Minggu, 30 Mei 2010

Ribuan Wanita Inggris Memeluk Islam



Surat kabar Inggris The Times mengatakan: “Ribuan wanita muda Inggris yang tinggal di Inggris Raya telah memutuskan untuk masuk Islam, meskipun rasisme terhadap kaum Muslim di Eropa terus meningkat, dan yang terakhir adalah usaha untuk melarang pemakaian cadar.”

Surat kabar yang diterbitkan di London itu menambahkan dalam sebuah laporannya pada hari Sabtu (29/5) bahwa jumlah orang yang masuk Islam meningkat, sementara pada saat yang sama jumlah penduduk yang melakukan doa setiap minggu di Gereja Inggris berkurang dari 2% penduduk.

Para wanita yang melakukan shalat di Masjid Pusat London di Regent’s Park sekitar dua-pertiga dari kaum Muslim baru yang mengucapkan dua kalimat syahadah, dan sebagian besar dari mereka berumur kurang dari tiga puluh tahun.

Berdasarkan statistik yang terkait dengan jumlah orang yang beralih agama, sebagaimana yang dinyatakan dalam sensus tahun 2001 di Inggris Raya, bahwa setidaknya tiga puluh ribu warga asli Inggris masuk Islam.

Dalam pandangan Kevin Brice, dari Pusat Studi Kebijakan Migrasi di Universitas Swansea, bahwa jumlah ini sekarang mungkin sekitar lima puluh ribu orang, yang sebagian besar perempuan.

Sementara hasil analisis fundamental memperkuat data-data tersebut bahwa sejumlah wanita muda berpendidikan perguruan tinggi, yang mereka berusia antara usia dua puluhan hingga tiga puluhan, bahwa mereka inilah yang lebih banyak memeluk Islam.

Salah seorang wanita yang masuk Islam bernama Joanne Bailey, ia menceritakan tentang kisahnya hingga masuk Islam kepada The Times.

Joanne berkata, ia seorang pengacara dari Bradford dan usianya tiga puluh tahun, bahwa tidak ada seorangpun yang meramalkan bahwa ia akan masuk Islam, dan ia dibesarkan dalam keluarga kelas menengah keatas di Yorkshire Selatan, di mana saya begitu membenci melihat seorang Muslim sebelum saya masuk universitas.

Ia pertama mendapat pekerjaan di sebuah kantor pengacara di kota Barnsley, Yorkshire Selatan, dan pada siang hari di tahun 2004, semuanya kehidupan Joanne mengalami perubahan.

Pada hari itu, saat menikmati secangkir kopi dengan temannya yang Muslim, ia terkesan dengan perkataan temannya tersebut, dimana temannya itu memperhatikan salib kecil dari emas yang tergantung di lehernya, lalu temannya bertanya, “Apakah Anda percaya bahwa al-Masih (Kristus) itu Tuhan?”

Sebenarnya ia memakai salib lebih karena masalah fashion bukan karena alasan agama. Ia menjawab pertanyaan itu bahwa ia tidak percaya dengan itu. Kemudian temannya mualia berbicara tentang agamanya.

Ia menambahkan bahwa awalnya ia meremehkan kata-kata temannya itu, namun demikian kata-katanya itu “begitu membekas dalam pikiran saya”. Setelah beberapa hari, saya mulai mencari di Internet salinan Al-Qur’an.

Joanne melanjutkan, “Saya mengambil cuti untuk memulihkan kekuatan pikiran saya.” Kemudian, saya pergi ke kegiatan sosial perempuan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Muslim Baru di kota Leeds. Dan aku ingat ketika itu saya mundar-mandir di pintu asosiasi, dan saya bertanya pada diri saya sendiri: “Apa yang Anda lakukan di sini?”

Ia menambahkan, saya memperhatikan para wanita di tempat ini semuanya mengenakan pakaian yang menutupi tubuh mereka dari kepala sampai kaki. Dan saya bertanya-tanya: “Apa yang membawa wanita Inggris dengan rambut pirang di usia dua puluh lima (kelas atas) ini berkumpul dengan mereka (kelas bawah)?”

Ia terus berkata, “Namun ketika saya masuk tidak semua wanita adalah sama seperti yang saya bayangkan bahwa mereka para istri yang hidupnya tertekan. Ternyata mereka itu ada yang dokter, dosen, spesialis kepribadian, dan lainnya. Bahkan saya terheran-heran melihat ketenangan dan kedamaian pikiran yang tampak pada mereka.”

Kemudian saya memutuskan untuk masuk Islam, bahwa pertemuan saya dengan para wanita itulah yang meyakinkan saya untuk menjadi wanita Muslim daripada buku yang saya baca.

Joanne melanjutkan ceritanya, dan mengatakan “Setelah empat tahun, yakni pada bulan Maret 2008, ia pun mengucapkan dua kalimat syahadah di rumah salah seorang temannya.”

Dan ia mengatakan, “Bahwa apa yang saya rasakan bertentangan dengan pikiran kebanyakan orang. Sungguh Islam tidak memaksa dan menekan saya, justru Islam memberi kesempatan bagi saya untuk menjadi diri saya sendiri seperti yang saya inginkan. Bahkan sekarang saya lebih tenang dari sebelumnya. Dan saya sangat bersyukur mendapatkan hidayah ini.”

Selasa, 25 Mei 2010

Balada Gadis Keluarga Ekstrimis Hindu Menuju Hidayah Allah



MUMBAI (Berita SuaraMedia) – Ini adalah kisah dari seorang gadis yang, sebelum memeluk Islam, berasal dari sebuah keluarga yang terkait dengan organisasi ekstrimis Hindu, Shiv Sena. Nama gadis itu Kavita, yang kemudian dia ubah menjadi Nur Fatima setelah masuk Islam.

Nur Fatima lahir di Mumbai 30 tahun lalu namun pengetahuannya tentang Islam masih setara dengan seorang anak Muslim berusia lima tahun. Setelah menempuh pendidikan di Mumbai, Fatima melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di Universitas Cambridge. Setelah menyelesaikan gelar masternya, dia mengikuti banyak kursus komputer. Fatima mengaku menyesal telah meraih banyak gelar keduniawian namun belum meraih apa pun untuk akhirat. “Sekarang saya ingin berbuat sesuatu untuk tujuan itu,” ujarnya.

Fatima menikah di Mumbai dan kemudian ikut suaminya pindah ke Bahrain. Pernikahan mereka menghasilkan dua anak laki-laki.

Lingkungan di mana dia tumbuh besar adalah ekstrimis Hindu yang sangat membenci kaum Muslim. Dia baru memeluk Islam setelah menikah namun sudah lama tidak menyukai pemujaan berhala. “Saya ingat bahwa pernah suatu ketika saya memindahkan sebuah berhala ke dalam kamar mandi di rumah saya. Ketika ibu saya menegur, saya mengatakan, ‘Jika benda itu tidak bisa melindungi dirinya sendiri kenapa ibu mencari keberkahan darinya? Kenapa ibu bersujud di hadapannya? Apa yang telah dikabulkannya untuk ibu?’”

“Ada ritual di dalam keluarga kami bahwa ketika seorang gadis menikah, dia mencuci kaki suaminya dan meminum air cucian itu. Tapi saya menolak untuk melakukannya sejak hari pertama yang membuat saya dimarahi habis-habisan,” ujar Fatima.

Ketika mengikuti sekolah untuk pendidikan mengajar, Fatima, yang terbiasa bepergian sendirian dengan mobilnya, mulai mengunjungi Islamic Centre terdekat. “Saya mendengar percakapan mereka dan mengetahui bahwa kaum Muslim tidak memuja berhala. Mereka mencari berkah dari orang lain. Bhagwan mereka adalah orang lain. Saya suka sudut pandang mereka. Kemudian saya tahu bahwa Allah-lah yang mengabulkan segalanya,” ujar Fatima menjelaskan.

Ibadah kaum Muslim membuat Fatima terkesan. Awalnya dia tidak tahu bahwa ibadah itu disebut sholat. “Namun, saya tahu bahwa semua Muslim melakukannya. Pada awalnya, saya kira itu semacam olahraga. Kemudian saya tahu bahwa itu disebut sholat ketika saya mulai mengunjungi Islamic Centre,” ujar Fatima.

Setelah menikah, Fatima pindah ke Bahrain yang banyak membantunya dalam memahami Islam. Karena Bahrain adalah negara Muslim, rumah Fatima dan keluarga barunya dikelilingi oleh kaum Muslim. Dia berteman dengan seorang gadis Muslim. “Dia jarang mengunjungi saya. Saya yang seringkali mengunjungi dia.”

Suatu hari, gadis itu melarang Fatima mengunjungi rumahnya karena saat itu adalah Ramadhan, bulan ibadah. “Ibadah saya terganggu dengan kunjunganmu,” ujar teman baru Fatima itu.

Karena ingin tahu tentang ritual ibadah yang dilakukan kaum Muslim, Fatima menjadi semakin penasaran dan meminta gadis itu untuk tidak melarangnya berkunjung. “Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Saya hanya akan melihat kau melakukan semua itu. Saya tidak akan berkata apa-apa dan akan mendengarkan apa pun yang kau baca,” ujar Fatima. Gadis Muslim itu pun tidak lagi melarangnya.

Ketika melihat gadis itu beribadah, Fatima tertarik untuk menirunya. Kemudian dia menanyakan tentang “olahraga” itu pada si gadis. “Dia memberi tahu saya bahwa mereka menyebutnya Sholat. Dan buku yang biasa dia baca adalah kitab suci Al Qur’an. Saya ingin melakukan semua itu.”

Fatima kemudian sering mengunci diri di dalam kamar dan menirukan apa yang dilakukan oleh temannya itu. Suatu hari dia lupa mengunci pintu dan mulai melakukan sholat ketika suaminya masuk ke kamar. “Dia bertanya apa yang saya lakukan, saya jawab saya sedang sholat,” ujar Fatima. Suaminya berkata, “Apa kau gila? Apa kau tahu apa yang kau katakan itu?” Awalnya Fatima merasa ketakutan, tapi tiba-tiba dia merasakan kekuatan hebat di dalam dirinya yang membuatnya cukup berani untuk menghadapi situasi itu. Dia berteriak bahwa dirinya telah masuk Islam karena itu dia melakukan sholat. Suaminya mulai marah, “Apa?! Apa yang kau katakan? Ulangi kata-katamu!” Fatima pun mengulangi kata-katanya dengan menambahkan tekanan, “Ya! Saya telah masuk Islam.” Mendengar pengakuan itu, suaminya mulai memukuli Fatima. Mendengar ribut-ribut tersebut, saudara perempuan Fatima datang dan berusaha menyelamatkannya. Tapi ketika sang suami menceritakan apa yang terjadi, saudara Fatima pun ikut memukulinya.

Saat peristiwa itu terjadi anak-anak Fatima sedang tidak berada di rumah. Anak tertuanya saat itu berusia sembilan tahun dan adiknya delapan tahun. Namun sejak saat itu dia tidak dibolehkan bertemu dengan siapa pun. Dia dikunci di dalam kamar. Meskipun belum secara resmi memeluk Islam, Fatima telah mengucapkan kata-kata bahwa dirinya telah masuk Islam. Suatu malam ketika dia dikunci di dalam kamar, anak tertuanya masuk dan menangis di dalam pelukannya. “Saya bertanya di mana anggota keluarga yang lain. Dia mengatakan bahwa mereka pergi menghadiri festival relijius dan tidak seorang pun ada di rumah.”

Anaknya meminta Fatima untuk pergi dari rumah karena keluarga mereka ingin membunuhnya. Fatima menenangkan sang anak bahwa hal semacam itu tidak akan terjadi, bahwa mereka tidak akan menyakiti dirinya. Tapi sang anak terus memaksanya pergi. “Saya berusaha membuatnya paham bahwa jika saya pergi saya tidak akan bisa menemui mereka, tapi dia menjawab bahwa saya bisa menemui mereka hanya jika saya masih hidup,” ujar Fatima. Dia pun memutuskan untuk pergi. Kedua anak laki-lakinya mengantarkan kepergian sang ibu dengan air mata. “Saya tidak akan pernah bisa melupakan saat-saat itu. Setiap kali saya mengingat peristiwa itu, saya teringat kaum Muslim yang meninggalkan rumah dan keluarga mereka demi Islam.”

Setelah itu Fatima langsung menuju ke kantor polisi. Dia meminta mereka mengijinkannya beristirahat sejenak sebelum menceritakan apa yang terjadi. Setelah beberapa waktu menenangkan diri, dia memberitahu polisi bahwa dirinya telah meninggalkan rumah dan ingin masuk Islam. Sang polisi yang juga seorang Muslim berjanji akan membantunya sebisa mungkin. Fatima dibawa ke keluarga sang polisi dan memberikannya perlindungan di rumah mereka.

Keesokan paginya, suami Fatima menghubungi kantor polisi untuk meminta bantuan dengan mengatakan bahwa sang istri telah diculik. Namun, polisi memberitahunya bahwa Fatima tidak diculik melainkan pergi atas keinginan sendiri. Dan karena Fatima ingin masuk Islam maka sang suami yang bukan seorang Muslim tidak ada hubungannya lagi dengan dirinya sehingga Fatima tidak bisa pergi bersamanya. Suami Fatima bersikukuh dan mengancam namun Fatima tetap menolak, bahkan mengatakan bahwa sang suami bisa mengambil semua harta benda miliknya namun dia tidak akan pergi bersamanya. Melihat kekerasan hati Fatima, sang suami menulis pernyataan untuk mengambil semua harta benda Fatima.

Setelah itu Fatima pergi ke rumah sakit dan dirawat selama beberapa hari untuk luka-luka yang dideritanya akibat pemukulan oleh suami dan saudaranya itu. Keluar dari rumah sakit, Fatima langsung pergi ke Islamic Centre. Di sana dia mengutarakan niatnya untuk masuk Islam. Seorang pria tua yang sepertinya tinggal di sana mengatakan padanya, “Anakku, sari ini bukan pakaian seorang Muslim. Pergilah, kenakan jilbab dan tutupi dirimu seperti seorang Muslim.” Fatima pun pergi membeli busana Muslim dan kembali ke tempat itu. Kakek itu kemudian memberitahunya bagaimana cara berwudhu. Setelah bersuci, Fatima dibawa ke sebuah ruangan. Di sana pria tua itu menjawab semua pertanyaan Fatima tentang Islam dan menuntunnya membaca dua kalimat Syahadat.

Pemilik Islamic Center itu kemudian mengadopsi Fatima sebagai putrinya dan membawanya pulang ke rumah. Kemudian, dia mengatur pernikahan Fatima dengan sebuah keluarga Muslim.

Impian pertama Fatima adalah untuk melihat rumah Allah dan dia pun telah mewujudkannya dengan menunaikan umroh.

KHASIAT SURAT AL-AN'AM AYAT 103



"Laa tudrikuhul abshaaru wa huwa yudrikul abshaar. Wahuwal lathiiful khabiir."
Faedahnya: 1. Apabila diwirid/dibaca sebanyak 8x setiap hari, dijauhkan dari fitnah serta dimudahkan dalam mencari rejeki. 2. Apabila ingin terhindar dari segala fitnah, baca 9x di waktu siang dan malam hari. 3. Apabila ingin dicintai wanita atau pria, baca sebanyak 100x selama tujuh malam berturut-turut. 4. Apabila ingin kuat dalam perjalanan, baca 3x dengan tidak bernafas pada gula kelapa, lalu dimakan. 5. Apabila ingin terhindar dari kemarahan musuh, baca 70x diwaktu malam, isya Allah musuh akan sadar dan menyesal. 6. Bila ingin selamat dan terhindar dari ilmu sihir, baca 60x pada gelas,piring,atau apa saja yang berwarna putih dan bersih lalu airnya diminum, insya Allah akan terhindar dari guna-guna dan ilmu sihir.
AGAR TERHINDAR DARI ORANG JAHAT
Di samping memelihara ikatan kepada Allah, kita diperintahkan untuk menjaga ikatannya dengan sesama manusia. Allah memerintahkan kita untuk mencintai umat manusia dan saling menolong dalam ketakwaan. Sayangnya, tidak semua manusia baik terhadap diri kita. Sehingga kapanpun dan dimana pun kita selalu dihantui oleh kejahatan manusia. Untuk itu, agar kita diselamatkan dari kejahatan manusia dan hati kita tenteram dari perbuatan mereka, bacalah kalimat dibawah ini sebelum fajar sebanyak 1700x. "YAA ALLAHU YAA QAADIRU YAA QAHHAARU YAA MUNTAQIMU"
SELAMAT DARI BENCANA & PENDERITAAN
Dalam kitab Nihayah juz pertama halaman 371,tertulis doa Nabiyallah hidir seperti di bawah ini. Ibnu Abbas mengatakan, orang yang mewiridkan doa ini sebanyak 3x pada pagi hari dan sore 3x, insyaallah, Allah swt menyelamatkan dari segala yang tidak diharapkan/fitnah. "BISMILLAAHI MAA SYAA-ALLAAHU LAA YASUUQUL KHAIRA ILLALLAAHU. MAA SYAA-ALLAAHU LAA YADHURRU SYARRUN ILLALLAAHU. MAASYAA-ALLAAHU MAA KAANA MIN NI'MATIN FA MINALLAAH. MAA SYAA-ALLAAHU LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAAHI"
OBAT MATA
"LIDAWAA'IL AINI BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM. FALAMMAA AN JAA AL BASYIIRU AL QAA HUU 'ALAA WAJHIHII FARTADDA BASHIIRUN" caranya: tulis dan baca pada piring yang bersih kemudian dilebur dengan air. Setelah itu, airnya diteteskan ke mata yang terkena penyakit, sisanya diminum dan dioleskan ke sekeliling mata dan kepala. Lakukan hal tersebut berulang kali hingga sembuh.

ZIKIR ORANG MUKMIN
Apabila orang mukmin dilanda kesulitan dan kebingungan dalam segala kehidupan, bacalah kalimat singkat di bawah ini. Bacaan tidak terbatas oleh waktu dan jumlahnya. "YAA HAYYU YAA QAYYUUMU BIRAHMATIKA ASTAGHIITSU"

AGAR DIMUDAHKAN SEGALA URUSAN

Ketika Rasulullah sedang mengalami kesulitan, membaca doa: " ALLAHUMMA LAASAHLA ILLAA MAA JA'ALTAHU SAHLAN WA ANTA TAJ'ALUL HAZNA SYI'TA SAHLAN" Bacalah doa ini setiap waktu dan di manapun kita berada. Faedahnya: 1. Agar dimudahkan segala urusan 2. Terhindar dari penderitaan 3.mendapatkan kesuksesan dalam pekerjaan 4.dimudahkan dalam mencari rejeki.

AGAR HUTANG TERBAYAR

Apabila kita banyak hutang dan sangat sulit untuk membayarnya karena penghasilan hanya cukup buat makan, bacalah doa dibawah ini 70x selesai melaksanakan sholat jum'at, insyaallah hutangnya cepat terbayar/lunas.berikut doa nya: "ALLAAHUMMAKFINII BIHALAALIKA 'AN HARAAMIKA WAGHNINII BIFADHLIKA 'AMMAN SIWAAK"

AGAR SELAMAT DARI ANCAMAN

Ketita imam Said bin Musayyab diancam oleh raja Hijaj, beliau membaca doa di bawah ini sehingga selamat dari ancaman tersebut. Doa imam sa'id ibnil masiib: "ALLAAHUMMA ANTAL MALIKU WA ANTA 'ALAA KULLI SYAIIN QADIIRUN WA MAA TASYAAU MIN AMRI YAKUUNU"

DOA KETIKA SAKIT PARAH

Doa ini adalah doa Syeh Abdul aziz daarini yang didapatnya dari Nabiyullah Hidir AS. "ALLAAHUMMA LAA TUSYMIT A'DAA-II WA JA'ALAL QUR'AANAL ADZIIMA SYIFAA-II WA DAWAAII FA-ANAL 'ALIILU WA ANTAL MUDAAWIY"

Rabu, 19 Mei 2010

Jangan Berebut Jabatan Bertameng Al-Qur`an


وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ. قَالَ اجْعَلْنِي
عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat denganku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengannya, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 54-55)

“Pucuk di cinta ulam tiba”, begitulah sebuah ungkapan yang terucap dari seorang yang merasa senang dan bahagia, atas tercapainya suatu dambaan yang selama ini dicari dan dicitakan, bahkan melebihi dari apa yang diduga dan dikira.
Adalah kesempatan emas, yang disenangi oleh banyak manusia, khususnya bagi para pengembara kursi (jabatan), tahta, dan dunia, tatkala dihadapkan pada sebuah tawaran, untuk duduk di atas kursi (jabatan).
Bisa jadi seseorang akan menanggapi dan berkata: “Ini namanya kejatuhan rezeki, susah dicari, dan untuk mendapatkannya sulit sekali. Belum tentu seumur hidup bisa ketemu sekali. Mengapa ditolak?” Atau mungkin…
“Betul, di dalamnya banyak penyimpangan dan pelanggaran. Akan tetapi, kalau bukan kita yang mengubah, lantas siapa lagi?”
“Kalau kursi jabatan diduduki oleh orang luar, siapa yang akan melakukan perubahan, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, mewujudkan syariat Islam dan sistem kenegaraan yang bernuansa Islam?”
“Segala sesuatu itu apabila sudah dikuasai dan dipegang kepalanya, yang lain akan mudah dikendalikan dan dikuasai.”

Penjelasan dan Makna Ayat
وَقَالَ الْمَلِكُ
“Dan raja berkata.”
Al-Imam Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir rahimahullahu (224-318 H), dalam tafsirnya Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an (16/147) menerangkan bahwa raja yang dimaksud dalam ayat ini adalah raja yang terbesar (terkemuka). Ia bernama Ar-Rayyan bin Al-Walid, sebagaimana tersebut dalam sebuah riwayat dari jalan Ali bin Hussain, dari Muhammad bin Isa, dari Salamah, dari Muhammad bin Ishaq. (lihat pula Tafsir Ibnu Katsir 4/275, Ibnu Abi Hatim 8/383)
أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي
“Aku memilih dia sebagai orang yang rapat denganku.”
Maknanya adalah: “Aku jadikan dia sebagai orang khusus dan penasihat khusus bagi diriku.” (Lihat Tafsir Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Al-Baghawi).
Ibnu Abi Hatim, Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi rahimahullahu (wafat pada th. 327 H), menyebutkan dalam kitab tafsirnya (8/386), riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Raja mengatakan kepada nabi Yusuf ‘alaihissalam, “Sesungguhnya aku menyukai agar kamu menemaniku dalam setiap keadaan, kecuali dalam urusan keluargaku. Karena aku tidak suka makan bersamamu.”
Mendengar hal itu, Nabi Yusuf ‘alaihissalam marah sambil berkata: “Aku lebih berhak untuk menjauhkan diri, karena orangtuaku adalah Ibrahim Khalilullah, orangtuaku Ishaq dzabihullah.” Pada riwayat lain dengan lafadz: “Yusuf bin Ya’qub, Nabiyullah bin Ishaq dzabihullah bin Ibrahim Khalilullah.”
فَلَمَّا كَلَّمَهُ
“Maka tatkala telah bercakap-cakap dengannya.”
Al-Imam Al-Baghawi, Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud rahimahullahu wafat th. 516 H, dalam tafsirnya Ma’alimut Tanzil (4/250-251) menyebutkan riwayat dari Wahb (bin Munabbih, pen.). Ketika Nabi Yusuf ‘alaihissalam mendatangi sang raja dan mengucapkan salam kepadanya dengan bahasa Arab. Raja bertanya, “Bahasa apakah ini?” Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjawab, “Ini bahasa pamanku, Nabi Ismail.” Kemudian Nabi Yusuf ‘alaihissalam mendoakannya dengan bahasa Ibrani. Raja bertanya, “Bahasa apakah ini?” Dijawab, “Ini bahasa ayah-ayahku dan raja tidak tahu dengan dua bahasa tersebut.”
Wahb juga bercerita bahwa sang raja (Ar-Rayyan bin Al-Walid) ini menguasai 70 bahasa. Setiap kali berbicara dengan suatu bahasa, Nabi Yusuf menjawabnya dengan bahasa yang sesuai, bahkan menambah dengan dua bahasa, yaitu Arab dan Ibrani. Melihat hal ini, sang raja heran dan terkesan, dalam keadaan Nabi Yusuf masih muda. Usia beliau pada waktu itu baru mencapai 30 tahun. Maka raja mendudukkannya, dan berkata, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:
قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
“Dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami’.”
Sebagian meriwayatkan, bahwa raja ingin mendengarkan secara langsung tentang ta’bir mimpi yang pernah diceritakan sebelumnya (lihat apa yang tersebut dalam surat Yusuf dari ayat 43 sampai 49, pen.).
Setelah mendengar seluruh penuturan Nabi Yusuf ‘alaihissalam, Sang Raja bertanya, “Siapa yang akan mendampingiku dalam hal ini, serta mampu menyelesaikan, mengerjakan, dan mengatur semua urusan ini?”
Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjawab, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
Raja berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.”
Ibnul Jauzi rahimahullahu (588-587 H), menyebutkan dalam tafsirnya riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, makna مَكِينٌ أَمِينٌ adalah “Aku telah mengokohkan, menguatkan, dan memercayakan urusan kekuasaan (kerajaan/negara) kepadamu.”
Al-Muqatil rahimahullahu berkata, makna الْـمَكِينُ yaitu orang yang punya kedudukan (terkemuka). Sedangkan الْأَمِينُ yaitu yang menjaga, memelihara, dan melindungi. (Lihat Zadul Masir 3/439)
Al-Baghawi rahimahullahu menyebutkan dalam tafsirnya, الْـمَكِينُ yaitu berpangkat, berkedudukan. Sedangkan الْأَمِينُ adalah yang dipercaya.
Al-Alusi rahimahullahu dalam kitabnya Ruhul Ma’ani juga menyebutkan, Al-Makin yaitu berpangkat dan berkedudukan yang tinggi. Al-Amin yaitu dipercaya atas segala sesuatu.
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ
Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir).”
Abu Ja’far Ath-Thabari rahimahullahu berkata dalam tafsirnya, kata خَزَائِنُ adalah bentuk jamak dari خَزَانَةٌ artinya tempat menyimpan, yaitu tempat peyimpanan makanan dan harta. Sedangkan الْأَرْضُ alif-lam di sini berfungsi sebagai pengganti idhafah, maknanya خَزَائِنُ أَرْضِكَ yaitu bendahara negaramu (Mesir).
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu juga menyebutkan sebuah riwayat dari jalan Sa’id bin Manshur rahimahullahu ia berkata, “Saya mendengar dari Malik bin Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Negeri Mesir adalah خَزَائِنِ الْأَرْضِ. Tidakkah kalian mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ
yaitu untuk menjaganya (menjadi bendahara negara), dengan menghilangkan mudhaf.
إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
“Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
Al-Imam Ath-Thabari rahimahullahu setelah menyebutkan ayat ini, mengatakan bahwa para ulama berselisih dalam menafsirkannya hingga menjadi tiga pendapat:
Pertama, mereka berpendapat, maknanya adalah: “Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga segala yang telah dititipkan kepadaku. Berpengetahuan terhadap apa yang telah diserahkan/dilimpahkan kepadaku.”
Pendapat ini dinisbahkan kepada sebuah riwayat dari Ibnu Humaid, dari Salamah, dari Ibnu Ishaq.
Kedua, pendapat yang mengatakan, maknanya: “Aku adalah orang yang pandai menjaga segala yang telah dilimpahkan kepadaku. Berpengetahuan terhadap perkara (urusannya).”
Pendapat ini dinisbahkan kepada sebuah riwayat dari jalan Bisyr, dari Yazid, dari Sa’id, dari Qatadah.
Ketiga, ada pula yang mengatakan, maknanya: “Aku adalah seorang yang pandai menjaga untuk hisab/perhitungan (perihal pengeluaran dan pemasukan harta milik negara, pen.), mengetahui beberapa bahasa.”
Pendapat ini disandarkan kepada sebuah riwayat, dari jalan Ibnu Waqi’, dari ‘Amr, dari Al-Asyja’i.
Setelah memaparkan tiga pendapat di atas, beliau berkata: “Menurut kami pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama. Karena ucapan ini terjadi setelah Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengatakan kepada raja: ”Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir).” Bentuk permohonan Nabi Yusuf kepada raja, bahwa ia mampu mengurusi (sebagai bendahara) negara Mesir, menunjukkan, bahkan sekaligus sebagai pemberitaan bahwa beliau memiliki kemampuan dalam hal ini. Makna ini lebih sesuai untuk memaknai kalimat ﭻ ﭼ ketimbang dimaknakan dengan makna sebagaimana yang tersebut pada pendapat ketiga (tersebut di atas).”
Abul Fida Isma’il bin Umar, terkenal dengan sebutan Ibnu Katsir rahimahullahu (700-774 H), berkata setelah menyebutkan dua ayat di atas: “Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang Raja Mesir (Ar-Rayyan bin Al-Walid), setelah memastikan terbebasnya Nabi Yusuf ‘alaihissalam, bersih dan sucinya kehormatan beliau dari apa yang dituduhkan kepadanya. Raja mengatakan sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي
“Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat denganku”, yakni jadikanlah dia sebagai orang khusus dan penasihat khusus bagiku.
فَلَمَّا كَلَّمَهُ
“Maka tatkala telah bercakap-cakap dengan dia” yakni raja telah bercakap-cakap dengannya, mengetahui serta melihat keutamaan, kepandaian, kemahiran, dan kecakapan serta keutamaan dan kesempurnaan pada rupa dan perangainya, berkatalah raja kepadanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
“Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami” yakni, sesungguhnya kamu di sisi kami telah menjadi seseorang yang berkedudukan dan dipercaya. Yusuf ‘alaihissalam berkata, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
”Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
Nabi Yusuf ‘alaihissalam memuji dirinya. Hal ini diperbolehkan bagi seorang yang belum diketahui tentang keadaan dirinya, pada saat yang dibutuhkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa ia adalah orang yang حَفِيظٌ (pandai menjaga), penjaga/bendahara yang dipercaya, عَلِيمٌ (berpengetahuan), yakni memiliki pengetahuan, ketelitian, dan kejelian terhadap segala perkara yang diurusinya. (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/275)
Perlu diketahui sekali lagi, bahwa Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengucapkan ucapan yang mengandung pujian terhadap dirinya tersebut adalah ketika beliau telah mendapatkan kedudukan dan kepercayaan di sisi raja. Bukan serta merta beliau memuji dirinya untuk meraih kedudukan. Tentu hal ini berbeda dengan keadaan para kontestan pemilu atau para politikus yang berkampanye memuji diri dalam rangka meraih kedudukan dan ambisi politiknya.

Faedah
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menyebutkan dalam tafsirnya: “Sebagian ulama berkata, pada ayat ini terdapat dalil tentang diperbolehkannya bagi orang yang baik (shalih), bekerja untuk orang yang buruk (fajir) atau penguasa yang kafir. Dengan syarat, orang tersebut tahu, bahwa segala pekerjaan/tugas diserahkan kepadanya (diberi kekuasaan penuh untuk mengaturnya), dan bukan diatur oleh (orang-orang yang fajir atau penguasa yang kafir tersebut, pen.). Sehingga, ia akan mengatur sesuai dengan apa yang dia kehendaki (untuk hal yang baik dan bermanfaat). Adapun kalau pekerjaan tersebut harus berdasarkan pada kemauan dan kehendak orang yang fajir atau (penguasa yang kafir), menuruti hawa nafsu dan kekufurannya (di bawah aturan mereka), hal yang demikian ini tidak diperbolehkan.
Sebagian mereka berpendapat, perihal ini (bekerja untuk orang buruk/ penguasa yang kafir) khusus hanya untuk Nabi Yusuf ‘alaihissalam saja. Adapun sekarang tidak diperbolehkan. Pendapat yang pertama lebih kuat (boleh dan bukan kekhususan), dengan syarat yang telah disebutkan tadi.
Al-Mawardi rahimahullahu berkata: “Apabila yang berkuasa adalah orang yang zalim, para ulama berbeda pendapat tentang boleh dan tidaknya, seorang untuk bekerja dengannya.
Pendapat pertama, membolehkan. Apabila seorang bekerja dengan baik dan benar (memenuhi hak), pada perkara yang telah diserahkan penuh kepadanya (untuk mengaturnya). Karena dalam ayat ini, Nabi Yusuf ‘alaihissalam bekerja (menerima pekerjaan) dari raja (Fir’aun)1. Pertimbangan ini berdasarkan pekerjaan (kemampuan) beliau dan bukan pada orang lain.
Pendapat kedua, tidak membolehkan. Hal ini berdasarkan adanya bentuk/unsur menolong atas kezaliman yang mereka lakukan. Memuji mereka, dengan meniru (melakukan) perbuatannya.
Para ulama yang berpendapat membolehkan bekerja dengan orang yang zalim, menjawab perihal yang terjadi pada Nabi Yusuf ketika menerima pekerjaan dari Fir’aun, dengan dua jawaban:
Pertama, Fir’aun (raja)-nya Nabi Yusuf waktu itu seorang yang shalih (muslim). Adapun Fir’aun yang membangkang (kafir), adalah Fir’aun (raja)-nya Nabi Musa ‘alaihissalam.
Kedua, hal ini melihat pada kekuasaan dan bukan pada pekerjaannya.”
Al-Mawardi berkata: “Yang benar dalam hal ini adalah merinci masalah menjadi tiga kesimpulan:
1. Boleh bagi orang yang memiliki kemampuan dan keahlian untuk melakukannya. Dengan catatan, tidak ada unsur berijtihad (berpendapat) dalam melaksanakan tugasnya seperti menyalurkan shadaqah dan zakat.
Boleh seseorang menerima pekerjaan dan tugas dari orang yang zalim. Karena, adanya nash/dalil yang menerangkan kepada siapa shadaqah dan zakat itu disalurkan telah mencukupi, sehingga tidak memerlukan lagi adanya ijtihad. (Maka kebebasan bertindak dalam hal ini, telah menjadi cukup baginya [terbebaskan] dari mengikuti perintah [peraturan orang zalim tersebut, pen.]).
2. Keadaan di mana seseorang tidak diperbolehkan untuk bertindak sendiri, adanya keharusan untuk berijtihad (berpendapat, berinisiatif) dalam mengatur urusan, seperti menangani harta rampasan.
Keadaan seperti ini tidak boleh bagi seseorang untuk menerima penugasan dari orang yang zalim. Hal ini dikarenakan ia telah melakukan tindakan yang tidak benar dan berijtihad (berpendapat, mengatur) pada perkara yang tidak berhak untuk melakukannya.
3. Keadaan yang boleh melimpahkan tugas kepada orang yang ahli dan boleh baginya berijtihad, seperti menangani hukum dan pidana. Apabila terjadi kesepakatan dari kedua belah pihak dan tidak ada yang dipaksa, (maka boleh baginya bekerja untuk orang yang zalim, pen.). Namun apabila terjadi pemaksaan, tidak diperbolehkan.
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu dalam Taisir Al-Lathiful Mannan, berkata setelah menyebutkan ayat di atas: “Pada ayat ini terdapat keutamaan ilmu, ilmu syar’i dan hukum, ilmu ta’bir mimpi, ilmu mengatur dan mengurusi negara, serta ilmu kepemerintahannya. Yang menjadi salah satu sebab Nabi Yusuf ‘alaihissalam memperoleh kedudukan yang tinggi di dunia dan di akhirat kelak, yaitu adanya ilmu yang beragam dan banyak (mengetahui berbagai macam ilmu). Hal ini juga menunjukkan bahwa ilmu ta’bir mimpi termasuk bagian dari fatwa. Maka tidak boleh bagi siapapun untuk mena’birkan suatu mimpi dan memastikannya, sebelum mengetahui secara pasti. Sebagaimana halnya (dalam hukum/perkara), tidak boleh bagi siapapun berfatwa dalam hal apapun tanpa ilmu. Karena dalam surat Yusuf ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menamai kemampuan mena’birkan mimpi, dengan nama ilmu, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ
“Dan demikianlah Rabbmu, memilih kamu (untuk menjadi nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebagian dari ta’bir mimpi-mimpi.” (Yusuf: 6)
Ayat ini juga menerangkan, tidak mengapa seseorang memberitakan tentang dirinya, berupa sifat-sifat yang baik dan sempurna, berilmu pengetahuan dan yang lainnya. Hal ini boleh dilakukan selama membawa maslahat, selamat dari berdusta, dan tidak bermaksud untuk memperlihatkan diri (riya’). Seperti yang tersebut dalam ayat: Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 55)

Catatan: Beberapa rujukan yang tersebut di atas, keumumannya dinukil dari Al-Maktabah Asy-Syamilah. Mengingat keterbatasan rujukan yang ada pada kami.
Wallahu a’lam bish-shawab, wal ‘ilmu ‘indallah.

1 Al-Imam Ath-Thabari rahimahullahu berkata dalam tafsirnya, fir’aun (pharao) adalah nama yang dipakai untuk penyebutan raja-raja Mesir zaman dahulu. Sebagaimana Qaisar (Kaisar) atau Hiraql (Heraklius) untuk penamaan raja-raja Romawi. Adapun Persia terkenal penyebutannya dengan Al-Akasirah, bentuk jamak dari Kisra. Sedangkan raja-raja Yaman dikenal penamaannya dengan At-Taba’ah, jamak dari Taba’. Kemudian beliau menyebutkan riwayat dari Muhammad bin Ishaq, bahwa fir’aun-nya Nabi Yusuf adalah raja terkemuka bernama Ar-Rayyan bin Al-Walid, dan masuk Islam (mengikuti ajaran Nabi Yusuf ‘alaihissalam). Sedangkan fir’aun-nya Nabi Musa ‘alaihissalam adalah raja yang bernama Al-Walid bin Mush’ab bin Ar-Rayyan (dan menentang ajaran Nabi Musa ‘alaihissalam)

Riset: Makan Petai Kurangi Resiko Stroke Sampai 40 %




Hasil riset yang ditulis di “The New England Journal of Medicine,” makan petai akan menurunkan resiko kematian karena stroke sampai 40%. Padahal, ia sering diejek karena bau nya

Menyebut namanya saja bagi kebanyakan orang pasti akan bilang gengsi atau tidak suka dengan buah yang satu ini karena aroma dan efek setelah mengkonsumsinya saat ke kamar kecil.
Pete atau Petai di masyarakat kita sudah sangat terkenal, khususnya masyrakat kalangan menengah ke bawah, buah petai memang seringkali menjadi menu makanan sehari-hari.
Banyak diantara kita pastinya belum mengetahui kandungan yang terdapat pada petai. Di dalam petai ternyata memiliki kandungan gula alami yaitu Sukrosa, Glukosa dan Fruktosa dengan kombinasi serat. Kombinasi dari zat tersebut ternyata dapat menghasilkan stamina tenaga yang cepat. Menurut penelitian para ahli, mengkonsumsi dua porsi petai dapat menghasilkan tenaga yang cukup besar selama 90 menit, maka tidak heran apabila banyak atlet olahraga dan pekerja keras menjadikan petai menu favorit mereka.
Ternyata buah petai yang selama ini kerap kali dihina karena aromanya memiliki khasiat penting dalam membantu menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti menghilangkan depresi, PMS (premenstrual syndrome), menyembuhkan anemia, tekanan darah tinggi, luka lambung, kegemukan, sembelit, stroke dan lainnya.
Begitu tingginya zat yangng terdapat di dalam petai, sehingga FDA Amerika mengizinkan perkebunan petai untuk melakukan klaim resmi mengenai kemampuan buah ini untuk menurunkan resiko tekanan darah dan stroke.
Kegemukan
Berdasarkan penelitian dari Institute of Psychology Austria yang menyatakan bahwa tekanan pada saat kerja menyebabkan orang sering meraih makanan yang menenangkan seperti coklat dan keripik. Dengan melihat kepada 5.000 pasien di rumah sakit, peneliti menemukan bahwa kebanyakan orang menjadi gemuk karena tekanan kerja yang tinggi.
Laporan menyimpulkan bahwa, untuk menghindari nafsu memakan makanan karena panik, kita butuh mengendalikan kadar gula dalam darah dengan ngemil makanan tinggi karbohidrat setiap dua jam untuk mempertahankan kadarnya tetap. Maka mengkonsumsi petai adalah solusi yang terbaik.
Selain itu, kalium dalam petai adalah mineral penting yang membantu untuk menormalkan detak jantung, mengirim oksigen ke otak dan mengatur keseimbangan cairan tubuh. Jadi pada saat seseorang mengalami stress kecepatan metabolisme kita akan meningkat, sehingga akan mengurangi kadar kalium dalam tubuh. Hal ini bisa diatasi dengan cara makan petai yang tinggi kalium.
Berdasarkan hasil riset yang ditulis di “The New England Journal of Medicine,” makan Petai sebagai bagian dari makanan sehari-hari akan menurunkan resiko kematian karena stroke sampai 40%.
Nah buah yang sering diejek itu, sekarang diketahui bagaimana bermanfaatnya.

Selasa, 18 Mei 2010

Al-Quran Tentang Awan


Para ahli sains telah mempelajari berbagai macam awan dan mengerti bahwa awan yang menimbulkan hujan (awan hujan) dibentuk menurut sistem yang tertentu dan melalui tahapan-tahapan yang tertentu pula yang terhubung dengan model angin dan mendung yang tetap.
Salah satu dari awan yang menimbulkan hujan adalah yang disebut dengan 'awan cumulonimbus' yang berhubungan dengan badai guruh . Ahli meteor (meteorologis) telah mempelajari bagaimana awan cumulonimbus terbentuk dan bagaimana awan ini menghasilkan hujan, hujan es dan kilat. Mereka menemukan bahwa awan cumulonimbus pergi melalui beberapa tahap berikut untuk menghasilkan hujan:
1) Awan didorong oleh angin: Awan cumulonimbus mulai terbentuk ketika angin mendorong beberapa bagian kecil dari awan (kumulus) menuju daerah di mana awan-awan berkumpul.
2) Penggabungan: Kemudian awan yang kecil bergabung bersama membentuk awan yang lebih besar.
3) Penumpukan: Ketika awan yang kecil bergabung bersama, ??updraft?? di dalam awan yang lebih besar meningkat. ??Updraft?? yang dekat dengan pusat awan lebih kuat dari pada updraft yang ada di tepi. Updraft ini menyebabkan tubuh awan berkembang secara vertikal (ke atas), maka awan-awan bertumpuk-tumpuk. Perkembangan secara vertikal ini menyebabkan tubuh awan merentang kepada daerah-daerah yang lebih dingin dari atmosfer di mana tetesan hujan dan butiran es terbentuk dan mulai berkembang makin besar. Ketika tetesan air dan butiran es ini menjadi beban yang sangat berat bagi updraft, mereka mulai jatuh dari awan sebagai hujan, butiran es, dan sebagainya.
Allah berfirman dalam Al-Quran:
Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya.Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.
(Quran 24:43)

Ahli meteorologi mengetahui detail dari pembentukan awan, struktur, dan fungsinya baru-baru ini saja dengan menggunakan peralatan seperti pesawat, satelit, komputer, balon udara, dan sebagainya untuk menyelidiki tentang angin dan arahnya, untuk mengukur kelembaban dan variasinya, dan untuk menentukan level dan variasi tekanan atmosfer.



Awan Cumulonimbus dilihat dari udara
Ayat berikut ini, setelah menyebutkan tentang awan dan hujan, berbicara mengenai hujan es dan kilat:
Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya.Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.
(Quran 24:43)

Ahli meteorologi menemukan bahwa awan cumulonimbus ini, yang menghujankan es, mencapai ketinggian 25.000 sampai dengan 30.000 kaki (4.7 s.d. 5.7 mile), bagaikan pegunungan, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran: Dan Dia mengirimkan butiran-butiran es dari gunung (awan) di langit ... (Quran 24:43)
Ayat ini mungkin akan membangkitkan sebuah pertanyaan. Mengapa ayat tersebut menyatakan ... 'kilatnya' ketika menyatakan tentang hujan es? Bukankah ini berarti bahwa butiran es adalah faktor terbesar yang menyebabkan kilat? Mari kita lihat apa sebuah buku yang berjudul 'Meteorologi Hari Ini (Meteorology Today)', yang menyatakan tentang ini. Buku ini mengatakan bahwa awan menjadi bermuatan listrik ketika butiran es jatuh melalui sebuah daerah di awan yang sangat dingin dan berbentuk kristal es. Ketika butiran cair bertumbukan dengan butiran es, mereka membeku ketika bersentuhan dan melepaskan panas yang terpendam. Ini untuk menjaga permukaan butiran es tetap lebih hangat dari pada kristal es di sekitarnya.

Ketika butiran es bersentuhan dengan kristal es, fenomena penting terjadi. Elektron mengalir dari objek yang lebih dingin menuju objek yang lebih hangat. Oleh karenanya butiran es terbebani elektron negatif. Efek yang sama terjadi ketika tetesan yang sangat dingin bersentuhan dengan butiran es dan ??tiny splinter of positively charged ice break off?? Pemicu api ini, yang terbenani partikel bermuatan positif kemudian terbawa menuju bagian awan yang lebih tinggi oleh ??updraft??. Butiran es, yang tertinggal dengan beban negatif, jatuh menuju bagian bawah dari pada awan, sehingga bagian bawah awan menjadi bermuatan negatif. Beban muatan negatif ini kemudian ditembakkan ke bumi sebagai kilat. Kita bisa menyimpulkan dari keterangan ini bahwa butiran es adalah faktor utama yang menimbulkan kilat.


Informasi tentang kilat ini hanya ditemukan baru-baru ini saja. Sampai dengan 1600 abad, ide Aristotle tentang meteorologi masih dominan. Sebagai contoh, dia menyatakan bahwa atmosfer berisi dua macam uap, basah dan kering. Dia juga mengatakan bahwa guntur adalah suara benturan antara uap kering dengan awan yang berdekatan, dan kilat adalah kobaran pembakaran dari uap kering yang tipis. Ini adalah ide-ide pada bidang meteorologi yang dominan pada masa Al-Quran diturunkan 1400 tahun yang lalu.

Senin, 17 Mei 2010

Rahasia Tersembunyi Metode Mencari Uang di Internet Akhirnya Diungkap...



Jika Anda Bisa Mengetik dan Mengakses Internet, Anda Sudah Memiliki Syarat yang Cukup Untuk Menghasilkan Uang Melimpah dari Internet... Hanya Jika Anda Tahu Caranya!











GHOSHOB

  Jika di pesantren, istilah ini sudah sangat familiar. Hanya saja pengertian dan prakteknya sesungguhnya ada perbedaan dari makna ghoshob s...