Minggu, 09 Mei 2010

KEAJAIBAN AL QUR'AN


Abdurrazaq Nawfal, dalam Al-Ijaz Al-Adabiy li Al-Qur'an Al-Karim yang terdiri dari tiga jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan dalam Al quran, yang dapat kita simpulkan secara sangat singkat sebagai berikut.

A. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Beberapa contoh, di antaranya:

· Al-hayah (hidup) dan al-mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali;

· Al-naf' (manfaat) dan al-madharrah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali;

· Al-har (panas) dan al-bard (dingin), masing-masing 4 kali;

· Al-shalihat (kebajikan) dan al-sayyi'at (keburukan), masing-masing 167 kali;

· Al-Thumaninah (kelapangan/ketenangan) dan al-dhiq (kesempitan/kekesalan), masing-masing 13 kali;

· Al-rahbah (cemas/takut) dan al-raghbah (harap/ingin), masing-masing 8 kali;

· Al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk definite, masing-masing 17 kali;

· Kufr (kekufuran) dan iman (iman) dalam bentuk indifinite, masing-masing 8 kali;

· Al-shayf (musim panas) dan al-syita' (musim dingin), masing-masing 1 kali.

B. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya.

· Al-harts dan al-zira'ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali;

· Al-'ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing 27 kali;

· Al-dhallun dan al-mawta (orang sesat/mati [jiwanya]), masing-masing 17 kali;

· Al-Qur'an, al-wahyu dan Al-Islam (Al-Quran, wahyu dan Islam), masing-masing 70 kali;

· Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-masing 49 kali;

· Al-jahr dan al-'alaniyah (nyata), masing-masing 16 kali.

C. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.

· Al-infaq (infak) dengan al-ridha (kerelaan), masing-masing 73 kali;

· Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali;

· Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/al-ahraq (neraka/ pembakaran), masing-masing 154 kali;

· Al-zakah (zakat/penyucian) dengan al-barakat (kebajikan yang banyak), masing-masing 32 kali;

· Al-fahisyah (kekejian) dengan al-ghadhb (murka), masing-masing 26 kali.

D. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.

· Al-israf (pemborosan) dengan al-sur'ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali;

· Al-maw'izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan (lidah), masing-masing 25 kali;

· Al-asra (tawanan) dengan al-harb (perang), masing-masing 6 kali;

· Al-salam (kedamaian) dengan al-thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali.

E. Di samping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus.

(1) Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni), jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain, kata yang berarti "bulan" (syahr) hanya terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.

(2) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada "tujuh." Penjelasan ini diulanginya sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah 29, Al-Isra' 44, Al-Mu'minun 86, Fushshilat 12, Al-Thalaq 12, Al-Mulk 3, dan Nuh 15. Selain itu, penjelasannya tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat.

(3) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul (rasul), atau nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.

(4) Kata lautan (al bahar) disebutkan 32 kali sedangkan kata daratan (al bar) disebutkan 13 kali. Jika di jumlahkan perkataan yang berkaitan tentang "lautan" dan "daratan" adalah 45 perkataan. Seperti pengiraan berikut :

Lautan : 32/45 X 100% = 71.11111111%
Daratan : 13/45 X 100% = 28.88888888%

Kini telah kita ketahui peratusan bagi "Lautan" dan "Daratan" di dalam dunia ini sebagaimana yang di sebutkan di dalam kitab sici Al Quran.

(5) [Quran 3:59]
Sesungguhnya persamaan "Isa" di sisi Allah seperti persamaan "Adam".
Kata "Isa" dan "Adam" sama-sama muncul 25 kali.

(6) [Quran 7:176]
"anjing" dengan "kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami" Maka persamaannya ialah :
bahwa "kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami" (al-qawmul-ladzi_na kadz-dabu_ bi a_ya_tina_) dipersamakan/ diibaratkan kelakuannya seperti seekor
"anjing" (kalb). jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya, atau jika kamu membiarkannya, ia menjulurkan lidahnya juga."Anjing" (kalb) tertulis 5 kali sebagaimana kata "Kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami" (al-qawmul-ladzi_na kadz-dabu_ bi a_ya_tina_) tertulis 5 kali juga

(7) [Quran 29:41]
Persamaan "orang-orang yang mengambil untuk mereka wali-wali selain daripada Allah" (alladzi_nat-takhadzu_ mindu_nil-laahi), ialah seperti persamaan "laba-laba" (al-'ankabu_t). Laba-laba (al-'ankabu_t) tertulis 2 kali, "Orang-orang yang mengambil untuk mereka wali-wali selain daripada Allah" (alladzi_nat-takhadzu_ mindu_nil-laahi) tertulis 2 kali juga.
(8) [Quran 62:5]
Persamaan "orang-orang yang dibebankan dengan Taurat",kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti persamaan "seekor keledai" yang memikul buku-buku yang tebal. "Keledai" (al-hima_r) dan "orang-orang yang dibebankan
dg taurat" (al-ladzi_na humilut-tawra_t) sama-sama muncul di ayat ini, yaitu hitungannya sama-sama satu kali muncul.

-- Berkaitan dengan pertidaksamaan matematik --

Dalam Quran, dijumpai hint tentang pertidaksamaan ketika ada ayat yang menyatakan "Adakah sama antara A dan B (hal yastawi_ A wa B?), sebagaimana ditemukan dalam beberapa ayat. Tentunya, kita akan berfikiran
bahwa tentu saja kemungkinan (probabilitas) ketidaksamaan jumlah antara A dan B adalah sangat besar, akan tetapi anehnya, jika kita temukan ayat yang menyatakan ketidaksamaan antara A dan B, diketahui bahwa perbedaan jumlah antara A dan B adalah TEPAT SATU.

Contoh:

[Quran 4:95]
Tidaklah sama antara "mu'min yang duduk [yang tidak ikut berperang] yang tidak mempunyai "uzur"" (al-qa_idu_n) dengan "orang-orang yang berjihad di
jalan Allah" (al-muja_hidu_n) ...
Jumlah kemunculan (al-qa_idu_n) / (al-qa_idi_n) = 4
Jumlah kemunculan (al-muja_hidu_n) / (al-muja_hidi_n) = 3

[Quran 6:50]
.. Apakah sama "orang yang buta" (al-a'ma_) dengan "orang yang melihat" (al-bashi_r)? Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?

Jumlah kemunculan (al-a'ma_) = 8
Jumlah kemunculan (al-bashi_r) = 9

[Quran 13:16]
.. Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah "gelap gulita" (adz-dzuluma_t) dan "terang benderang" (an-nu_r) ...

Jumlah kemunculan (adz-dzuluma_t) = 14
Jumlah kemunculan (an-nu_r) = 13

Ada sedikit kejanggalan terhadap fenomena ini di Quran 5:100, yang dijelaskan sebagai berikut:

[Quran 5:100]
.. :Tidak sama "yang buruk" (al-khabi_ts) dengan"yang baik" (at-thayyib), meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, ...

Catat akhir ayat di atas, bahwa:
"banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, ... "

Ternyata, jumlah kata (al-khabi_ts) dengan (at-thayyib" adalah SAMA, yaitu 7 kali kemunculan. Penjelasan dari kejanggalan ayat ini ditemukan di Quran 8:37 yang menyatakan:

[Quran 8:37]
Supaya Allah memisahkan yang buruk daripada yang baik, dan "supaya Dia meletakkan yang buruk, sebahagiannya di atas sebahagian yang lain", ...
Di ayat ini, dikatakan bahwa Dia meletakkan "yang buruk" (al-khabi_ts) sebahagian di atas sebahagian yang lainnya, sehingga jumlahnya seakan-akan bertambah (seakan-akan sama, yakni sama-sama muncul 7 kali).

Demikianlah sebagian dari hasil penelitian yang kita rangkum dan kelompokkan ke dalam bentuk seperti terlihat di atas.

Kedua adalah pemberitaan-pemberitaan gaibnya. Fir'aun, yang mengejar-ngejar Nabi Musa., diceritakan dalam surah Yunus. Pada ayat 92 surah itu, ditegaskan bahwa "Badan Fir'aun tersebut akan diselamatkan Tuhan untuk menjadi pelajaran generasi berikut." Tidak seorang pun mengetahui hal tersebut, karena hal itu telah terjadi sekitar 1200 tahun S.M. Nanti, pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1896, ahli purbakala Loret menemukan di Lembah Raja-raja Luxor Mesir, satu mumi, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir'aun yang bernama Maniptah dan yang pernah mengejar Nabi Musa a.s. Selain itu, pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut-pembalut Fir'aun tersebut. Apa yang ditemukannya adalah satu jasad utuh, seperti yang diberitakan oleh Al-Quran melalui Nabi yang ummiy (tak pandai membaca dan menulis itu). Mungkinkah ini?

Setiap orang yang pernah berkunjung ke Museum Kairo, akan dapat melihat Fir'aun tersebut. Terlalu banyak ragam serta peristiwa gaib yang telah diungkapkan Al-Quran dan yang tidak mungkin dikemukakan dalam kesempatan yang terbatas ini.

Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya. Banyak sekah isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Al-Quran. Misalnya diisyaratkannya bahwa "Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedang cahaya bulan adalah pantulan (dari cahaya matahari)" (perhatikan QS 10:5); atau bahwa jenis kelamin anak adalah hasil sperma pria, sedang wanita sekadar mengandung karena mereka hanya bagaikan "ladang" (QS 2:223); dan masih banyak lagi lainnya yang kesemuanya belum diketahui manusia kecuali pada abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir ini. Dari manakah Muhammad mengetahuinya kalau bukan dari Dia, Allah Yang Maha Mengetahui!

Kesemua aspek tersebut tidak dimaksudkan kecuali menjadi bukti bahwa petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh Al-Quran adalah benar, sehingga dengan demikian manusia yakin serta secara tulus mengamalkan petunjuk-petunjuknya.


Ketika Suami Istri Bersalaman


RASULULLAH saw bersabda, yang bermaksud: "Seorang isteri yang bermuka muram

di hadapan suaminya, maka ia dalam kemurkaan Allah hingga ia dapat membuat

suasana yang riang gembira kepada suaminya dan memohon kerelaannya."

Begitulah besarnya harga senyuman seorang isteri kepada suaminya karena

senyuman akan mencetuskan suasana kegembiraan yang sebenarnya dikehendaki

suami ketika pulang dalam keletihan.

Muka yang masam bukan saja akan menimbulkan kemarahan suami, malahan

menyebabkan Allah turut murka dan kemurkaan Allah itu berkekalan hingga

isteri berjaya mengembalikan suasana gembira serta memohon keampunan

daripada suami.

Sesungguhnya keredaan Allah terletak pada keredaan suami. Justeru, apabila

suami pulang segeralah bukakan pintu, persilakan masuk dengan penuh hormat

dan ciumlah tangan suami sebagai tanda hormat serta meminta maaf, walaupun

isteri merasakan tidak berbuat sebarang kesalahan pada hari itu.

Sebuah hadis ada menyebut bahawa apabila seorang suami bersalaman dengan

isterinya, maka gugurlah segala dosa dari celah-celah jari mereka berdua.

Andai mempunyai anak-anak, ajarlah mereka itu untuk selalu bersalaman dengan

ayahnya kerana kelaziman akan memupuk rasa kasih dan hormat anak-anak kepada

orang tua.

Kebahagiaan rumahtangga terletak pada akhlak dan budi pekerti isteri.

Biarpun seorang isteri itu tidak cantik tapi jika cukup sempurna layanannya

terhadap suami dan berakhlak pula, tentu ia akan menjadi penghibur dalam

rumahtangga.

Oleh itu wahai isteri, hendaklah berlomba-lomba untuk menjadi seorang isteri

yang solehah, yang bertakwa, berakhlak mulia dan taat kepada suami.

Rasulullah bersabda, yang bermaksud: "Sungguh-sungguh memintakan ampun untuk

seorang isteri yang berbakti kepada suaminya, iaitu burung-burung di udara,

ikan-ikan di air dan malaikat di langit selama dia sentiasa dalam kerelaan

suaminya."

Jika seorang isteri mengharap cintanya berbalas, maka banyakkan mencari

keredaan Allah melalui keredaan suami.

Sucikanlah 4 hal dengan 4 perkara :

"Wajahmu dengan linangan air mata keinsafan, Lidahmu basah dengan berzikir

kepada Penciptamu, Hatimu takut dan gementar kepada kehebatan Rabbmu,

...dan dosa-dosa yang silam di sulami dengan taubat kepada Dzat yang

Memiliki

Jumat, 07 Mei 2010

MUQADDIMAH Surat "Al Faatihah"


MUQADDIMAH Surat "Al Faatihah" (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surat-surat yang ada dalam Al Quraan dan termasuk golongan surat Makkiyyah. Surat ini disebut "Al Faatihah" (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al Quraan. Dinamakan "Ummul Quraan" (induk Al Quraan) atau "Ummul Kitaab" (induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al Quraan, dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap sembahyang. Dinamakan pula "As Sab'ul matsaany" (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sembahyang. Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Quraan, yaitu : I. Keimanan : Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu ni'mat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala ni'mat yang terdapat dalam alam ini. Diantara ni'mat itu ialah : ni'mat menciptakan, ni'mat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata "Rab" dalam kalimat "Rabbul-'aalamiin" tidak hanya berarti "Tuhan" atau "Penguasa", tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala ni'mat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan Penumbuahn oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu : "Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin" ( hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan). Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Yang dimaksud dengan "Yang Menguasai Hari Pembalasan" ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap ni'mat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. "Ibadat" yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat not 6. 2. Hukum-hukum : Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "Hidayah" disini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran. 3. Kisah-kisah : Kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Quraan memuat kisah-kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang. Yang dimaksud dengan orang yang diberi ni'mat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin (orang- orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa' (orang- orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh). "Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat," ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam. Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat dalam ayat- ayat Al Quraan pada surat-surat yang lain.

Al Faatihah


Kalau saya tidak salah, al Faatihah itu sekitar 142 huruf (Bismillah dan huruf tasydidnya dihitung). Kalo kita bicara poin dengan bilangan pengali 10 (asumi setiap kebaikan dikali 10 kebaikan), maka poin membaca Surah al Faatihah itu sebanyak 1420. Itu kalo kita baca sendirian. Gimana kalo kita kumpulin anak-anak kita dan istri kita? Seisi rumah saya: Istri saya, Maemunah. Dan anak-anak saya: Wirda, Qumii, Kun, Haafidz. Jumlahnya minimal 5 orang, dengan saya jadi 6 orang. Jika saya minta semua baca al Faatihah, maka setiap orang akan dapat: 1420 x 6 = 8.520 poin. Poin ini adalah poin minimal. Sebab selain Rasulullah menjanjikan pahala 10 untuk setiap hurufnya, Rasulullah pun masih menjanjikan dikali ilaa sab'i mi-ati dhi'fin; dikali sampe 700x lipat. Kalo dikali 700x lipat, maka poin kebaikannya mencapai: 596.400 poin kebaikan. Untuk pekerjaan baca al Faatihah yang terbilang mudah, poin kebaikannya banyak banget. Itu belom lagi pahala-pahala yang lain. Di mana Al Faatihah adalah doa, puji-pujian, dan macam-macam lagi fadhilah membaca al Faatihah.

Apa maksudnya saya awali dengan hitung2an poin?
Gini, saban hari Jum'at, adalah hari rayanya ummat Islam. Setiap Jum'at, seluruh laki2 yang baligh lagi berakal, diwajibkan shalat Jum'at. Beruntunglah di Indonesia ada kebiasaan pengumuman2 dulu sebelomnya khotib naik mimbar. Di antara pengumuman biasanya imam/DKM masjid meminta kita2 peserta shalat Jum'at untuk mendoakan si Fulan dan si Fulan, lalu meminta membacakan al Faatihah.

Nah, jika kita sepakati menyuruh anak-anak kita dan istri kita maka kita dapat pahalanya, dan bahkan semuanya dapat pahala juga, kiranya demikian pulalah yang trjadi jika kita meminta dibacakan al Faatihah jelang khotib naik mimbar khutbah. Sebanyak yang hadir dan sebanyak yang baca, sebanyak itu pula kita dapat perkalian poin kebaikannya. Subhaanallaah kan? Ada yang mau iseng ngitung? Coba aja. Apalagi kalo masjidnya masjid yang gede-gede, yang sekali Jum'atan bisa seribu, 5rb atau bisa sampe 10rb dan 100rb jamaah macam Istiqlal. Widdiyyyy.... Subhaanallaaah dah banyaknya.
Dan mengajak (baca: meminta) jamaah Jum'atan membaca al Faatihah itu gampang. Cukup dekati DKM masjid. Bahkan cukup sms jika kenal dg DKM nya. Lalu berilah sedikit kebaikan. Misalnya derma berapa gitu untuk masjid dan merbotnya. Habis itu minta dah dibacakan al Faatihah... InsyaAllah pasti dibacakan. Ga ada dermanya juga kalo minta didoakan mah, insyaAllah didoakan.

So, jangan lewatkan saban Jum'at, titip sedekah dan permintaan doa dan pembacaan al Faatihah lewat suara Imam atau DKM masjid. Dan segera dapatkan limpahan poin kebaikan yang ga kira-kira banyaknya. InsyaAllah poin-poin kebaikan ini "bisa ditukar" oleh Allah sebagai doa kita hingga ia menjadi kemudahan bagi setiap urusan kita, kesembuhan bagi penyakit kita, dan wasilah amal saleh yang baik sekali untuk pengabulan doa-doa kita. Yah, jika kita selama ini yang dikomandoi terus sama DKM agar membacakan al Faatihah dan doa untuk si Fulan dan si Fulan, sekarang sesekali boleh dong gantian yang mengomando jamaah semua lewat permintaan kita kepada imam/DKM masjid.

Salam, Yusuf Mansur.

GHOSHOB

  Jika di pesantren, istilah ini sudah sangat familiar. Hanya saja pengertian dan prakteknya sesungguhnya ada perbedaan dari makna ghoshob s...