gulam Ahmad a.s. pendiri Ahmadiyah. Beliau tidak datang sebagai Nabi baru dalam arti, bahwa beliau mengganti, merobah, menambah atau mengurangi adjaran Islam. (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal.100).
b. Antara ilham2 jang beliau terima dalam hubungan dengan kebangkitan sebagai Imam Mahdi dan Almasih oleh Tuhan dikatakan, bahwa Almasih jang dahulu itu sudah wafat dan Almasih jang didjanjikan achirzaman adalah mirza Gulam Ahmad a.s. sendiri. Dalam bahasa Arabnja antara lain ialah satu ilham berbunji: “dja’alnaakal Masiihabna Maryama” (Kami djadikan engkau Almasih anak Maryam. (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal. 103).
c. Tafsiran poin b tersebut menjustifikasi bahwa Isa putera Maryam=Al masih=nabi=Mirza Ghulam Ahmad adalah tampak jelas pada poin berikut: Nabi Isa a.s. akan mendjadi sebagai apanja? Kita-berdasarkan Quran dan Hadist-masih menunggu kedatangan Nabi, dalam Hadist dikatakan Nabi Isa a.s. akan datang. (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal. 55).
Adapun klaim bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang Rasul serta Nabi sekaligus yang keluar dari mulutnya sendiri adalah sebagai berikut:
I swear by God Who has sent me --- and about Whom it is the work of the accursed to make fabrications --- that He has sent me as the Promised Messiah. And just as I believe in the verses of the Holy Quran, similarly, without an iota of difference, I believe in the clear and open revelation of God which I receive, the truth of which has become evident to me by its repeated signs. I can swear on oath in the House of God that the holy revelation which descends on me is the word of the same God Who sent His word to Moses, Jesus and Muhammad mustafa, may peace and the blessings of God be upon him. The earth testified for me, and so did heaven. So also did both heaven and earth proclaim that I am the khalifa (appointed one) of God. However, according to the prophecies it was necessary that I should be denied, so those upon whose hearts are veils do not accept me. I know that God will certainly succour me, as He has ever been helping His messengers. None can stand against me, as he has not the aid of God. (Ayk Ghalati Ka Izala).
Wherever I have denied prophethood and messengership, it is only in the sense that I am not the independent bearer of a shariah, nor am I an independent prophet. However, in the sense that, having gained spiritual graces from the Messenger whom I follow, and having attained for myself his name, I have received knowledge of the unseen from God through the mediation of the Holy Prophet, I am a messenger and a prophet but without a new shariah. (Ayk Ghalati Ka Izala).
Masihkah kita percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad dan pengikutnya tidak pernah mengklaim bahwa dirinya adalah Rasul dan Nabi??? Orang Islam cerdas dan pintar yang beriman pastilah memikirkannya masak-masak. Jika memang masih memerlukan bukti, maka marilah kita simak statement Mirza Ghulam Ahmad berikut ini:
“It has been revealed to me that Iam the same man who is the mujaddid of this faith and the guide for the people I proclaim with a loud voice that Iam the Messiah, and that Iam the Khalifa of the great king who is now in heaven” (Predominance of Islam).
Dan penafsiran paling aneh serta nyeleneh tentang ramalan bahwa Mirza Ghulam Ahmad telah diramalkan di dalam Al Quran. Mereka mengklaim bahwa Mirza Ghulam Ahmad telah diramalkan di dalam surat Ash Shaf ayat 6 berikut:
Dan ketika Isa putera Maryam berkata: "Hai keturunan Israel, Sesungguhnya aku adalah rasulullah kepada kalian, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad”. Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (Q.S. Ash Shaf [61]: 6).
Menurut Ahmadiyah nama Ahmad itu bermakna ganda, selain untuk nabi Muhammad SAW, nama tersebut juga mencerminkan nama Mirza Ghulam Ahmad, berikut kami ambil dari buku Ahmadiyah:
Nama Muhammad mencerminkan sifat jalali (kebesaran dan keagungan)…akan tetapi, nama Ahmad mempunyai sifat jamali (keindahan).Tetapi sebagai mana diramalkan di akhir zaman, akan ada lagi penjelmaan dari nama Ahmad. (Gerakan Ahmadiyah hal. 25).
Dari berbagai bukti diatas masihkah syubhat siapa Ahmadiyah itu, Ahmadiyah Qadiyan secara tegas merupakan sebuah agama baru dengan nabi baru dan tak seperti dan sama dengan Islam karena mempunyai nabi sendiri yaitu mirza Ghulam Ahmad. Lalu bagaimana dengan Ahmadiyah Lahore, apakah mereka sesat dan menyesatkan pula?, saya katakan dengan tegas dan lantang “YA”, apa dasarnya?. Dasarnya adalah bahwa Ahmadiyah Lahore mengklaim bahwa Nabi Isa itu mempunyai ayah bologis yang bernama Yusuf, dengan kata lain Yusuf kawin dengan Maryam yang menghasilkan Isa secara tegas tertulis di Tafsir Quran:
“Sungguh menarik perhatian bahwa Quran tidak menyebut-nyebut suami Siti Maryam sama sekali; dalam hal ini, mirip sekali dengan peristiwa lahirnya Nabi Musa, karena disanapun tak disebut-sebut ayah nabi Musa sama sekali. Oleh karena itu, dengan tidak disebutnya ayah Nabi Isa, bukanlah suatu bukti bahwa Nabi Isa tak mempunyai ayah. Selain itu, diantara orang tua beliau (Siti Maryam dan Yusuf), Siti Maryam memang jauh lebih terkenal dari Yusuf”. (Quran Suci Terjemah dan Tafsir oleh: Maulana Muhamad Ali hal. 171 tafsir nomor 424.).
Sudah jelas sekali bahwa kesesatan dan penyesatan oleh Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore ini harus segera ditindak tegas, karena dapat mengancam stabilitas aqidah umat Islam. Wallahu ‘alam bi showab
Bisa juga dibaca di Web Swaramuslim: http://swaramuslim.com/more.php?id=5886_0_1_0_M
Ahmadiyah, Mengapa Kau berkelit Kembali?
Tindakan Bakorpakem yang ingin membubarkan Ahmadiyah Qadiyan dan Lahore agaknya tepat namun terlembat. Mengapa terlambat?, saya katakan demikian karena fatwa dari berbagai negara-negara yang mayoritas Islam sudah sejak zaman dahulu kala mencap bahwa Ahamdiyah merupakan aliran di luar Islam. Dari berbagai buku-buku, website, maupaun selebaran yang diterbitkan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (Qadiyan) dan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (Lahore) pada dasarnya memang sudah sangat melenceng dari kaidah Islam yang sebenarnya. Kita mungkin tak perlu repot-repot menguji keabsahan ajaran Ahmadiyah, jika memang Ahmadiyah bersedia mendirikan agama baru di luar Islam, karena jika sudah berbeda agama, bagaimana mungkin umat Islam akan mencampuri urusan agama lain? Kecuali agama Islam di campuri dan disakiti duluan.
Hari ini saya membaca sebuah surat kabar nasional. Ketika saya membaca perihal Ahmadiyah, saya terkejut membaca pembelaan Ahmadiyah mengenai kesesatan dirinya. Dengan mengancam akan melaporkannya ke PBB.
Ahmadiyah sembari mengadakan pembelaan terhadap statemen 12 butir tersebut. Salah satu pentolan Ahmadiyah di dalam harian tersebut mengatakan seperti yang di sarikan harian tersebut:
"Juru bicara JAI, Ahmad Mubarik, menyatakan keyakinannya dilecehkan dan diputarbalikkan secara sengaja. “Kami sedih dan malu dengan sikap pemerintah yang seperti ini”
“Ia membantah tuduhan JAI tidak mengakui Muhammad sebagai nabi terakhir. “Itu bohong. Dusta. Tidak pernah dalam keyakinan kami sejak 100 tahun lalu menyatakan Mirza Ghulam Ahmad pengganti Nabi Muhammad SAW.”
“Menurut dia, JAI meyakinkan Muhammad sebagai Nabi terakhir dalam membawa syariat, tidak ada syariat baru lagi karena sudah sempurna.”
Hebat, fantastis, menajubkan! Sebuah permainan kata-kata yang terlihat namun isinya keropos. Salah satu pentolan Ahmadiyah ini sengaja bermain kata-kata karet agar tampak seolah-olah Ahmadiyah mengakui bahwa nabi terakhir adalah Muhammad. Padahal dalam berbagai tempat sudah jelas sekali bahwa Ahmadiyah mengakui bahwa akan datang nabi yang tidak membawa syariat, yaitu Mirza Ghulam Ahmad, kita dapat lihat statemen Saleh A. Nahdi, pentolan Ahmadiyah kedua setelah Syafi R Batuah, berikut ini:
"Imam Mahdi dan Almasih jang dijanjikan jang sudah bangkit itu orangnja adalah Hazrat Mirza Gulam Ahmad a.s. pendiri Ahmadiyah. Beliau tidak datang sebagai Nabi baru dalam arti, bahwa beliau mengganti, merobah, menambah atau mengurangi adjaran Islam." (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal.100).
Berarti Mirza Ghulam Ahmad datang sebagai Nabi baru dalam arti dia tidak mengganti, tidak merobah, tidak menambah atau mengurangi ajaran Islam. Ungkapan yang tepat untuk statemen Ahmadiyah ini bahwasanya Muhammad SAW nabi terakhir pembawa syariat dan Mirza Ghulam Ahmad nabi setelah Muhammad yang non syariat.
Selain itu, Ahmadiyah juga mengklaim bahwasannya nama Ahmad pada surat Ash Shaff ayat 6 ditujukan kepada 2 orang, yaitu nabi Muhammad SAW dan Mirza Ghulam Ahmad. Jadi versi Ahmadiyah, nabi Muhammad di dalam surat tersebut juga bisa mengenai dirinya, sekarang dari titik tolak Ahmadiyah ini berimplikasi pada 2 poin: Syahadat Ahmadiyah dan Klaim Ahmad=Muhammad=Mirza Ghulam Ahmad.
Ada baiknya kita lihat dahulu surat Ash Shaff ayat 6 tersebut:
"Dan ketika Isa putera Maryam berkata: "Hai keturunan Isarel, Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada kalian, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad. Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (Q.S. Ash Shaff: 6)
Oleh Ahmadiyah, ayat ini ditafsirkan sebagai berikut:
Nama Muhammad mencerminkan sifat jalali (kebesaran dan keagungan)…akan tetapi, nama Ahmad mempunyai sifat jamali (keindahan).Tetapi sebagai mana diramalkan di akhir zaman, akan ada lagi penjelmaan dari nama Ahmad. (Gerakan Ahmadiyah hal. 25). Versi Ahmadiyah Lahore.
“Bahwa nama Hazrat Masih Maud a.s. sebenarnya adalah Ahmad, sekali pun nama lengkap beliau adalah Mirza Ghulam Ahmad, ternyata dari suatu peristiwa sejarah. Ayahanda dari Masih Maud ialah Mirza Ghulam Murtadha. Ia mempunyai dua orang putera dan beliau memberikan nama Mirza Ghulam Qadir kepada yang besar dan nama Mirza Ghulam Ahmad kepada yang kecil. Mirza Ghulam Murtadha mendirikan dua daerah pedesaan yang dinamainya dengan nama kedua orang puteranya. Daerah yang satu dinamainya Qadirabad dan yang lain dinamainya Ahmadabad. Dari peristiwa ini nyatalah bahwa bagi Mirza Ghulam Murtadha nama asli dari kedua puteranya masing-masing ialah Qadir dan Ahmad.”(Syafi R. Batuah, Tanggapan Atas Buku Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah).
“Orang-orang ini bertanya berulang-ulang di mana dalam Al-Quran nama itu disebutkan. Tampaknya mereka tidak mengetahui bahwa Allah memanggilku dengan nama Ahmad. Janji baiat diambil dengan nama Ahmad. Bukankah nama ini terdapat dalam Al-Quran?". (Al-Hakam, 17 Oktober 1905, h. 10). (Syafi R. Batuah, Tanggapan Atas Buku Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah).
Penjelasan yang mantap dan tegas mengenai hal ini diberikan oleh Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II r.a.: Dari kutipan-kutipan ini kita dapat melihat bahwa Masih Maud mengenakan nubuwatan ini pada diri beliau sendiri. Kini tinggallah persoalan kenapa beliau juga mengenakan itu pada diri Nabi Muhammad? Jawabannya ialah apa jua pun nubuwatan-nubuwatan yang terdapat mengenai kebangkitan dan kemajuan ummat beliau, pada tingkat pertama itu terutama sekali berlaku terhadap beliau. Kalau beliau bukan Ahmad yang disebutkan di sini mana mungkin Masih Maud dapat menjadi Ahmad tertentu itu? Pada hal apa pun yang sudah diterima Masih Maud semuanya datang kepada beliau dari Nabi Muhammad s.a.w. dan dengan perantaraan beliau. (Syafi R. Batuah, Tanggapan Atas Buku Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah).
Dari keterangan-keterangan di atas dapatlah diambil kesim pulan bahwa menurut paham Ahmadiyah nama Ahmad yang terdapat Surah As-Shaf dapat dikenakan pada Nabi Muhammad s.a.w. dan pada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Masih Maud dan Imam Mahdi pada Nabi Muhammad s.a.w. sebagai nama sifati dan pada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai nama dzati. (Syafi R. Batuah, Tanggapan Atas Buku Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah).
Implikasi dari penafsiran diatas membawa dampak bahwasanya Muhammad dan Ahmad adalah sama-sama di nubuatkan dalam Ash Shaff ayat 6, dengan standar ganda ini, dapat kita lihat bahwasanya Ahmadiyah masih mengklaim bahwa utusan yang akan datang itu Mirza Ghulam Ahmad pula. Sekarang dimanakah poin kebenaran Ahmadiyah yang dimuat di dalam 12 butir pernyataan itu setelah fakta-fakta berbicara?
Ahmadiyah juga mengklaim bahwasannya Tadzkirah hanyalah mimpi-mimpi Mirza Ghulam Ahmad yang di bukukan. Apakah sekedar mimpi? Ternyata tidak demikian, di dalam Tadzkirah sendiri dapat kita lihat bahwasanya Tadzkirah merupakan wahyu suci kepada Mirza Ghulam Ahmad. Kita dapat simak pada kutipan Tadzkirah berikut ini:
Dari kutipan Tadzkirah di atas dapat kita baca bahwasanya “Tadzkirah ya’ni Wahyi Muqoddas wa Ru’ya wa Kasyaf Hadhiroh Masih Maw’ud alaihi sholawat was salam”. Masihkah Ahmadiyah bermimipi bahwasanya Tadzkirah kumpulan mimpi biasa? Bukan wahyu suci?, akal pikiran yang sehat dan hati nurani yang bersih pasti mengetahui yang sebenarnya. Sebaiknya jika Ahmadiyah jujur dan mengakui kekhilafan ini dan bertaubat kepada Allah maka niscaya Allah akan memaafkan dan jika Ahmadiyah tetap bersikukuh dengan pendiriannya dan ingin berkelit dengan permainan kata-kata, sebaiknya Ahmadiyah menghapus seluruh data-data, membredel buku-buku Ahmadiyah, serta menarik seluruh tulisan yang di buat oleh tokoh-tokoh Ahmadiyah yang dapat memberatkan dan menelanjangi aqidah Ahmadiyah sendiri, ibarat senjata makan tuan. Wallahu ‘alam bi showab
Link paralel terhadap artikel ini: http://swaramuslim.com/more.php?id=5931_0_15_0_M
Hari ini saya membaca sebuah surat kabar nasional. Ketika saya membaca perihal Ahmadiyah, saya terkejut membaca pembelaan Ahmadiyah mengenai kesesatan dirinya. Dengan mengancam akan melaporkannya ke PBB.
Ahmadiyah sembari mengadakan pembelaan terhadap statemen 12 butir tersebut. Salah satu pentolan Ahmadiyah di dalam harian tersebut mengatakan seperti yang di sarikan harian tersebut:
"Juru bicara JAI, Ahmad Mubarik, menyatakan keyakinannya dilecehkan dan diputarbalikkan secara sengaja. “Kami sedih dan malu dengan sikap pemerintah yang seperti ini”
“Ia membantah tuduhan JAI tidak mengakui Muhammad sebagai nabi terakhir. “Itu bohong. Dusta. Tidak pernah dalam keyakinan kami sejak 100 tahun lalu menyatakan Mirza Ghulam Ahmad pengganti Nabi Muhammad SAW.”
“Menurut dia, JAI meyakinkan Muhammad sebagai Nabi terakhir dalam membawa syariat, tidak ada syariat baru lagi karena sudah sempurna.”
Hebat, fantastis, menajubkan! Sebuah permainan kata-kata yang terlihat namun isinya keropos. Salah satu pentolan Ahmadiyah ini sengaja bermain kata-kata karet agar tampak seolah-olah Ahmadiyah mengakui bahwa nabi terakhir adalah Muhammad. Padahal dalam berbagai tempat sudah jelas sekali bahwa Ahmadiyah mengakui bahwa akan datang nabi yang tidak membawa syariat, yaitu Mirza Ghulam Ahmad, kita dapat lihat statemen Saleh A. Nahdi, pentolan Ahmadiyah kedua setelah Syafi R Batuah, berikut ini:
"Imam Mahdi dan Almasih jang dijanjikan jang sudah bangkit itu orangnja adalah Hazrat Mirza Gulam Ahmad a.s. pendiri Ahmadiyah. Beliau tidak datang sebagai Nabi baru dalam arti, bahwa beliau mengganti, merobah, menambah atau mengurangi adjaran Islam." (Soal-Djawab Ahmadiyah oleh: Saleh A. Nahdi hal.100).
Berarti Mirza Ghulam Ahmad datang sebagai Nabi baru dalam arti dia tidak mengganti, tidak merobah, tidak menambah atau mengurangi ajaran Islam. Ungkapan yang tepat untuk statemen Ahmadiyah ini bahwasanya Muhammad SAW nabi terakhir pembawa syariat dan Mirza Ghulam Ahmad nabi setelah Muhammad yang non syariat.
Selain itu, Ahmadiyah juga mengklaim bahwasannya nama Ahmad pada surat Ash Shaff ayat 6 ditujukan kepada 2 orang, yaitu nabi Muhammad SAW dan Mirza Ghulam Ahmad. Jadi versi Ahmadiyah, nabi Muhammad di dalam surat tersebut juga bisa mengenai dirinya, sekarang dari titik tolak Ahmadiyah ini berimplikasi pada 2 poin: Syahadat Ahmadiyah dan Klaim Ahmad=Muhammad=Mirza Ghulam Ahmad.
Ada baiknya kita lihat dahulu surat Ash Shaff ayat 6 tersebut:
"Dan ketika Isa putera Maryam berkata: "Hai keturunan Isarel, Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada kalian, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad. Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (Q.S. Ash Shaff: 6)
Oleh Ahmadiyah, ayat ini ditafsirkan sebagai berikut:
Nama Muhammad mencerminkan sifat jalali (kebesaran dan keagungan)…akan tetapi, nama Ahmad mempunyai sifat jamali (keindahan).Tetapi sebagai mana diramalkan di akhir zaman, akan ada lagi penjelmaan dari nama Ahmad. (Gerakan Ahmadiyah hal. 25). Versi Ahmadiyah Lahore.
“Bahwa nama Hazrat Masih Maud a.s. sebenarnya adalah Ahmad, sekali pun nama lengkap beliau adalah Mirza Ghulam Ahmad, ternyata dari suatu peristiwa sejarah. Ayahanda dari Masih Maud ialah Mirza Ghulam Murtadha. Ia mempunyai dua orang putera dan beliau memberikan nama Mirza Ghulam Qadir kepada yang besar dan nama Mirza Ghulam Ahmad kepada yang kecil. Mirza Ghulam Murtadha mendirikan dua daerah pedesaan yang dinamainya dengan nama kedua orang puteranya. Daerah yang satu dinamainya Qadirabad dan yang lain dinamainya Ahmadabad. Dari peristiwa ini nyatalah bahwa bagi Mirza Ghulam Murtadha nama asli dari kedua puteranya masing-masing ialah Qadir dan Ahmad.”(Syafi R. Batuah, Tanggapan Atas Buku Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah).
“Orang-orang ini bertanya berulang-ulang di mana dalam Al-Quran nama itu disebutkan. Tampaknya mereka tidak mengetahui bahwa Allah memanggilku dengan nama Ahmad. Janji baiat diambil dengan nama Ahmad. Bukankah nama ini terdapat dalam Al-Quran?". (Al-Hakam, 17 Oktober 1905, h. 10). (Syafi R. Batuah, Tanggapan Atas Buku Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah).
Penjelasan yang mantap dan tegas mengenai hal ini diberikan oleh Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II r.a.: Dari kutipan-kutipan ini kita dapat melihat bahwa Masih Maud mengenakan nubuwatan ini pada diri beliau sendiri. Kini tinggallah persoalan kenapa beliau juga mengenakan itu pada diri Nabi Muhammad? Jawabannya ialah apa jua pun nubuwatan-nubuwatan yang terdapat mengenai kebangkitan dan kemajuan ummat beliau, pada tingkat pertama itu terutama sekali berlaku terhadap beliau. Kalau beliau bukan Ahmad yang disebutkan di sini mana mungkin Masih Maud dapat menjadi Ahmad tertentu itu? Pada hal apa pun yang sudah diterima Masih Maud semuanya datang kepada beliau dari Nabi Muhammad s.a.w. dan dengan perantaraan beliau. (Syafi R. Batuah, Tanggapan Atas Buku Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah).
Dari keterangan-keterangan di atas dapatlah diambil kesim pulan bahwa menurut paham Ahmadiyah nama Ahmad yang terdapat Surah As-Shaf dapat dikenakan pada Nabi Muhammad s.a.w. dan pada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Masih Maud dan Imam Mahdi pada Nabi Muhammad s.a.w. sebagai nama sifati dan pada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai nama dzati. (Syafi R. Batuah, Tanggapan Atas Buku Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah).
Implikasi dari penafsiran diatas membawa dampak bahwasanya Muhammad dan Ahmad adalah sama-sama di nubuatkan dalam Ash Shaff ayat 6, dengan standar ganda ini, dapat kita lihat bahwasanya Ahmadiyah masih mengklaim bahwa utusan yang akan datang itu Mirza Ghulam Ahmad pula. Sekarang dimanakah poin kebenaran Ahmadiyah yang dimuat di dalam 12 butir pernyataan itu setelah fakta-fakta berbicara?
Ahmadiyah juga mengklaim bahwasannya Tadzkirah hanyalah mimpi-mimpi Mirza Ghulam Ahmad yang di bukukan. Apakah sekedar mimpi? Ternyata tidak demikian, di dalam Tadzkirah sendiri dapat kita lihat bahwasanya Tadzkirah merupakan wahyu suci kepada Mirza Ghulam Ahmad. Kita dapat simak pada kutipan Tadzkirah berikut ini:
Dari kutipan Tadzkirah di atas dapat kita baca bahwasanya “Tadzkirah ya’ni Wahyi Muqoddas wa Ru’ya wa Kasyaf Hadhiroh Masih Maw’ud alaihi sholawat was salam”. Masihkah Ahmadiyah bermimipi bahwasanya Tadzkirah kumpulan mimpi biasa? Bukan wahyu suci?, akal pikiran yang sehat dan hati nurani yang bersih pasti mengetahui yang sebenarnya. Sebaiknya jika Ahmadiyah jujur dan mengakui kekhilafan ini dan bertaubat kepada Allah maka niscaya Allah akan memaafkan dan jika Ahmadiyah tetap bersikukuh dengan pendiriannya dan ingin berkelit dengan permainan kata-kata, sebaiknya Ahmadiyah menghapus seluruh data-data, membredel buku-buku Ahmadiyah, serta menarik seluruh tulisan yang di buat oleh tokoh-tokoh Ahmadiyah yang dapat memberatkan dan menelanjangi aqidah Ahmadiyah sendiri, ibarat senjata makan tuan. Wallahu ‘alam bi showab
Link paralel terhadap artikel ini: http://swaramuslim.com/more.php?id=5931_0_15_0_M
Penginjilan Memakai Quran ala SABDA.org
Umat Islam di Indonesia selalu saja mendapat cobaan yang nyata maupun samara-samar dari umat Kristen. Mulai dari kasus Doulos, penistaan Al Quran di Jawa Timur hingga penyusupan Stevanus Armansyah yang terbongkar di Samarinda. Umat Islam di Indonesia sudah cukup sabar dan toleransi terhadap tindak-tanduk umat kristen mulai dari zaman kemerdekaan. Sebut saja perang kemerdekaan Indonesia yang hampir 95% mayoritas yang maju ke medan perang merupakan umat Islam. Toleransi yang tak kalah pentingnya adalah ketika Piagam Jakarta di buat, uamt Islam mengalah karena umat kristen bagian Timur menolaknya. Dengan mengedepankan toleransi sekali lagi umat islam mengalah. Seiring berputarnya waktu penghujatan terhadap umat Islam kian hari makin mengkhawatirkan.
Vcd penistaan agama di Jawa Timur, penyusupan oleh Stevanus Armansyah di Samarinda, serta berbagai usaha Kristenisasi terhadap umat Islam yang tak dapat disangkal lagi data dan faktanya kian hari membuat gaduh suasana toleransi antar umat beragama. Dahulu Indonesia dikejutkan dengan penerbitan buku “Islamic Invasion” oleh salah satu penerbit kristen pimpinan suradi ben avraham yang tak urung meyakiti hati umat Islam. Tak dengan buku, umat Islam kembali dihujat di Forum Diskusi bebas partai damai sejahtera yang dengan kasar mencaci maki agama Islam. Penghujatan terhadap Islam di dunia maya sudah kian mengkhawatirkan, mulai dari website Fatihfreedom yang di boncengi para penginjil terselubung, hingga website SABDA pun ikut-ikutan menerapkan metode penginjilan ini.
Kali ini website SABDA menggunakan judul “penggunaan_alquran.doc” yang tersedia pada halaman website resmi mereka di www.sabda.org/lead/_doc yang dapat di buka oleh siapa saja. Sangat disayangkan SABDA sebagai penyebar alkitab elektronik juga latah menghujat Islam menggunakan Al Quran. Di dalam tulisannya pada artikel itu, judul artikel setelah di download adalah “Penggunaan Al Quran dalam Pelayanan”. Jelas sekali kelihatan disini bahwa mereka berusaha menginjili umat Islam menggunakan mutilasi ayat seperti halnya suradi ben abraham, jansen litik, a. poernama winangun serta abd. yadi yang sampai saat ini takut untuk berhadapan face to face karena malu untuk kalah argument di depan public. Dengan penuh percaya diri, tulisan tersebut dimulai dengan sebuah catatan:
“Kalau seseorang tidak langsung menerima ide-ide di bawah ini, jangan putus asa. Mereka harus mendengarkan hal ini berulang kali dan membiasakan diri dengan konsep ini sebelum mereka akan menerimanya.”
Dengan bahasa yang tendesius ini mereka dengan percaya diri mengklaim bahwa jika dapat menggunakan metode ini dengan baik, maka umat Islam pasti bisa menjadi kristen. Klaim kacangan yang di bangun oleh umat kristen yang awam Islamologi ini sepert biasa menggunakan argument terbitan nehemia centre yang pemimipinnya lari keluar negeri, kita simak argument mereka berikut ini:
Al-Masih adalah Allah
Bertanyalah, “Siapakah yang mempunyai pengetahuan tentang hari kiamat?” Mereka pasti menjawab, “Allah.” Kemudian bacalah Sura 67:26 dengan mereka.
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.’”
Lihat lagi Sura 43:85
“Dan Maha Suci Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
Dan juga Sura 41:47
“Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat [1336]…”
[1336] Maksudnya: Hanya Allah-lah yang mengetahui kapan datangnya hari Kiamat itu.
Tanya lagi. “Siapa yang mempunyai pengetahuan tentang hari kiamat itu?” Sekali lagi mereka akan mengatakan, “Allah.” Terus bacalah Sura 43:61
“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.”
Karena Al-Masih juga mengetahui tentang hari kiamat, maka dengan demikian Al-Masih pasti adalah Allah!
Kita tentu geli mengapa umat kristen mengatakan bahwa Isa al Masih merupakan Allah karena berdasarkan Al Quran. Dengan tegas Al Quran mengatakan bahwa:
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", Padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Q.S. Al Maidah: 72).
Bagaimaan mungkin umat Islam dapat mengatakan bahwa Isa Al Masih adalah Allah padahal ajaran Al Quran bahwa adalah kafir yang mengatakan Isa Al Masih adalah Allah. mereka berargumen bahwa Isa adalah Allah karena yang mengetahui kiamat adalah Allah dan Isa mengetahui tentang kiamat. Argument mereka pada surat berikut ini:
Dan Sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah aku. Inilah jalan yang lurus. (Q.S. Az Zukhruf 61).
Dari zamannya Hamran Ambrie hingga saat ini ternyata argument yang dipakai ya argument yang itu-itu saja. Argument mereka adalah mengenai “Isa memberikan pengetahuan tentang kiamat” yang merupakan terjemahan dari kata “La ‘Ilmun Lissa’ati”. Kata tersebut bermakna memberi pengetahuan (bukan mengetahui) tentang kiamat alam semesta. Nabi muhaamd dalam berbagai hadisnya juga sering memeberikan pengetahuan tentang kiamat, seperti bagaimana tanda-tanda kiamat, bagaimana posisi umat Islam tentang kiamat dan sebagainya. Tetapi umat Islam tidak pernah sekalipun menuhankan nabi Muhammad karena dia memberi ilmu (pengetahuan) tentang kiamat. Sebaliknya menurut Injil, Yesus pun tak mengetahu kapan kiamat itu. Kita bisa simak ayat berikut:
Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri." (Matius 24:36).
Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja." (Markus 13:32)
Yesus sebagai “Anak Tuhan” dan Allah menurut kristen saja tidak mengetahui kapan “latter day” atau kiamat itu datang, sekarang menjadi lucu adalah di dalam Injilsaja tidak ditemukan tentang hal itu, sekarang mereka malah mencari pembenaran di dalam Al Quran tentang hal itu. Kami sarankan agar jika para penginjil ingin menyerang umat islam dan Al Qura, sebaiknya belajar bahasa Arab dan ilmu-ilmu tafsir yang memadai agar tidak disebut sebagai “Jahil Murokkab”. Karena sangat fatal jika memutilasi ayat-ayat seperti model-model Hamran Ambrie, Suradi ben Avraham, Jansen Litik, serta Amos Poernama Winangun.
Artikel: Penggunaan Al Quran dalam Pelayanan” dapat dilihat pada link: http://sabda.org/lead/_doc/penggunaan_alquran.doc secara gratis pada sub domain dari website resmi SABDA.org
NB:
Segera save atau simpan screenshot web tersebut sebelum di hapus oleh adminnya, banyak kasus setelah ada yang "menggerayangi" web hujat Islam tersebut, biasanya oleh adminnya langsung di hapus (http://sabda.org/lead/_doc/penggunaan_alquran.doc)
artikel ini juga di muat pada:
1. http://timfakta.swaramuslim.com/more.php?id=44_0_1_0_M
2. http://swaramuslim.com/fakta/more.php?id=5900_0_16_0_M
Vcd penistaan agama di Jawa Timur, penyusupan oleh Stevanus Armansyah di Samarinda, serta berbagai usaha Kristenisasi terhadap umat Islam yang tak dapat disangkal lagi data dan faktanya kian hari membuat gaduh suasana toleransi antar umat beragama. Dahulu Indonesia dikejutkan dengan penerbitan buku “Islamic Invasion” oleh salah satu penerbit kristen pimpinan suradi ben avraham yang tak urung meyakiti hati umat Islam. Tak dengan buku, umat Islam kembali dihujat di Forum Diskusi bebas partai damai sejahtera yang dengan kasar mencaci maki agama Islam. Penghujatan terhadap Islam di dunia maya sudah kian mengkhawatirkan, mulai dari website Fatihfreedom yang di boncengi para penginjil terselubung, hingga website SABDA pun ikut-ikutan menerapkan metode penginjilan ini.
Kali ini website SABDA menggunakan judul “penggunaan_alquran.doc” yang tersedia pada halaman website resmi mereka di www.sabda.org/lead/_doc yang dapat di buka oleh siapa saja. Sangat disayangkan SABDA sebagai penyebar alkitab elektronik juga latah menghujat Islam menggunakan Al Quran. Di dalam tulisannya pada artikel itu, judul artikel setelah di download adalah “Penggunaan Al Quran dalam Pelayanan”. Jelas sekali kelihatan disini bahwa mereka berusaha menginjili umat Islam menggunakan mutilasi ayat seperti halnya suradi ben abraham, jansen litik, a. poernama winangun serta abd. yadi yang sampai saat ini takut untuk berhadapan face to face karena malu untuk kalah argument di depan public. Dengan penuh percaya diri, tulisan tersebut dimulai dengan sebuah catatan:
“Kalau seseorang tidak langsung menerima ide-ide di bawah ini, jangan putus asa. Mereka harus mendengarkan hal ini berulang kali dan membiasakan diri dengan konsep ini sebelum mereka akan menerimanya.”
Dengan bahasa yang tendesius ini mereka dengan percaya diri mengklaim bahwa jika dapat menggunakan metode ini dengan baik, maka umat Islam pasti bisa menjadi kristen. Klaim kacangan yang di bangun oleh umat kristen yang awam Islamologi ini sepert biasa menggunakan argument terbitan nehemia centre yang pemimipinnya lari keluar negeri, kita simak argument mereka berikut ini:
Al-Masih adalah Allah
Bertanyalah, “Siapakah yang mempunyai pengetahuan tentang hari kiamat?” Mereka pasti menjawab, “Allah.” Kemudian bacalah Sura 67:26 dengan mereka.
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.’”
Lihat lagi Sura 43:85
“Dan Maha Suci Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
Dan juga Sura 41:47
“Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat [1336]…”
[1336] Maksudnya: Hanya Allah-lah yang mengetahui kapan datangnya hari Kiamat itu.
Tanya lagi. “Siapa yang mempunyai pengetahuan tentang hari kiamat itu?” Sekali lagi mereka akan mengatakan, “Allah.” Terus bacalah Sura 43:61
“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.”
Karena Al-Masih juga mengetahui tentang hari kiamat, maka dengan demikian Al-Masih pasti adalah Allah!
Kita tentu geli mengapa umat kristen mengatakan bahwa Isa al Masih merupakan Allah karena berdasarkan Al Quran. Dengan tegas Al Quran mengatakan bahwa:
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", Padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Q.S. Al Maidah: 72).
Bagaimaan mungkin umat Islam dapat mengatakan bahwa Isa Al Masih adalah Allah padahal ajaran Al Quran bahwa adalah kafir yang mengatakan Isa Al Masih adalah Allah. mereka berargumen bahwa Isa adalah Allah karena yang mengetahui kiamat adalah Allah dan Isa mengetahui tentang kiamat. Argument mereka pada surat berikut ini:
Dan Sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah aku. Inilah jalan yang lurus. (Q.S. Az Zukhruf 61).
Dari zamannya Hamran Ambrie hingga saat ini ternyata argument yang dipakai ya argument yang itu-itu saja. Argument mereka adalah mengenai “Isa memberikan pengetahuan tentang kiamat” yang merupakan terjemahan dari kata “La ‘Ilmun Lissa’ati”. Kata tersebut bermakna memberi pengetahuan (bukan mengetahui) tentang kiamat alam semesta. Nabi muhaamd dalam berbagai hadisnya juga sering memeberikan pengetahuan tentang kiamat, seperti bagaimana tanda-tanda kiamat, bagaimana posisi umat Islam tentang kiamat dan sebagainya. Tetapi umat Islam tidak pernah sekalipun menuhankan nabi Muhammad karena dia memberi ilmu (pengetahuan) tentang kiamat. Sebaliknya menurut Injil, Yesus pun tak mengetahu kapan kiamat itu. Kita bisa simak ayat berikut:
Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri." (Matius 24:36).
Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja." (Markus 13:32)
Yesus sebagai “Anak Tuhan” dan Allah menurut kristen saja tidak mengetahui kapan “latter day” atau kiamat itu datang, sekarang menjadi lucu adalah di dalam Injilsaja tidak ditemukan tentang hal itu, sekarang mereka malah mencari pembenaran di dalam Al Quran tentang hal itu. Kami sarankan agar jika para penginjil ingin menyerang umat islam dan Al Qura, sebaiknya belajar bahasa Arab dan ilmu-ilmu tafsir yang memadai agar tidak disebut sebagai “Jahil Murokkab”. Karena sangat fatal jika memutilasi ayat-ayat seperti model-model Hamran Ambrie, Suradi ben Avraham, Jansen Litik, serta Amos Poernama Winangun.
Artikel: Penggunaan Al Quran dalam Pelayanan” dapat dilihat pada link: http://sabda.org/lead/_doc/penggunaan_alquran.doc secara gratis pada sub domain dari website resmi SABDA.org
NB:
Segera save atau simpan screenshot web tersebut sebelum di hapus oleh adminnya, banyak kasus setelah ada yang "menggerayangi" web hujat Islam tersebut, biasanya oleh adminnya langsung di hapus (http://sabda.org/lead/_doc/penggunaan_alquran.doc)
artikel ini juga di muat pada:
1. http://timfakta.swaramuslim.com/more.php?id=44_0_1_0_M
2. http://swaramuslim.com/fakta/more.php?id=5900_0_16_0_M
Langganan:
Postingan (Atom)
GHOSHOB
Jika di pesantren, istilah ini sudah sangat familiar. Hanya saja pengertian dan prakteknya sesungguhnya ada perbedaan dari makna ghoshob s...
-
"Laa tudrikuhul abshaaru wa huwa yudrikul abshaar. Wahuwal lathiiful khabiir." Faedahnya: 1. Apabila diwirid/dibaca sebanyak 8x se...
-
Pada artikel sebelumnya dengan judul ‘Yudas Bukan Pengkhianat’ telah kita kutip teks-teks Al-Qur’an yang menyatakan bahwa secara umum mu...
-
Sayidah Aminah berkata, “Ketika aku mengandung “Kekasihku” Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, di awal masa kehamilanku, yaitu bulan R...