Kamis, 29 April 2010

ISA AL-MASIH 6/7 : Yesus Wafat di Kashmir


ISA AL-MASIH
Part 6/7
Yesus Wafat di Kashmir

Oleh : Armansyah

--------------
Lanjutan ...
--------------

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Sumber utama penulisan : Yesus Wafat di Kashmir
Karya : Andreas Faber Kaiser 1976
Penerbit : Darul Kutubil Islamiyah, Gerakan Ahmadiyah Indonesia
Cetakan Pertama tahun 2002
Ditulis ulang dengan beberapa penambahan dan revisi teks disana-sini oleh Armansyah

Sebagaimana telah diketahui, Pontius Pilatus, Gubernur Yudea, pada waktu penyaliban, berbantah mengenai hukuman mati terhadap Yesus.

Ayat-ayat berikut ini dari Yohanes dan Matius yang diikhtisarkan di dalam Bible mengenai upaya Pilatus mengatakan:

"Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: Jikalau engkau membebaskan dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar". (Yahya/Yohanes 10:12).

"Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya dan berkata: Jangan engkau mencampuri perkara orang yang benar itu, sebab karena dia aku sangat menderita dalam mimpiku tadi malam". (Matius 27:19).

"Ketika pilatus melihat bahwa segala usahanya akan sia-sia, maka timbullah huru-hara, kemudian ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: Aku suci dari darah orang yang benar ini; hal itu urusan kamu sendiri" (Matius 27:24).

Terbukti Pilatus tidak menginginkan kematian Yesus, tetapi orang-orang Yahudi menyatakan, bahwa Yesus seorang pemberontak yang ingin menjadi raja, kemudian mereka memperingatkan Pilatus bahwa, apabila dia membebaskan Yesus, maka dia sendiri yang akan dinyatakan khianat terhadap Kaisar. Pilatus tidak berani membahayakan pangkatnya yang tinggi itu, dan memang tidak pantas baginya menjadi musuh Kaisar dengan cara apa pun, yang orang-orang Yahudi pasti segera menyatakan itu apabila ia membebaskan Yesus. Kemudian apa yang dia harus perbuat?

Berbeda sekali dengan apa yang dikehendaki orang-orang Yahudi, dia hanya memilih satu-satunya jalan untuk melaksanakan hukuman mati tersebut dengan demikian rupa, yakni, Yesus sedapat mungkin harus hidup terus tanpa diketahui oleh para musuhnya. Sehubungan dengan ini, suatu hal yang sangat menarik hati bahwa dia mempersiapkan pelaksanaan penyaliban tersebut yang benar-benar dekat kepada saat mulainya "Hari Sabath"-nya kaum Yahudi, yaitu – Hari Jum'at sebelum matahari terbenam--, dimana menurut undang-undang Yahudi, para penjahat tidak boleh dibiarkan tergantung di kayu salib apabila Hari Sabath mulai tiba.

Mengingat hal itu, maka kedua penjahat yang disalib bersama Yesus, mereka masih hidup ketika para prajurit mematahkan kaki-kaki mereka kemudian menurunkannya dari kayu salib., maka tidak mungkin pula pada saat itu Yesus sudah wafat. Juga perlu dicatat, bahwa Yusuf Arimathea, seorang saudagar kaya dan murid Yesus yang tidak kentara, tiba-tiba muncul di tempat penyaliban tersebut, dan, dengan izin Pilatus, ia mengambil Yesus untuk dibawa ke tempat pemakaman pribadinya.

Demikian perincian-perincian yang cocok dengan kemungkinan bahwa Yesus masih tetap hidup setelah mengalami ujian berat di atas tiang salib.

Sekarang marilah kita periksa lagi bukti-bukti yang lebih mendetail.

Di dalam Kitab Ibrani 5:7, Yesus menunjukkan: "Dalam Hidupnya sebagai manusia, …. Ia memanjatkan do'a dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, Yang sanggup menyelamatkannya dari maut, dan karena kesalehannya, ia telah didengarkan". Ini dapat menuntaskan perkataan, bahwa Yesus tidak wafat dikayu salib; tetapi untuk memperkuat bukti, kita harus melihat sumber lainnya.

Pertamakali harus kita renungkan: Yesus tidak lama tergantung di kayu salib, beliau dipaku dan diturunkan pada hari itu juga setelah dilaksanakannya hukuman tersebut, sebagaimana diterangkan di atas, bahwa si tersalib harus segera diturunkan sebelum Hari Sabath tiba.

Sekarang, penyaliban sudah dipastikan bukanlah suatu penyebab kematian yang cepat, tetapi hal itu adalah suatu penyiksaan yang berkepanjangan sampai berhari-hari. Kematian semacam itu bisa terjadi akibat kelaparan, haus, cuaca buruk atau diserang burung-burung pemakan bangkai atau juga diterkam oleh binatang-binatang buas lainnya.

Kadang-kadang kematian semacam itu dapat dipercepat dengan mematahkan kaki-kaki si terhukum; dan di waktu-waktu yang lain, pelaksanaan hukuman itu hanya menggantungkan siterhukum di atas kayu salib lalu dianggap selesai dan kemudian si korban itu segera diturunkan kembali dan begitulah dia diperbolehkan hidup lagi.

Apabila luka-luka akibat penyaliban itu dirawat dengan seksama, maka luka-luka tersebut bisa sembuh seperti sedia kala.

Harus diingat! Yesus disalib bersama dua orang penjahat, hal ini dapat kita baca di dalam Injil Lukas 23:30-40, dimana mereka sama-sama menderita seperti Yesus:

"Salah seorang penjahat yang disalib itu menghujat dia, katanya: Jika engkau Kristus, selamatkanlah dirimu dan kami.
"Tetapi yang seorang lagi menegur dia, katanya: Tidak takutkah engkau kepada Tuhan, sedangkan engkau mendapat hukuman yang sama?

Seperti telah dijelaskan, Yesus dan para pencuri itu telah diturunkan dari kayu salib pada waktu yang sama dan pada saat itu pula para pencuri itu masih hidup. Jadi, mereka pun sama-sama mengalami penderitaan seperti halnya yang dialami Yesus; namun ada yang tidak sama karena Yesus nampak sudah wafat, terutama tidak lama setelah beliau "berteriak dengan keras sekali, katanya: "Eli! Eli! Lama sabakhtani! Artinya: "Tuhan! Tuhan! Mengapa Kau tinggalkan daku!"

Hal lain yang harus diingat bahwa, Bible memberitahukan kepada kita, ketika Yusuf Arimathea, mengajukan permohonan kepada Pilatus untuk meminta jasad Yesus, Pilatus, orang yang sangat berpengalaman, tahu bahwa kematian akibat penyaliban pasti memakan waktu yang cukup lama. "ia merasa heran kalau Yesus ketika itu sudah wafat" (Markus 15:44).

Lagi pula, sewaktu seorang prajurit Romawi menombak lambung Yesus dengan lembing, untuk mengetahui apakah beliau sudah wafat atau belum, "tiba-tiba mengalirlah darah dan air dari luka itu" (Yohanes 19:34).

Jika Yesus sudah wafat, maka hanya darah kentallah yang pasti keluar dari luka itu.

Hal ini erat sekali hubungannya dengan suatu hal yang sangat menarik, yaitu penemuan-penemuan mutakhir tentang Kain Kafan yang ada di Turin yang terkenal itu, dimana tubuh Yesus dibungkus atau dikafani dengan kain itu ketika beliau dibawa ke pemakaman yang berbentuk goa.

Sejak tahun 1969, Professor Max Frie, seorang ahli kriminologi yang termasyhur dan menjabat Direktur Laboratorium Kepolisian Zurich, telah memeriksa "Kain Kafan" dari Turin untuk meneliti serbuk-serbuk yang melekat padanya, dan, setelah bertahun-tahun mengadakan penganalisaan secara seksama dan teliti dengan menggunakan peralatan modern mutakhir, akhirnya dapat menemukan gambaran yang mendetail mengenai sejarah dan asal-usul Kain Kafan tersebut. Khususnya dia telah menemukan benih-benih yang sangat kecil yang terdiri dari biji-bijian yang sudah memfosil.

Setelah mengadakan pengujian secara teliti, ternyata biji-bijian tersebut berasal dari tumbuh-tumbuhan yang hanya terdapat di Palestina saja sekitar 20 abad yang lampau.

Dari hasil penemuan ini dia kini tidak ragu-ragu lagi akan keaslian Kain Kafan tersebut yang juga kain itu membawa bekas biji-bijian dari tumbuhan-tumbuhan di daerah sekitar Constantinople dan Laut Tengah. Biji-bijian yang terdiri dari limabelas macam tumbuh-tumbuhan yang berlainan telah ditemukan juga di Kain Kafan itu, yakni, enam berasal dari daerah Palestina, satu dari daerah Constantinople, sedangkan yang delapan macam lagi berasal dari daerah sekitar Laut Tengah.

Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut yang dimulai tahun 1969 dan atas perintah Gereja, dicatat oleh suatu press telah disebarkan permulaan tahun 1976 mengatakan:

"Setelah diadakan penelitian selama tujuh tahun mengenai Kain Kafan yang membungkus tubuh (Kristus), banyak para sarjana mendapat kesimpulan bahwa Yesus telah dibawa ke makam dalam keadaan masih hidup. Para ahli menguatkan pernyataan itu, bahwa Kain Kafan Suci yang disimpan di Turin tersebut diselimutkan ke tubuh orang yang disalib, yakni, yang menderita itu sungguh sama seperti apa yang diderita oleh Yesus, tetapi dinyatakan bahwa, orang yang disalib itu tidak mati di kayu salib, melainkan dikemakamkan sewaktu ia masih hidup. Duapuluh delapan noda darah di kain itu membuktikan hal ini. Para peneliti tersebut meyakinkan kita bahwa mayat yang dibungkus kain kafan pasti tak akan mengalirkan darah semacam itu.

Yesus dikemakamkan dalam keadaan masih hidup, jika tidak, maka pasti ada Yesus yang kedua dan ia telah sama-sama menderita menghadapi sakaratulmaut".

Mengenai catatan-catatan Kain Kafan Turin tersebut kembali ke abad sembilan, ketika itu berada di Yerusalem. Pada abad keduabelas ada di Constatinople, dan pada tahun 1474, setelah dalam waktu yang singkat ada di Belgia, kain itu menjadi milik Rumah Keselamatan. Kain itu pernah rusak terbakar pada tahun 1532 dan tiga tahun kemudian dipindahkan ke Turin. Dari tahun 1536 sampai 1578 dipindahkan ke Vercelli, lalu ke Milan, lalu ke Nice dan kembali lagi ke Vercelli, kemudian ke Chambrey, kemudian dikembalikan lagi ke Turin pada tahun 1706 (yang selama tahun itu kain tersebut pernah dipindahkan ke Jenewa dalam waktu yang tidak lama).

Pada tahun 1946, Hubert II dari Bala Keselamatan mempercayakan Kain Kafan itu kepada Uskup di Turin untuk dirawat, tetapi tanpa diserahkan dengan baik kepada si pemilik Kain itu.

Foto-foto pertama dari Kain Kafan itu diperoleh pada tahun 1898. Foto-foto resminya telah diambil oleh G. Enrie pada tahun 1931 ketika penelaahan kain itu dimulai.

Ukuran Kain Kafan tersebut adalah: Lebar 3 kaki 7 inchi (110 cm) dan panjang 14 kaki 3 inchi (436 cm). Menurut pendapat Mr. Ricci, seorang ahli tehnik diVatikan, tapak tubuh yang membekas di Kain Kafan tersebut menunjukkan tubuh yang berukuran tinggi 5 kaki 4 inchi (162 cm). Namun Proffesor Lorenzo Ferri, seorang ahli pemahat patung dari Roma, telah mengukur panjang tubuh yang diselimuti kain itu yaitu hampir 6 kaki 2 inchi (187 cm).

Pada tahun 1957, buku Kurt Berna yang berjudul "Jesus nicht am Kreuz gestorben" (Yesus tidak wafat di kayu salib) muncul. Berna adalah seorang Katolik dan Sekretaris Institut Jerman di Stuttgart, yang sejak beredarnya foto-foto G. Enrie, telah mempelajari Kain Kafan tersebut secara intensif.

Hasil-hasil penelaahan itu telah disebar-luaskan oleh Berna sendiri dalam bentuk dua buku, yakni: "Das Linen" (Kain Kafan) dan "Jesus nicht am kreuz gestorben". Buku-buku tersebut, khususnya yang kedua, pada waktu penyebarannya telah menggemparkan dan menjadi ajang pertentangan yang sungguh hebat.

Pada tanggal 26 Februari 1959, Berna menulis sepucuk surat kepada Paus John XXIII memohon kepadanya untuk membentuk suatu panitia para dokter untuk menyelidiki Kain Kafan tersebut, dan tujuannya adalah untuk mengakhiri pertentangan mengenai persoalan tersebut.

Permohonan pertama ditolak, langsung melalui utusan Paus di Jerman; tetapi pada tahun 1969, Vatikan membentuk panitia yang hasilnya telah kita lihat di muka tadi, yang pada kesimpulannya adalah sama seperti apa yang dikehendaki oleh Berna.

Sebelum mendiskusikan kehidupan Yesus setelah lukanya sembuh akibat penyaliban, saya akan menggaris-bawahi satu pandangan dari kesimpulan yang dicapai oleh Berna di dalam bukunya tersebut.

Berna mengatakan, analisa kain kafan tersebut meunjukkan bahwa, kepala dan tangan Yesus diletakkan lebih tinggi dari pada letak badannya. Andaikata Yesus telah wafat ketika dibungkus kain kafan tersebut, maka ini berarti tidak mungkin ada darah segar yang mengalir pada bagian-bagian tersebut yang meninggalkan bekas pada kain kafan itu.

Oleh karenanya, Berna mempertahankan pendiriannya, bahwa kain itu meninggalkan bekas-bekas darah yang mengalir dari luka-luka yang disebabkan mahkota duri yang dipasang oleh orang-orang Romawi di seputar kepala Yesus, yang mencemoohkan sebagai "Raja Yahudi", kemudian suatu ketika tubuh itu diturunkan dari kayu salib dan "mahkota" itu pun dicopot, maka luka-luka yang disebabkan oleh duri-duri tersebut mulai berdarah.

Apabila Yesus telah wafat saat itu, maka semua darah pasti membeku di bagian bawah badannya. Sudah merupakan hukum alam, asalkan jantung terus-menerus memompa, maka darah pun akan terus beredar bahkan sekalipun dalam keadaan hampa udara. Apabila saat itu jantung berhenti berdenyut, maka darah pun akan berhenti beredar dan akan mulai kembali keurat-urat, pembuluh-pembuluh darah di permukaan kulit akan segera mengering, dan rupa pucat kematian pun akan nampak di tubuh. Jadi, darah segar pasti tak akan mengalir dari luka-luka di kepala Yesus jika jantungnya berhenti berdenyut, ini adalah bukti medis, bahwa Yesus tidak wafat ketika beliau dibungkus kain kafan itu.

Mungkin beliau tidak bernafas dan nampaknya seperti mati; tetapi bilamana jantung tetap berdenyut, dalam keadaan demikian ini, seseorang bisa hidup kembali dengan
perawatan medis yang intensif.

Garis tipis pada kain kafan tersebut menunjukkan darah yang berasal dari luka tangan yang dipaku mengalir sepanjang lengan kanan ketika paku itu dicabut.

Terlihat, bahwa darah itu segar dan membasahi kain kafan itu, ini menambah lengkapnya bukti, bahwa jantung Yesus masih tetap aktif ketika beliau diturunkan dari kayu salib. Kain Kafan itu juga menambah lengkapnya bukti dimana tombak yang digunakan prajurit Romawi untuk menguji apakah Yesus sudah wafat atau belum, ia menancap dan jatuh dari tubuh beliau. Bekas-bekas darah menunjukkan, bahwa tombak menembus dada sebelah kanan, di antara tulang rusuk yang kelima dan keenam dan menerobos ke sebelah atas lengan kiri dan membuat sudut 20 derajat.

Oleh sebab itu, tombak tersebut lewat dekat jantung tetapi tidak melukainya, "darah dan air" yang dinyatakan dalam Injil Yahya (19:34) memberikan bukti kepada kita,
bahwa darah itu mengalir dari luka dan bukan dari jantung. Ini menunjukkan bahwa jantung masih tetap berdenyut sekalipun lemah, dan karenanya Yesus masih tetap
hidup.

Dan perkataan mereka: "Bahwa kami telah membunuh Isa al-Masih putera Maryam, utusan Allah", padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak juga menyalibnya, tetapi disamarkan untuk mereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya. -Qs. an-Nisa' 4:157

Namun Paulus mencatat dan menjadikan doktrin, bahwa Yesus mati disalib dan kemudian bangkit kembali, dan doktrin inilah yang diperkuat oleh Gereja Kristen. Oleh sebab inilah, hasil-hasil penelitian Kain Kafan Turin membuat Gereja dalam keadaan serba sulit, dan akibatnya pada tanggal 30 Juni 1960, Paus John XXII mengeluarkan maklumat yang dicetak koran Vatikan: "L'Osservatore Romano" pada tanggal 2 Juli, dengan judul: "Keselamatan Sempurna Tubuh Yesus Kristus".

Dalam hal ini Paus menyatakan kepada para Uskup Katolik yang mengakui dan menyebarkan berita-berita ini, bahwa keselamatan sempurna umat manusia adalah akibat langsung dari darah Yesus Kristus, dan kematiannya akhirnya tidaklah dianggap penting.

Setelah Yesus diturunkan dari kayu salib, sederetan peristiwa menjadi petunjuk, bahwa beliau menerima perawatan dan meninggalkan makam dalam keadaan hidup. Kita telah mencatat mengenai kesimpatian Pilatus terhadap Yesus, dan Yesus diberikan bukan kepada musuhnya tetapi kepada sahabatnya.

Menurut Yohanes 19:38 mengatakan:

"Kemudian dari pada itu Yusuf, orang Arimatea (seorang murid Yesus juga, tetapi bersembunyi, oleh sebab takutnya akan orang Yahudi), minta izin kepada Pilatus akan menurunkan badan Yesus; maka Pilatus pun mengizinkan. Lalu pergilah ia dan membawa tubuh Yesus.

"Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira limapuluh kati beratnya".

Bertentangan dengan adat-istiadat bangsa Yahudi, Yesus tidak dibaringkan dan dikubur di tanah, tetapi dibaringkan di sebuah makam yang luas yang pintu masuknya ditutup sebuah batu besar, dan di dalam ruangannya, udara cukup yang memungkinkan bisa bernafas leluasa. Agar bisa meninggalkan makam itu, Yesus menggeser pintu-batu yang menutup makam itu ke samping. Ini menunjukkan bahwa beliau meninggalkan tempat itu dengan badan wadagnya dan bukan ruhnya saja, karena ruh itu tidak perlu menggeser atau memindahkan benda wadag.

Begitu pula, fakta yang telah kita bicarakan, bahwa beliau berjalan terus ke Galilea mendahului para muridnya berupa perjalanan seorang manusia. Di bawah ini adalah pernyataan yang dikemukakan oleh Injil Markus 15:46-47, 16:1-7:

"Maka Yusuf Arimatea pun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan jasad Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu.

Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu.

"Maria Magdalena dan Maria ibu Yesus melihat di mana Yesus dibaringkan.

"Setelah lewat hari Sabath, Maria Magdalena dan Maria ibu Yesus serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.

"Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur.

"Mereka berkata seorang kepada yang lain: Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?

"Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling. Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk disebelah kanan. Mereka pun sangat terkejut, tetapi orang muda itu berkata kepada mereka:

"Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan dia. Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-muridnya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat dia, seperti yang sudah dikatakannya kepada kamu".

Keterangan yang menyatakan bahwa tiga perempuan masuk ke dalam makam, ini menunjukkan, betapa luas makam itu.

Mari kita kembali dan mengikuti jejak Yesus setelah keberangkatannya dari makam itu.

Pertama, beliau berjumpa dengan Maria Magdalena dan para sahabatnya, yang dengan cara mereka sendiri memberitahukan kepada para murid Yesus bahwa mereka telah menjumpai makam yang kosong dan mereka telah diberi tahu oleh seorang malaikat, bahwa Yesus telah bangkit (bangun) dan sedang dalam perjalananya menuju ke Galilea.

"Dan mereka segera pergi dari makam itu dengan takut dan sukacita yang sangat, dan berlari-lari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu". Mereka mendekatinya dan memeluk kakinya serta menyembahnya.

"Maka kata Yesus kepada mereka: Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudaraku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat aku" (Matius 28:8-10).

Perlu dicatat, perempuan-perempuan itu nampak takut, dan Yesus berusaha menenangkannya. Rupanya mereka takut kalau-kalau Yesus pasti akan ditemukan lagi.

Kemudian Yesus pergi ke luar sejauh enampuluh mil perjalanan ke Galilea.Setelah itu, dalam beberapa kesempatan, beliau muncul kepada para muridnya; tetapi beliau selalu ada di tempat di mana mereka tidak berada, hal ini agar beliau tidak dijumpai. Semua ini menggambarkan bahwa Yesus tetap dalam bentuk manusia biasa seutuhnya, dan beliau masih tetap dalam kesukaran untuk menghindar agar jangan sampai ditemui dan ditangkap kembali.

Apa bukti lain bahwa Yesus di sana itu bukan dalam bentuk ruhnya saja?

Pernyataan yang jelas dibuktikan oleh Lukas 24:36-39:

"Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu". Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.

Akan tetapi ia berkata kepada mereka: Mengapakah kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?
Lihatlah tanganku dan kakiku: Aku sendirilah ini; rabalah aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada padaku".

"Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah ia kepada mereka: Adakah padamu makanan di sini? Lalu mereka memberikan kepadanya sepotong ikan goreng. Lalu ia mengambilnya dan memakannya di depan mereka" (Lukas 24:41-43).

Pada Injil Yahya kita baca bahwa Yesus menunjukkan luka-lukanya dan beliau mengizinkan Thomas untuk menyentuhnya:

"Kemudian ia berkata kepada Thomas: Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganku, ulurkanlah tanganmu dan cobloskanlah ke dalam lambungku dan
jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah. Dan Thomas menjawabnya: Ya Tuhanku, Ya Allah" (Yahya 20:27-28).

Jelaslah, jika teori kita benar, maka cepat atau lambat Yesus meninggalkan Palestina, karena di sana beliau dalam keadaan bahaya. Memang, rupa-rupanya bahkan beliau sampai berlindung kepada penyamaran, karena menurut Markus 16:12:

"Sesudah itu ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota". Rupa-rupanya hal yang sangat masuk akal untuk mempertimbangkan Yesus selama masa itu sebagai manusia lahiriah dan manusia jasmaniah yang sebenarnya. Sekarang, baginya mengungsi itu hanya satu-satunya pilihan.

Walaupun begitu, sebagaimana akan kita lihat pada bagian berikutnya, beliau masih memiliki sebagian missinya untuk dipenuhi, yakni, mencari dan menyelamatkan suku-suku Israel yang hilang. Andaikata beliau wafat di kayu salib, maka missi beliau pasti belum disempurnakan; dan demikianlah, setelah meninggalkan para muridnya terakhir kali, beliau pergi menuju ke arah Timur.

Menurut berbagai Injil, missi utama Yesus adalah untuk memenuhi undang-undang dan meyelamatkan keturunan Suku Yahudi yang hilang. Missi beliau kepada suku-suku tersebut adalah hal yang sangat menarik hati kita sekalian di bagian ini.

Pada Injil Lukas 19:10 kita diberitahu, bahwa "Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang", dan pada Lukas 22:29-30, Yesus berkata kepada para muridnya: "Dan aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapakku menentukan bagiku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan aku di dalam kerajaanku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi keduabelas suku Israel".

Pada Matius 10:5-6 beliau terutama menekankan: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria: Melainkan pergilah ke domba-domba yang hilang dari umat Israel". Terbukti beliau sendiri pergi mencari suku-suku yang hilang tersebut.

Kita telah melihat bukti, bahwa beliau hidup terus setelah penyaliban dan muncul kepada para muridnya dalam bentuk jasmaniah, orang-orang yang tidak percaya sewaktu beliau menunjukkan badan beliau yang sama seperti sebelum penyaliban, beliau sekali lagi menunjukkan kepada mereka yang menyangkanya hantu, berulangkali beliau menunjukkannya dengan jelas bahwa beliau bukan hantu.


Catatan Tambahan :
Penulis (yaitu Armansyah) bukan anggota dari Jemaah Ahmadiyah manapun, pencuplikan penulisan ini semata-mata karena nilai-nilai kebenaran yang terkandung didalamnya dan demi keobyektifitasan berpikir terhadap kebenaran.

"Apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil." -Qs. an-Nisaa' 4:58

"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa." -QS. al-Ma'idah 5:8

Bersambung Isa al-Masih 7 : Benang Merah Islam-Kristen

LINK ISA ALMASIH:
ISA AL-MASIH 1/7 : Tokoh kontroversial sepanjang masa
ISA AL-MASIH 2/7 : Arti Mutawaffika (pengangkatan Isa)
ISA AL-MASIH 3/7 : Isa menolak disalib
ISA AL-MASIH 4/7 : Pengkhianatan Yudas
ISA AL-MASIH 5/7 : Arti Syubihalahum (Penyamaran Isa)
ISA AL-MASIH 6/7 : Yesus Wafat di Kashmir
ISA AL-MASIH 7/7 : Benang Merah Islam-Kristen


ISA AL-MASIH 5/7 : Arti Syubihalahum (Penyamaran Isa)



ISA AL-MASIH

Part 5/7
Arti Syubihalahum (Penyamaran Isa)

Oleh : Armansyah


--------------
Lanjutan ...
--------------

Assalamu'alaykum Wr. Wb.
Pembicaraan mengenai Isa al-Masih tetap menjadi perbincangan yang tidak bisa pernah berhenti dibahas, semakin dikupas maka akan terasa semakin menarik demikian selanjutnya. Dan posting kali ini pun masih merupakan kelanjutan artikel mengenai soso Isa al-Masih dari posting saya terdahulu, namun kali ini saya mengambil tema mengenai penyaliban (the passion of Christ).

Hukuman salib adalah hukuman yang terkenal dan lazim digunakan oleh bangsa-bangsa tertentu zaman dahulu. Orang Romawi sebenarnya tidak pernah menggunakan hukuman salib untuk bangsa mereka sendiri melainkan menerapkannya pada bangsa-­bangsa jajahan mereka untuk menghukum orang-orang yang dianggap memberontak kepada Kaisar.

Dalam Qur'an surah al-Maaidah ayat 33 dijelaskan bahwa hukuman salib juga merupakan bentuk hukuman kepada orang-orang yang membuat huru-hara dan mengobarkan perang kepada Allah dan Rasul-Nya :

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan diakhirat mereka beroleh siksaan yang besar. -Qs. al-Ma'idah 5:33

Salib atau shalb berasal dari kata ash-shaliib yang berarti sumsum atau lemak. Dalam bahasa Arab dikatakan ash-haabush-shulubi, yakni orang-orang yang mengumpulkan al­'idhaama (tulang) dan mengeluarkan sumsumnya serta mencampurkannya. Di dalam Al Qur'an dikatakan,

"yakhruju min bainish shulbi wat taraaib"
(keluar dari antara tulang belakang yang paling bawah dan tulang-tulang dada - QS 86:7).

Dalam ayat yang lain dikatakan,

"Wa ammal aakharu fasyushlabu fatakuluth-thairu min rasihii"
(Dan adapun mengenai yang lain, ia akan disalibkan, burung-burung akan memakan sebagian dari kepalanya - QS 12:41).

Jika kita meneliti asal dan makna kata yang terbentuk dari huruf sh-l-b (shalb) maka artinya adalah tulang atau sumsum.
Prosesi hukuman shalb (salib) itu adalah prosesi hukuman mati yang perlahan-lahan, dan biasanya memakan waktu sampai dengan tiga hari hingga ajalnya tiba. Terhukum akan dipaku ke dua tangannya di tiang salib, dikarenakan berat tubuhnya maka si terhukum akan mengalami kesulitan nafas karena terhimpit paru-parunya hingga akhirnya hal ini akan mempercepat kematian. Oleh karena itu untuk menambah penderitaan (memperlama proses kematian) maka pada telapak kaki diberikan sandaran papan di kakinya dipakukan kepada papan tersebut (sehingga dengan kaki ini terhukum dapat berdiri menyangga tubuh).

Terhukum akan dibiarkan menderita haus dan rasa sakit bahkan gangguan dari mangsa hewan liar. Pamungkas dari proses kematian ini adalah dipatahkannya tulang-tulang kaki (shalb-salib/patahkan tulang mengeluarkan sumsum) yang akan mempercepat kematian. Inilah hukuman salib (pematahan tulang dan sumsum di pancang / tiang kayu dan berakhir pada kematian). Jadi seseorang yang hanya mengalami pemakuan di tiang kayu namun tidak mengalami pematahan tulang dan sumsum dan mati maka tidak bisa dikatakan telah di hukum salib tetapi dia disebut menyerupai penyaliban saja.

Inilah yang terjadi pada diri Nabi Isa al-Masih sebagaimana termaktub dalam al-Qur'an :

Dan perkataan mereka:"Bahwa kami telah membunuh Isa al-Masih putera Maryam, utusan Allah", padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi disamarkan untuk mereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya. -Qs. an-Nisa' 4:157

Sebelum kita melanjutkan pembahasan lebih jauh, saya akan ingatkan kepada anda semua bahwa ayat tersebut akan menjadi lain bunyinya apabila anda merujuk pada al-Qur'an terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia, sebab dalam terjemahan mereka ayat diatas akan berbunyi :

Dan karena ucapan mereka : "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, 'Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, TETAPI (YANG MEREKA BUNUH IALAH) ORANG YANG DISERUPAKAN DENGAN 'ISA BAGI MEREKA.”

Dalam hal ini pihak penterjemah Departemen Agama Republik Indonesia telah melakukan interpolasi ayat, bahwa penterjemahan sudah dicampurkan dengan pemahaman, padahal ini membuat arti ayat tersebut berbeda.

Padahal arti kata Syubiha lahum adalah samar, penyamaran atau disamarkan atau diserupakan kepada mereka (maksud mereka disini merujuk pada orang-orang yang melakukan penyaliban itu yaitu tentara Romawi dan para Rabi Yahudi).

Bagaimana bisa sampai Departemen Agama RI menterjemahkan istilah penyamaran menjadi orang yang diserupakan dengan 'isa ? Kemungkinan paling besar tidak lain disebabkan para (team) penterjemah al-Qur'an Departemen Agama RI berpatokan kepada hadis-hadis yang menyatakan akan turunnya Isa al-Masih menjelang kiamat nanti sehingga untuk mendukung hadis-hadis ini maka dibuatlah penterjemahan seperti yang ada sekarang ini.

Sebenarnya adalah lumrah saja bila para penterjemah itu berkeyakinan Nabi Isa tidak disalib dan masih hidup dilangit antah berantah sampai sekarang dan kelak akan turun lagi kebumi ini. Namun secara obyektif pemandangan ini tidak bisa dijadikan terjemahan dari kata Syubiha lahum karena dia hanya berbentuk penafsiran dan bukan arti kata, disini jelas Departemen Agama telah salah karena berani menambahi arti ayat.

Masalah ini sebenarnya sudah sempat kita bahas pada artikel Isa al-Masih bagian ke-2 tetapi ada baiknya bila sedikit kita ulangi lagi untuk sekedar mereview ingatan kita bersama.

Kalimat Ini mutawaffika wa rafi'uka tidak bisa dirubah menjadi Inni rofi'uka dan wamutawaffika... apalagi merubah Inni mutawaffika menjadi Inni munimuka .... (Aku mewafatkan engkau) ditafsirkan dengan Aku menidurkan Engkau.

Kata hubung waw (dan) dalam ayat ini tidak bisa tidak harus dipahami apa adanya dimana dia menunjukkan adanya tartib atau urutan dalam waktu, bahwa pertama Isa telah diangkat, kemudian baru ia akan dimatikan.

Adanya penafsiran yang membuat kalimat ini bertukar tempat dimana "waw" tidak menunjukkan urutan (tartib) dalam ayat ini, dan bahwa rafi'uka (Aku meninggikan engkau) adalah lebih dulu dan mutawafifika ( Aku akan matikan engkau) adalah kemudian, terpaksa akan menyebabkan firman-firman Allah perlu dirubah -sebagaimana halnya orang-orang Yahudi yang merubah-rubah perkataan-perkataan dari tempatnya dan ini jelas sangat tercela didalam Islam.

Ungkapan muttawaffika harus diartikan bahwa Aku akan lindungi engkau dari mati terbunuh oleh kaum itu dan akan menganugerahi engkau umur panjang yang sudah ditetapkan bagi engkau, dan akan membuat engkau mati secara biasa (wajar).

Kata rafi'uka ilayya (mengangkat engkau kepadaKu) bisa ditarik persamaan dalam beberapa ayat al-Qur'an lainnya, seperti : "Rumah-rumah yang diperintahkan Allah supaya mereka diangkat (turfa'a)" dalam surah 24:36 atau "Dan amal salih yang akan dia angkat(yarfa'ahu) dalam surah 35:10. Atau juga "Sekiranya Kami mau, kami tentu akan mengangkatnya (larafa'nahu) dengan itu, tetapi ia cenderung ketanah" sebagaimana dijumpai dalam surah 7:176 serta "Allah akan mengangkat (yarfa'i) orang-orang yang beriman dari kamu." pada surah 58:11.

Selain itu, bisa juga ditarik persamaan arti ayat ini dengan beberapa sabda Nabi seperti : "Dengan Al-Qur'an ini Allah akan mengangkat (yarfa'u) beberapa orang merendahkan yang lainnya" - Riwayat Ibnu Majah. Juga ada dikemukakan bahwa kata kerja itu juga digunakan orang Muslim dalam shalat hariannya Allahumarfa'ni (Ya Allah, angkatlah aku).

Dengan demikian, penggunaan kata rafa'a tidak selalu harus dalam arti harafiayah melainkan bisa juga dalam arti kiasan yaitu dengan memberikan kedudukan, kehormatan dan martabat yang tinggi disisi Allah.

Apalagi dalam kasus Isa al-Masih ini juga bisa dijumpai ayat lainnya yang secara tegas mengisyaratkan akan sudah wafatnya Isa al-Masih sekarang ini (artinya dia sudah wafat sebelum Muhammad lahir dan diutus menjadi Nabi).

" Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi sesudah Engkau wafatkan aku (tawaffaitani) Engkaulah yang menjadi penjaga atas mereka, dan Engkau menjadi saksi tentang segala sesuatu " (5: 117).

Maksud ayat ini Isa al-Masih berlepas tangan terhadap umatnya yang apabila setelah kematiannya mereka berbalik murtad dan kafir dari apa yang sebelumnya sudah ia ajarkan kepada mereka.

Kata Mutawaffi berasal dari kata tawaffa.
Didalam bahasa Arab kalimat tawafallahu Adaman adalah berarti... Tuhan telah mengambil nyawa Adam...... maksudnya Tuhan telah mematikan si Adam.

Akhirnya, ayat yang bercerita mengenai penyaliban dan pengangkatan dimaknai sebagai berikut :

"Tidaklah mereka (...berhasil) membunuhnya dan tidaklah pula mereka menyalibnya (... dalam arti sebenarnya), melainkan disamarkan (...kejadian pembunuhan dan penyaliban itu) kepada mereka, dan mereka yang berselisih tentang itu berada dalam keadaan ragu tentang itu; mereka tidak punya pengetahuan tentang itu dan hanya mengikuti suatu dugaan, dan (dugaan) itu tidak diobah mereka menjadi kepastian" - Qs An-Nisaa 4: 157.

Bagaimana kesangsian kaum Yahudi tentang matinya Nabi Isa diatas salib dapat dilihat dalam Injil. Rasa heran Pilatus tentang berita Yesus sudah mati, sangat pendeknya masa Yesus diatas salib untuk menyebabkannya mati, dan tidak dipatahkannya kaki Yesus seperti yang dilakukan terhadap dua pencuri yang sama-sama disalib dengan Yesus, adalah beberapa hal yang menimbulkan kesangsian pada kaum Yahudi tentang meninggalnya Yesus diatas salib.

Kata Ma salabuhu (juga tidak meyalibnya) memiliki akar kata salaba yang berartikan membakar suatu barang hingga hangus atau mematikan seseorang dengan cara yang sudah dipastikan kematiannya. Sehingga bila disebutkan bahwa kaum Yahudi tidak berhasil menyalib Isa al-Masih maka disini yang dimaksudkan bahwa Isa tidak benar-benar mati dan tersalib sebagaimana dugaan mereka.

Kata Syubbiha lahum (penyamaran) adalah suatu peristiwa dimana kejadian ini kelihatan serupa dengan seorang yang disalib bagi mereka jadi tegasnya disini peristiwa penyaliban yang diserupakan ... bukan orang lain yang diserupakan bagi mereka apalagi sampai mengadakan substitusi antara Isa dengan Yudas Iskariot.

Dalam riwayat-riwayat Injil bisa kita temukan bahwa Pilatus secara rahasia menolong Isa dengan menetapkan hari hukuman salib pada Jum'at siang (jam 12 siang) (Matius 27 : 46), dan pada jam 3 sore (jam 15) Isa diturunkan dari Tiang Salib dengan kondisi tampak "Mati". Seperti yang telah lazim bahwa hukuman salib adalah hukuman mati secara perlahan (umumnya 3 hari) dan belum pernah ada yg mengalami kematian dalam hitungan jam. Lalu mengapa Isa diturunkan padahal baru 3 jam (nampak tergesa-gesa)?

Jawabannya karena dalam Taurat ada tertulis hukum :

"Maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah, janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu menjadi milik pusakamu" (Ulangan 21:23).


Jadi dikarenakan menurut hitungan hari Yahudi bahwa Hari Raya Sabath telah mulai sejak hari Jum'at petang (jam 18), maka tidak boleh ada najis (mayat orang terkutuk) yang menodai kesucian hari Sabath. Oleh karena itu haruslah tidak boleh ada orang yang terpantek di kayu salib. Maka dari itu Orang Yahudi sendiri yang meminta Isa a.s. diturunkan secepatnya dari kayu salib.

Pada saat Isa dihukum salib ada juga dua penjahat yang dihukum berserta beliau, namun tidak seperti Isa, mereka masih nampak segar atau hidup, sehingga bagi mereka diperlakukan cara cepat untuk menghabisi nyawa mereka dan mereka di hukum salib (shalb) dengan mematahkan tulang-tulang kaki mereka (yang menyangga tubuh mereka). Sedangkan bagi Isa a.s. karena pada saat akan diturunkan kondisi beliau nampak terlihat mati maka beliau tidak dihukum salib (shalb - pematahan tulang-tulang). Hal ini nampaknya merupakan perwujudan dari ramalan suci (nubuatan) :

"la melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah". (Mazmur 34 : 21).

Sedangkan bagi perajurit Romawi alasan mereka tidak mematahkan tulang belulang Isa a.s. adalah karena Jasad Isa a.s. nampak seperti yang sudah mati :

"Melihat bahwa ia telah mati, mereka tidak mematahkan kakinya" (Yohanes 19 : 33).

Perlu diperhatikan bahwa dasar yang menyatakan bahwa Isa mati itu adalah hanya atas dasar Melihat bukan atau tidak mendekati, apalagi menyentuh, sehingga bisa dipastikan lebih jauh apakah masih berdenyut nadinya alias mati sungguhan atau tidak?

Karena hanya sekedar melihat itu tidak pasti dan inilah pangkal keragu-raguan Orang Yahudi kelak bahwa mereka sendiri tidak yakin bahwa dalam waktu tiga jam tersebut dan tanpa hukum shalib mereka telah memutuskan ajal Isa (membunuh Isa). Hal ini berhubungan dengan ucapan Isa sebelum dihukum,

"Kamu akan melihat dan melihat, namun tidak merasa" (Matius 13:14).

Ketika Yohanes berkata bahwa tentara itu melihat, bahwa maksudnya mereka menduga bahwa Isa telah wafat. Jadi inilah cara Allah untuk menolong Isa. Dengan menserupakan beliau nampak seperti yang telah wafat dan hanya membiarkan tentara Romawi hanya melihat dan menduga-duga.

Allah menyelamatkan Isa a.s. dalam kondisi pingsannya dengan menampakan kepada Tentara Romawi dan Orang Yahudi bahwa mereka melihat Isa seperti dalam kondisi mati. Karena itulah tentara Romawi tidak mematahkan tulang sumsum Isa a.s.. Setelah tubuh Isa telah diturunkan dari tiang maka untuk memastikan Isa telah wafat maka seorang Tentara Romawi menggoreskan lembing nya ke sisi rusuk tubuh Isa a.s. dan setelah melihat tidak adanya respon gerakan dari tubuh Isa maka ia yakin bahwa Isa telah wafat. Namun....sebenarnya tidak demikian.

"Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air." (Yohanes 19:34)

Adalah rahmat Allah SWT yang telah membuat tubuh manusia (Isa a.s.) pingsan karena menahan rasa sakit dan letih. Seseorang yang berada dalam kondisi pingsan mengakibatkan peredaran darahnya menjadi lamban dan tidak lancar.

Dengan adanya pelukaan akibat goresan ujung lembing membuat peredaran darah lancar kembali dan memancarlah darah keluar, perlu diperhatikan bahwa hal ini (darah mengalir) hanya dapat terjadi pada tubuh yang mana jantungnya masih berdenyut (masih hidup). Dan perlu diperhatikan kata "segera mengalir" menandakan bahwa darah memancar dengan cepat yang mana hal itu menunjukan bahwa sebenarnya Yesus/Isa masih hidup manakala diturunkan dan hanya pingsan (yang disangka telah mati oleh Yahudi dan Orang Romawi). Dr. W.B. Primrose, seorang ahli anastesi RS. Royal Glasgow dalam tulisan beliau dalam harian "Thinker Digest" (bisa disearch di google) mengatakan :

"Bahwa air tersebut disebabkan oleh adanya gangguan syaraf pada pembuluh darah lokal akibat rangsangan yang berlebihan dari proses penyaliban".

Perlu dicari tahu bahwa selain karena rasa sakit apakah gerangan yang membuat Isa jatuh pingsan dalam waktu yang singkat itu?

Adalah rahmat Allah SWT menjadikan Isa pingsan karena menahan sakit, perih, dan lelah dari hukuman tiang salib, namun disaat yang sama dua orang penjahat yang turut dihukum masih nampak siuman, lalu sebab apakah Isa dalam waktu kurang dari tiga jam sudah jatuh tak sadarkan diri?

Jawaban yang logis bisa kita telusuri, pada Yohanes 19: 29-30 tertulis :

"Di situ ada suatu benda penuh anggur asam (tertulis Vinegar-bukan wine). Maka mereka mencucukan bunga karang yang telah dicelupkan dalam anggur asam pada sebatang hyssop (tanaman semak yang harum untuk obat) lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam berkatalah ia :"sudah selesai", lalu ia menundukan kepalanya dan menyerahkan nyawanya".

Adakah Vinegar ini telah berpengaruh kepada Yesus?

Vinegar memiliki efek stimulasi yang sementara sebagaimana obat amonia yang dicium dan bahkan dipakai untuk menstimulasi budak-budak pengayuh perahu kapal. Memberikan anggur yang dibumbui dengan Myrrh atau kemenyan kepada orang yang akan dihukum mati sebagai usaha untuk menghilangkan rasa sakit (efek narkotik) adalah sesuai dengan kebiasaan Yahudi, seperti yang tertulis :

"Dia yang dieksekusi diberi sedikit kemenyan dicampur anggur dalam piala sehingga dia kehilangan kesadaran" (Sahn 43 - Kitab Talmud).

Pada saat menjelang penyaliban Serdadu Roma bukan saja membolehkan pemberian minuman narkotik ini bahkan salah satu dari mereka terbukti membantu meminumkannya pada Yesus (Matius 27:48, Markus 15:36, Lukas 23:36, Johanes 19:29).

Vinegar yg disebutkan dalam Injil dalam bahasa Latin disebut Acetum/Acidus/Acere/Acida. Dalam budaya Persia dan Timur Tengah umumnya mengenal Minuman persembahan suci (Haoma Drink).

Haoma Drink dibuat dari Juice tanaman Asclepias Acida. Efek minuman ini adalah membuat seseorang menjadi koma (mati suri). Varietas asclepias acida ini di Eropa disebut dengan "Swallowwort". Untuk membuat ramuan Haoma Drink ini perlu keahlian agar takarannya tepat dan Orang­orang dari Golongan Yahudi Essene sangat mahir dalam bidang pengobatan/ penyembuhan sangat mengenal ramuan minuman ini. Salah satu efek dari ramuan Swallowwort (Asclepias Acida) ini adalah Extreme sweating and a dry mouth, dan ini sesuai dengan apa yang di alami oleh Isa,

"Yesus mengatakan: "Saya haus" (Yohanes 19:28).

Jadi para murid rahasia Yesus (Isa) dari golongan Essenes bekerja sama dengan Pilatus telah memberikan Haoma Drink ini kepada Isa a.s. sebelum beliau di paku di tiang salib dan ini merupakan rencana rahasia untuk menolong Isa. Dan akibat dari ramuan inilah beliau menjadi koma (mati suri) di tiang salib.

Setelah kita mengetahui apa sebab Yesus (Isa) mengalami pingsan yang demikian cepat dalam kurun waktu tiga jam di tiang salib, kini saya ingin mengajak anda kembali pada saat tubuh Isa masih berada di tiang salib.

Meski Injil menerangkan dengan berbeda-beda namun adalah suatu kepastian bahwa pada saat menjelang jam 15 (3 sore) terjadi gemuruh, guntur, gempa, serta langit pun menjadi gelap. Hal ini adalah suatu mukjizat yang mana Allah menampakan gejala alam ini untuk membuat ciut dan takut hati kaum Yahudi yang saat itu berpesta pora disekitar (dekat) lokasi tiang-tiang salib, yang serta merta hati mereka menjadi takut akan kutuk Tuhan atas perbuatan mereka dan lari berhamburan menyelamatkan diri.

Peristiwa ini adalah rencana Tuhan yang karenanya para murid "rahasia" Isa (yang bukan 12 orang itu mereka semua melarikan diri karena takut) dapat mendekati tiang salib, menurunkan jasad beliau, dan mengurus beliau a.s. Adalah Nikodemus dan Yusuf Arimatea (murid Isa dari golongan Essenes) yang telah meminta jasad Yesus kepada Pilatus. Nikodemus, Yusuf Arimatea, Maria Magdalena, dan murid-murid rahasia lainnya dari Essenes lah yang menolong dan mengurus jasad Isa a.s. setelah diturunkan dari tiang salib (Markus 15:47). Perlu diingat bahwa kondisi dan situasi saat itu sangat genting, karena jika orang Yahudi mengetahui bahwa Isa masih hidup maka mereka akan mencoba untuk membunuh untuk yang kedua kali.

Isa sendiri pertama kali sejak peristiwa penyaliban itu terjadi menampakkan dirinya kepada Maria Magdalena dengan menyamar sebagai tukang kebun (Yohanes 20:12 s/d 17), kemunculan Isa kedua setelah ini yaitu saat beliau menjumpai Simon Petrus, Thomas (Didymus), Nathan dan yang lainnya di Tasik Tiberias (Yohanes 21:1 s/d 4) begitupun Isa dikabarkan juga sempat menjumpai 2 orang sahabatnya yang sedang berjalan menuju kampung Emaus (Lukas 24:13 s/d 17) dan akhirnya muncul secara terbuka dihadapan ibunya serta murid-muridnya yang saat itu sedang berkabung atas kematiannya (Yohanes 20:19). Ketika mereka meragukan dirinya dan menyangkanya sebagai hantu atau arwah gentayangan, Isa al-Masih meyakinkan mereka dengan memperlihatkan tangan dan kakinya yang masih ada bekas-bekas luka-luka penyaliban dan memakan roti sebagai pertanda dirinya memang masih hidup (Lukas 24:37-43).

Sampai disini, penafsiran dari al-Qur'an mengenai penyamaran atas penyaliban dan pengangkatan derajat Isa al-Masih disisi Allah bisa kita terima secara logis dan wajar.

Sebagian orang percaya bahwa telah terjadi pensamaran wajah antara Yesus (Isa) dan murid beliau yang berkhianat yaitu Yudas Iscariot. Hal ini sangat menarik sekali untuk diteliti bahwa apakah benar Allah telah merubah sedemikian rupa wajah Yudas menjadi wajah Isa?

Kita bisa melakukan penyelidikan dari beberapa sudut.

Pertama dari keterangan Injil, ke dua dari Al Qur'an, dan ketiga dari sunatullah.

Memang benar bahwa Yudas telah berkhianat kepada Yesus dengan imbalan 30 keping perak untuk memberitahukan dimana Yesus berada, namun perlu diingat bahwa sejak ditangkapnya Yesus maka Yesus selalu berada dalam (ditengah-tengah) kawalan tentara Romawi dan orang-orang Yahudi sejak penangkapan, pengadilan, hingga eksekusi. Sehingga jika ada switch face maka tentu akan ada kegemparan dimana ditemukan dua Yesus. Lagi pula tidak ada keterangan dalam injil atau riwayat dari kalangan Israil bahwa Yesus yang tertangkap itu berteriak-teriak

"Aku Yudas !!!...Yudas !!! ka!ian ke!iru menangkap !".

Bahkan mengenai Yudas pasca penyaliban diriwayatkan bahwa ia sangat menyesal akan perbuatannya dan mati gantung diri...(Matius 27:5). Mengenai riwayat yang konon berasal dari Injil Barnabas, maka hal ini pun diragukan karena Barnabas sendiri termasuk yang melarikan diri jauh-jauh dari diri Yesus saat peristiwa penangkapan itu terjadi.

Dari sudut sunatullah, setiap Nabi mendapatkan ujian masing-masing yang khas dari Allah. Nabi Ibrahim dibakar, Nabi Yusuf di buang ke sumur, Nabi Yunus dibuang kelautan dan dimakan ikan, bahkan Nabi besar kita pun sedemikian terkepung mara bahaya manakala terpojok di dalam sebuah gua sempit sedangkan kaki orang-orang yang ingin membunuhnya nampak di luar gua.

Namun semuanya diselamatkan oleh Allah, kesabaran para Nabi dalam menghadapi ujian selalu mendatangkan pertolongan dari Allah, namun tidak pernah Allah menolong dengan cara menggantikan ujian tersebut kepada diri orang lain sehingga bukan sang nabi yang menghadapi ujian namun justru orang lainlah yang mendapatkan ujian tersebut.

Rasulullah saw adalah nabi yang paling banyak mendapatkan mara bahaya namun tidak pernah kita mendengar riawayat bahwa Allah telah menolong beliau saw dengan merubah wajah seseorang serupa dengan wajah beliau saw. Pertolongan Allah bekerja dengan cara yang latief (halus) melalui ujian, kesabaran, dan keteguhan dari sang Nabi dan para murid (sahabat)nya.

Dari sudut bahasa perkataan syubbiha lahum bukan berarti Nabi Isa disamarkan (diganti) dengan orang lain, hal ini tidak tepat karena sebelum lafad syubbiha tidak disebut nama seseorang yang telah diserupakan dengan nabi Isa, padahal disini ada lafad syubbiha yang majhuwl dan dalamnya ada damir mufrad yang mustatir. Dan menurut hukum nahu damir itu harus terdahulu sebutannya dengan lafad atau makna atau hukum.

Dan apabila nabiul fa'il kata syubbiha disebutkan maka itu akan berarti bahwa Nabi Isa lah yg diserupakan wajahnya menjadi rupa orang lain, bukan orang lain yang diserupakan menjadi wajah nabi Isa. Ringkasnya bukanlah rupa beliau yang disamarkan dengan orang lain, melainkan keadaan (kondisi) beliaulah yang diserupakan/samarkan seolah-olah telah mati.

Ringkasnya riwayat bahwa yang disalib adalah Yudas adalah tidak bersesuaian baik terhadap injil, Al Qur'an, Sunatullah, tata bahasa, maupaun sejarah. Dan jika riwayat ini diterapkan maka akan banyak kegelapan akan sejarah Nabi Isa a.s. Oleh karena itulah orang-orang yang memegang faham ini tidak dapat menemukan jawaban atau hal yang terang benderang mengenai riwayat "perjuangari" suci Nabi Isa a.s. dan argumentasi mereka senantiasa berakhir pada ucapan "wallohu 'alam".

Dengan amat menjaga kerahasiaan misi penyelamatan, Yusuf Arimatea dan Nikodemus juga Magdalena membawa jasad Isa yang telah dibungkus dalam kain kafan menuju ruang kubur (gua) dan meletakan beliau di sana serta menutup pintu kubur dengan batu.

Yusuf dan Nikodemus adalah kaum Essenes yang terpelajar khususnya dibidang ilmu pengobatan. Merekalah yang merawat dan mengolesi tubuh Yesus dengan salep obat untuk menyembuhkan luka-luka akibat hukuman. Mereka membawa banyak sekali ( 100 Pounds ) rempah-rempah obat myrr dan gaharu untuk diurapi (dilulurkan) ke tubuh Yesus yang terluka (Yohanes 19:39).

Perlulah diperhatikan, apalah gunanya obat rempah ini untuk seorang yang sudah wafat? Bagi seorang Yahudi yang wafat adalah tidak boleh hukumnya disentuh-sentuh apalagi dilulur, menurut adat Yahudi haruslah jenazah dikuburkan apa adanya. Namun para murid rahasia Yesus benar-benar mengetahui bahwa beliau masih hidup bahkan mereka sendiri yang menurunkan tubuh Yesus dari tiang salib, jadi hal ini memang menunjukan telah dipersiapkannya suatu rencana rahasia oleh para sahabat (murid) rahasia Yesus untuk menyelamatkan Yesus.

Oinment of Jesus alias marham Isa (salep Isa) sangat mahsyur sekali, mengenai salep obat ini banyak sekali pustaka pengobatan kuno baik yang berbahasa Ibrani, Persia, Yunani, dan Arab yg memuat perihal salep yang memiliki daya sembuh atas luka ini, dan diakui bahwa riwayat salep ini adalah pada awalnya untuk mengobati luka-luka Yesus/Isa a.s. Mengenai Marham Isa ini terdapat di Kitab Kuno Qanun karya Bapak Kedokteran Abu Sina (Aviciena) dan banyak lagi (bisa dilihat langsung di www.tombofjesus.com/Ointment.htm)

Sebagai tambahan catatan saja, hadis-hadis mengenai turunnya Isa al-Masih diakhir jaman meskipun banyak sekali jumlahnya tetapi sebagaimana ditulis oleh Quraish Shihah dalam Harian Republika 18 Nopember 1994 halaman 10 bahwa semua hadis-hadis itu berawal dari Ka'ab al-Akhbar dan Wahab bin Munabbih, keduanya mantan pemeluk Kristen yang lalu masuk kedalam Islam, sehingga masih menurut Quraish Shihab, tidak sedikit ulama yang menilai informasi hadis yang disampaikan oleh keduanya lebih banyak bersandar pada sisa-sisa kepercayaan mereka di Kristen mengenai doktrin turunnya Yesus menjelang kiamat.

Pendapat Quraish Shihab ini pada hakekatnya hanya memperkuat apa yang juga pernah disampaikan oleh Buya Hamka, Hasbullah Bakry, Ahmad Mustofa al-Maraghi, al-Alusi, Mahmoud Shaltout, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.

Dijaman kita sekarang ini penafsiran tersebut pun dikemukakan juga oleh Kristolog sekelas Ahmad Deedat, Solihun Munir dan Irena Handono.

Dus, al-Qur'an pun dengan tegas menyebut Isa al-Masih sebagai Rasul bagi Bangsa Israel (Qs. 3 i Imran 48) dan sedikitpun dari status kerasulan Isa al-Masih itu, jika memang beliau kelak akan diturunkan kembali sesuai tafsir dan hadis yang banyak beredar, artinya beliau memang ditakdirkan juga untuk menjadi seorang Rasul di antara kaum Muslimin, tentunya al-Qur'an akan menambah kata-kata yang ada kaitannya dengan itu. Namun tidak, penjelasan al-Qur'an semata-mata mengatakan bahwa Isa hanya seorang Rasul bagi bangsa Israel.

Bersambung Isa al-Masih 6 : Yesus Wafat di Kashmir

LINK ISA ALMASIH:
ISA AL-MASIH 1/7 : Tokoh kontroversial sepanjang masa
ISA AL-MASIH 2/7 : Arti Mutawaffika (pengangkatan Isa)
ISA AL-MASIH 3/7 : Isa menolak disalib
ISA AL-MASIH 4/7 : Pengkhianatan Yudas
ISA AL-MASIH 5/7 : Arti Syubihalahum (Penyamaran Isa)
ISA AL-MASIH 6/7 : Yesus Wafat di Kashmir
ISA AL-MASIH 7/7 : Benang Merah Islam-Kristen


ISA AL-MASIH 4/7 : Pengkhianatan Yudas



ISA AL-MASIH

Part 4/7
Pengkhianatan Yudas

Oleh : Armansyah

--------------
Lanjutan ...
--------------

Assalamu'alaykum Wr. Wb.
Kisah kekufuran Bani Israil sudah secara gamblang dipaparkan oleh al-Qur'an didalam banyak ayat-ayatnya, sejak dari mulai masa kenabian Musa as dan Harun hingga pada periode 'Isa al-Masih dan Muhammad Saw bahkan hingga jaman-jaman yang akan datang.

Kisah penyaliban atas diri Nabi 'Isa al-Masih putera Maryam telah dipercayai oleh semua orang disebabkan karena terjadinya pengkhianatan diantara para sahabatnya yang setia.

Kisah pengkhianatan ini sebenarnya tidak hanya bisa kita peroleh dari dalam Bible yang diyakini oleh kaum Nasrani namun juga al-Qur'an sudah menggambarkan akan peristiwa tersebut.

Dimulai dari saat-saat akan diturunkannya Hidangan (al-Maidah) atas keinginan para sahabat Nabi 'Isa al-Masih :

"Tatkala Hawariyin (sahabat-sahabat setia) berkata: Wahai 'Isa putera Maryam! Apakah berkuasa Tuhanmu menurunkan kepada kami satu hidangan dari langit ?;

Maka 'Isa menjawab : Takutlah kepada Allah jika memang kamu betul-betul orang-orang yang beriman.!" Mereka berkata : Kami ingin agar kami makan darinya dan supaya kami yakin bahwa sesungguhnya engkau sudah berkata yang benar terhadap kami dan jadilah kami ini orang-orang yang menyaksikan." (Qs. al-Maidah 5:112-113)

Disini sebenarnya kita sudah melihat adanya bibit-bibit kekurang percayaan orang-orang yang berada disekitar 'Isa al-Masih terhadap dirinya dan Allah, sama persis seperti yang sudah sering kita baca dan kita bahas mengenai perilaku murid-murid 'Isa yang sering membangkang terhadapnya didalam Bible.

Sekian lama mereka menjalani kehidupan bersama, menyebarkan dakwah dibawah bimbingan Nabi 'Isa kepada masyarakat dan membuktikan sendiri mukjizat-mukjizat kenabian 'Isa al-Masih, namun mereka masih tetap merasa kurang yakin.

Kita lihat dalam jawabannya, 'Isa menegur kelakuan para sahabatnya ini yang seolah tidak beriman kepada Allah dan dirinya selaku Rasul; Ini bukan teguran 'Isa yang pertama terhadap sikap para sahabatnya semacam ini, kita lihat didalam surah ali-Imran ayat 52:

"Ketika 'Isa merasa akan kekufuran dari mereka, ia bertanya: Siapakah penolong-penolongku kejalan Allah ?; Maka para sahabatnya menjawab : Kami adalah pelayan-pelayan Allah, kami telah beriman kepada Allah dan lihatlah, bahwa sesungguhnya kami orang-orang yang muslimin."(Qs. ali Imran 3:52)

Atas jawaban para Hawariyin ini, Allah memberikan jawaban yang sangat jelas sekali bagi kita untuk menjadi bukti atas kebenaran ucapan mereka ini didalam ayat selanjutnya:

"Dan mereka membuat tipu daya, namun Allah (juga) membuat tipu daya; dan sesungguhnya Allah itu sepandai-pandainya menipudaya." (Qs. ali Imran 3:54)


Disini bisa kita pahami, bahwa ayat ini merupakan tanggapan Allah atas pernyataan Hawariyin yang mengaku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yaitu 'Isa al-Masih yang dikatakan pada ayat sebelumnya; Dan dari sini kita bisa menangkap satu fenomena bahwa diantara para sahabat tersebut tidak semuanya mereka ini benar-benar beriman sebagaimana yang diucapkan oleh mulutnya, sebab menurut Allah, mereka telah mengatur satu rencana yang jahat, membuat satu tipu daya yang ditujukan kepada Rasul-Nya namun rencana tersebut akan dikalahkan oleh Allah dengan tipu daya pula.

Ingatkah anda akan firman Allah dibawah ini ?

"Karena kesombongan dibumi dan merencanakan tipu daya yang jahat, padahal rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain kepada orang yang merencanakannya sendiri". (Qs. Faathir 35:43)

Dari ayat-ayat ini kita bisa mentafsirkan bahwa satu tipu daya yang jahat yang telah diatur oleh sebagian dari Hawariyin untuk 'Isa akan dibalas oleh Allah dengan tipu daya-Nya pula dengan menjadikan orang yang merencanakan makar ini termakan oleh rencananya sendiri.

Dan dalam ayat lanjutan ali-Imran 55, Allah meneruskan firman-Nya:

"Tatkala Allah berkata: Wahai 'Isa! Sungguh Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkatmu kepada-Ku, dan akan membersihkanmu dari mereka yang kafir, serta akan menjadikan orang-orang yang mengikutimu diatas mereka yang kafir hingga hari kiamat." (Qs. ali Imran 3:55)

Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya yang mengatakan bahwa Allah akan membalas tipu daya orang-orang yang jahat kepada Rasul-Nya.

Dari sini kita juga bisa mengambil satu kesimpulan bahwa rencana jahat yang dimaksudkan terhadap diri Nabi 'Isa tidak akan bisa terjadi terhadap sang Nabi akan tetapi Allah akan mengembalikan rencana jahat tersebut menimpa kepada orang itu sendiri dan Allah akan menyelamatkan Nabi-Nya tersebut dari rencana jahat itu dengan peristiwa pengangkatan dan membersihkan nama baiknya.

Kita baca ayat berikutnya:

"Maka adapun mereka yang kufur itu, Aku akan menyiksa mereka satu siksaan yang keras didunia dan akhirat; dan mereka tidak akan mendapatkan penolong-penolong."(Qs. ali Imran 3:56)

Ayat ini kita kembalikan dengan ayat yang juga menceritakan peringatan Allah terhadap kaum Hawariyin disaat penurunan Hidangan dari langit didalam surah al-Maaidah:


"Allah berkata : Sesungguhnya Aku akan menurunkannya untukmu, tetapi barang siapa dari antara kamu yang kufur sesudah itu, maka akan Aku azab dia dengan satu azab yang tidak pernah Aku perbuat terhadap seorangpun daripada makhluk-makhluk." (Qs. al-Maidah 5:115)

Diayat ini kita juga menemukan isyarat langsung dari Allah, bahwa akan ada yang kufur terhadap Allah dan Rasul-Nya diantara kaum Hawariyin tersebut setelah usainya Hidangan dari langit diturunkan, yaitu sesudah terjadinya jamuan makan malam ketuhanan menurut teologi Nasrani.

Kita ketahui dari Bible, bahwa dari 12 orang murid utama 'Isa, ada seorang yang telah berkhianat dengan jalan menjual informasi mengenai keberadaan 'Isa terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Romawi. Murid tersebut diyakini bernama Yahudza al- skharyuti atau Yudas Iskariot.

Dan Yudas digambarkan memiliki rencana yang jahat terhadap 'Isa al-Masih setelah acara jamuan makan malam al-Maidah selesai dengan membocorkan rahasia keberadaan sang Nabi kepada musuh-musuhnya sehingga mereka melakukan penyerbuan terhadap persembunyian 'Isa al-Masih.

Namun sesuai dengan janji Allah, bahwa rencana yang jahat tidak akan menimpa selain kepada orang yang sudah membuat rencana itu sendiri, begitu pula halnya dengan diri 'Isa al-Masih, beliau telah diselamatkan Allah dari tragedi tewasnya diatas salib.

"Dan perkataan mereka: 'Bahwa kami telah membunuh 'Isa al-Masih putera Maryam, utusan Allah', padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi disamarkan kepada mereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka membunuhnya dengan yakin. Tetapi Allah telah mengangkat (derajat) 'Isa kepada-Nya; karena Allah itu Gagah nan Bijaksana" (Qs. An-Nisa' 4:157-158)

Sementara Yahudza Askharyuti yang merupakan otak dari semua rencana jahat itu akhirnya mati dengan mengenaskan, gantung diri dan tubuhnya jatuh terjerumus dalam keadaan perut pecah.

Demikianlah kiranya Allah telah menentukan keputusan-Nya untuk memberikan hukuman terhadap orang yang telah merencanakan hal yang keji atas diri Nabi-Nya dengan azab yang pedih.

And he cast down the pieces of silver in the temple, and departed, and went and hanged himself. (Matthew 27:5)

Now this man purchased a field with the reward of iniquity; and falling headlong, he burst asunder in the midst, and all his bowels gushed out. (The Acts 1:18)

Mari kita lihat kembali apa kata 'Isa al-Masih terhadap sikap Allah kepada orang-orang ingkar akan kenabiannya itu:

"...Dan adalah aku menjadi penjaga atas mereka selama aku ada pada mereka; maka tatkala Engkau mewafatkan aku, adalah Engkau menjadi pengurus mereka; dan sungguh Engkau menyaksikan segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu hamba-hambaMu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh Engkaulah Maha Kuasa nan Bijaksana." (Qs. al-Maidah 5:117-118)

Disini 'Isa menyerahkan segala urusan itu kepada kehendak Allah, bahwa selama dirinya masih berada ditengah-tengah umatnya, ditengah-tengah sahabat-sahabatnya, maka 'Isa sendiri yang akan menjadi pengingat mereka terhadap ajaran Allah, dia sendiri yang akan menegur apabila dia melihat keingkaran mereka namun manakala dirinya sudah wafat atau juga sudah tidak lagi bersama mereka, maka 'Isa al-Masih lepas tangan terhadap semua tindak-tanduk umatnya.

'Isa al-Masih mengatakan bahwa bila karena perbuatan umatnya yang salah telah menyebabkan Allah menjadi murka dan menghukum mereka, maka itu adalah hak prerogatif Allah, sebab Dia adalah penguasa dan pencipta seluruh makhluk yang mampu bertindak dan berkehendak sebebas-bebasnya kepada siapapun sebab mereka hanyalah hamba-hamba Allah yang tidak akan bisa menghentikan kehendak Allah.

Bersambung Isa al-Masih 5 : Arti Syubihalahum (Penyamaran Isa)

LINK ISA ALMASIH:
ISA AL-MASIH 1/7 : Tokoh kontroversial sepanjang masa
ISA AL-MASIH 2/7 : Arti Mutawaffika (pengangkatan Isa)
ISA AL-MASIH 3/7 : Isa menolak disalib
ISA AL-MASIH 4/7 : Pengkhianatan Yudas
ISA AL-MASIH 5/7 : Arti Syubihalahum (Penyamaran Isa)
ISA AL-MASIH 6/7 : Yesus Wafat di Kashmir
ISA AL-MASIH 7/7 : Benang Merah Islam-Kristen



ISA AL-MASIH 3/7 : Isa menolak disalib



ISA AL-MASIH

Part 3/7
Isa menolak disalib

Oleh : Armansyah

--------------
Lanjutan ...
--------------

Assalamu'alaykum Wr. Wb.
Sejarah Bible mencatatkan bahwa Nabi 'Isa al-Masih hanya mengangkat sebanyak dua belas orang murid untuk membantu perjuangannya menyebarkan agama Allah, yaitu suatu jumlah tradisional yang mewakili dua belas suku Bani Israil.

Namun sayang sekali, ternyata tidak semuanya dari sahabat-sahabat beliau adalah orang-orang yang beriman dan setia terhadap Nabi 'Isa putra Maryam ada diantara mereka yang malah membelot dan menjadi musuh dalam selimut, bekerja sama dengan pihak romawi untuk menangkap dan membunuh Nabi 'Isa al-Masih.

Dari dalam Bible kita ketahui bahwa diantara para murid 'Isa al-Masih ada seorang yang telah melakukan tindakan makar berupa pengkhianatan kepada sang Nabi dengan jalan menyerahkan gurunya tersebut kepada pihak Yahudi yang dibantu oleh tentara Romawi, nama pengkhianat ini adalah Judas Iskariot.

"And the chief priests and scribes sought how they might kill him; for they feared the people. Then entered Satan into Judas surnamed Iscariot, being of the number of the twelve. And he went his way, and communed with the chief priests and captains, how he might betray him unto them. And they were glad, and covenanted to give him money. And he promised, and sought opportunity to betray him unto them in the absence of the multitude." (Luke 22:6 KJV)

Namun tindakan makar yang akan dilakukan ini sudah tercium oleh 'Isa al-Masih, sebagaimana yang disinggungnya pada saat pekan hari raya Paskah atau jamuan makan malam terakhir yang dalam versi al-Qur'an dikenal dengan nama al-Maidah itu:

"Setelah Jesus berkata demikian jiwanya sangat terharu, lalu memberikan kesaksian dan berkata: Sesungguhnya aku berkata kepada kamu, bahwa salah seorang di antara kamu akan mengkhianatiku." (Yohanes 13:21)

Dalam sabda berikutnya bisa kita lihat bahwa 'Isa al-Masih menyesali kelahiran muridnya yang melakukan khianat itu dan ini sebenarnya sudah membuyarkan konsep dosa turunan yang harus ditebus oleh putera Maryam sebagaimana yang diajarkan dalam dunia Kristen;

Bila memang 'Isa dijadikan oleh Allah untuk menjadi penebus dosa Adam, maka seharusnya kelahiran Yudas Iskariot tidak perlu untuk disesali justru 'Isa al-Masih dan semua orang Nasrani harus berterima kasih kepadanya, sebab dengan begitu akan ada yang namanya penebusan dosa.

"Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya anak manusia itu dikhianati. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan." (Matius 26:24)

"Lalu Jesus berkata kepada Judas, Lakukanlah apa yang akan engkau lakukan secepatnya." (Yohanes 13:27)

Setelah kepergian Judas, Jesus sendiri tidak sudi menunggu dan berpangku tangan untuk ditangkap begitu saja oleh musuh-musuhnya. Jesus berencana untuk segera membuat jalur pertahanan demi menghadapi rencana jahat dari Judas, Jesus lalu menyiapkan para sahabat atau murid-muridnya yang lain untuk ikut pergi bersamanya dengan tidak lupa Jesus juga mengingatkan mereka akan adanya kemungkinan terjadinya bentrokan dan pertikaian nantinya.

"Lalu Jesus berkata kepada mereka: "Ketika aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, uang darurat (bahasa inggris=scrip) dan sepatu, adakah kamu kekurangan apa-apa ?" Jawab mereka: "Suatupun tidak." Lalu katanya kepada mereka: "Tetapi sekarang, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai uang; dan siapa yang tidak mempunyai pedang, maka juallah jubahnya dan belilah satu pedang." (Lukas 22:35-36)

Ini adalah persiapan untuk melakukan Jihad, perang suci, Yahudi melawan Yahudi. Jesus tidak lagi menyarankan para muridnya untuk mempergunakan jalan yang lembut didalam menghadapi para musuhnya, situasi dan kondisi telah berubah dan dengan segala kebijakan maka strategi harus diubah.

Murid-muridnya telah dipersenjatainya, bahwa barang siapa yang tidak memiliki pedang waktu itu, maka jualkanlah jubah mereka untuk membeli satu pedang bagi masing-masingnya. Jesus tahu, untuk menghadapi para musuhnya hanya dengan mengandalkan tongkat yang senantiasa dibawa para muridnya (Markus 6:8) adalah suatu kekonyolan, maka dari itu dia memerintahkan untuk membeli pedang.

Dan manakala para muridnya hanya berhasil mendapatkan dua bilah pedang dalam Lukas 22:38, Jesus tidak bisa berkata lain lagi, Jesus tahu bahwa perlawanan yang akan ia lakukan terhadap para musuhnya kemungkinan besar akan menjadi sia-sia, para muridnya ini tidak bisa melakukan hal yang lebih baik untuk menolongnya.

Kata "Pedang" disini tidak bisa diartikan lain dan haruslah dipergunakan didalam arti sebenarnya, sebab menjual jubah untuk mendapatkan uang dan membeli pedang akan dipakai pada saat perlawanan terhadap Yudas, anda bias melihat didalam Matius 26:51-52, pedang yang dibeli sudah dihunus dan dipergunakan untuk memutuskan telinga orang, jadi jelas bukan pedang kiasan.

Jelas sekali diantara para muridnya waktu itu sudah ada yang memiliki pedang, namun tidak keseluruhan dari mereka. Maka itu Jesus menyuruh bahwa bagi mereka yang belum berpedang, maka diharuskan untuk membeli pedang.

Saya perkirakan waktu itu yang membawa pedang baru 3 orang, yaitu Petrus, Yohanes dan Yakobus, sementara yang delapan lainnya belum memiliki pedang. Dan ditambah dua pedang yang berhasil didapatkan oleh ke-8 muridnya yang lain, jadi jumlah keseluruhan murid berpedang adalah 5 orang.

Jesus juga menyadari dengan minimnya persiapan perlawanan yang ada sudah mengisyaratkan bahwa waktu kepergiannya dari tengah-tengah Bani Israil akan segera sampai.

"Sekarang adalah saatnya bagi anak manusia akan dimuliakan, dan Allah pun akan dipermuliakan bersamanya." (Yohanes 13:31)

"Then Jesus said to them: All you shall be scandalized in me this night. For it is written: I will strike the shepherd, and the sheep of the flock shall be dispersed..." (Matthew 26: 31 - Douay )

"Namun setelah aku ditinggikan, aku akan mendahului kamu ke Galilea. Dan Petrus menjawab, berkata kepadanya: Sekalipun seluruh orang akan mengkhianatimu, aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Jesus menjawabnya: dengarlah apa yang kusabdakan padamu, dalam malam ini saja sebelum ayam berkokok, engkau akan mengingkari aku tiga kali. Petrus menjawabnya: Sekalipun aku akan mati denganmu, aku tidak akan mengingkari mu. Dan begitu juga jawaban para murid semuanya."(Matius 26:31-35)

Jesus hanya tersenyum mendengar penuturan Petrus dan para muridnya yang lain itu, bagaimanapun juga ia sudah lama kenal dengan mereka dan sudah mengetahui kepribadian mereka.

Untuk mengingatkan para muridnya, Jesus memberikan wejangan kepada mereka:

"Siapa yang mengikuti perintahku dan mematuhinya, dialah yang mencintaiku; dan dia yang mencintaiku itu akan dikasihi oleh Allah dan akupun akan mencintainya." (Yohanes 14:21)

"Sesungguhnya Allah itu adalah Tuhanku dan Tuhan kamu. Karenanya berbaktilah kepada-Nya, inilah jalan yang lurus." (Qs. ali-Imran 3:51)

"Semua perkara ini sudah aku katakan padamu, agar jangan kamu kecewa. Engkau akan ditolak oleh mereka dari rumah peribadatan. Waktunya akan tiba, dimana siapa yang membunuh kamu, dia akan berpikir sudah melakukan bakti terhadap Allah; semuanya dilakukan mereka kepadamu sebab mereka tidak mengenal aku dan Allah." (Yohanes 16:1-3)

Dan sebagai akhir dari wejangannya, 'Isa al-Masih mewasiatkan akan kedatangan seorang utusan berikutnya yang akan menggantikan posisi dirinya sebagai seorang utusan Allah. "Sebenarnya, masih banyak perkara yang hendak kukatakan kepadamu, namun kamu tidak bisa menerimanya sekarang. Tetapi apabila dia, Nabi al-Amin telah datang, dia akan mengajarkanmu seluruh hal tentang kebenaran, sebab dia tidak akan berkata-kata menurut kehendaknya sendiri, tetapi apasaja yang akan dia dengar itulah yang akan dikatakannya. Dia akan mengabarkan kepadamu semua perkara yang akan datang." (Yohanes 16:12-13)

"He shall glorify Me; for He shall take of Mine, and shall disclose it to you. All things that the Father has are Mine; therefore I said, that He takes of Mine, and will disclose it to you." (John 16:14-15 New American Standard Bible - NASB)

"Dan tatkala 'Isa putra Maryam berkata: hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada kamu, membenarkan Taurat yang turun sebelumku dan memberikan kabar gembira mengenai seorang Rasul sesudahku yang namanya Ahmad." (Qs. ash-Shaaf 61:6)

Ketika Jesus hendak menyelesaikan wejangannya, wahyu Allah turun kepadanya:

"Dan tatkala Allah bertanya : Hai 'Isa putra Maryam, adakah engkau mengatakan kepada manusia, : jadikanlah aku dan ibuku sebagai Tuhan selain Allah ?, 'Isa menjawab: 'Maha suci Engkau ! Tidaklah patut bagiku berkata apa yang tidak ada hak untukku mengatakannya, maka sesungguhnya Engkau mengetahuinya. Engkau tahu apa yang ada pada diriku, namun aku tidak tahu apa yang ada pada diri-Mu, karena sungguh, Engkaulah yang sangat mengetahui perkara yang ghaib." (Qs. al-Maaidah 5:116)

Dan Jesus menengadah kelangit lalu berseru :

"And this is life eternal, that they might know thee, the only true Elohim, and Yahshua the Messiah, whom thou hast sent." (John 17:3 from The Restored Name King James Version of the Scriptures) "Now they have come to know that everything Thou hast given Me is from Thee; for the words which Thou gavest Me I have given to them; and they received them, and truly understood that I came forth from Thee, and they believed that Thou didst send Me." (John 17:7-8 New American Standard Bible - NASB)

"Ketika aku bersama dengan mereka, aku menjaga mereka yang telah Engkau berikan kepadaku dengan nama-Mu. Tiada satupun yang tersesat kecuali pengkhianat itu." (Yohanes 17:12)

"Tidak aku katakan kepada mereka, melainkan apa yang Engkau perintahkan kepadaku, yaitu beribadahlah kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada diantara mereka; maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka." (Qs. al-Maaidah 5:117)

'Isa al-Masih sudah membuktikan dirinya mempunyai keahlian dalam mengatur strategi dan rencana, peka terhadap sinyal-sinyal bahaya dan banyak akalnya. Setelah cukup banyak memberikan nasihat dan wasiat kepada para muridnya, maka seperti yang diceritakan dalam Matius 26:36, Markus 14:26, Lukas 22:39 serta Yohanes 18:1, berangkatlah Jesus malam itu bersama para muridnya yang sebelas orang menyeberangi anak sungai Kidron menuju kepegunungan Zaitun kesatu tempat yang bernama taman Getsemani.

Begitu sampai ditaman tersebut, Jesus alias 'Isa al-Masih mengatur dan menempatkan delapan dari sebelas orang muridnya untuk berjaga dipintu masuk taman, sementara Petrus, Yohanes dan Yakobus diajaknya untuk menjaga dirinya dibagian agak dalam dari taman Getsemani itu :

"Duduklah disini, sementara aku pergi untuk berdoa disebelah sana." (Matius 26:36)

Namun sebelum Jesus meninggalkan para muridnya yang delapan orang itu, dia juga tidak lupa memerintahkan mereka untuk melakukan doa didalam berjaga itu.

"Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: "Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan." (Lukas 22:40)

"Dan Jesus membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus bersamanya."(Matius 26:37)

Ini adalah strategi yang sudah dirancang oleh 'Isa al-Masih untuk menghadapi para musuhnya. Jesus membawa para muridnya pergi ketaman Getsemani bukan untuk melakukan ibadah kepada Allah, sebab jika memang itu sasaran utama Jesus, dia bias membawa muridnya itu menuju kuil Sulaiman atau juga Bait Allah.

Perhatikan, Jesus tidak mengajak serta kedelapan muridnya untuk beribadah, dia menempatkan murid-muridnya tersebut secara strategis pada pintu masuk taman; dan ingat, sebelumnya Jesus telah mempersenjatai mereka dengan pedang.

Kemudian Petrus, Yohanes serta Yakobus yang terkenal fanatik dan bersemangat, disuruhnya membuat jalur pertahanan bagi dirinya disebelah dalam taman.

Nama Taman Getsemani tersebut hanya disebut dua kali dalam 4 Injil, yaitu pada Matius 26:36 dan Markus 14:32, itu pun ketika menceritakan perihal penangkapan Jesus. Sebelum itu nama Getsemani sebagai tempat Jesus biasa berdoa tidak pernah ditemukan.

Gunung Zaitun (Mount of Olives) hanyalah merupakan tempat Jesus biasa bermalam (Matius 21:1, Markus 11:11, Lukas 21:37, Lukas 19:29, Yohanes 8:1). Sebaliknya, Bait Allah adalah tempat paling sering dipakai oleh Jesus untuk mengajar, bertanya jawab dengan para murid maupun Ahli Taurat, berdoa serta lain sebagainya.

Jadi mengatakan bahwa Getsemani adalah tempat Jesus biasa berdoa, adalah kurang meyakinkan dalam satu telaah kritik ilmiah. Jarak antara Taman Getsemani yang berlokasi digunung Zaitun tampaknya tidak terlalu jauh, inibisa dilihat dalam Markus 13:3 dimana disana diceritakan bahwa Jesus duduk digunung Zaitun sembari menghadapkan pemandangannya kearah Bait Allah. Dengan demikian, alasan berdoa sambil membawa pedang didalam taman Getsemani sama sekali kurang bisa kita terima, hal ini akan berbeda jika disana diceritakan bahwa Jesus ditangkap didalam Bait Allah ketika berdoa dan tanpa kawalan para murid yang memakai pedang.

Tapi buktinya ? Jesus telah mengatur 3 orang sahabatnya yang berpedang mengawal dirinya dan 2 orang yang berpedang lainnya menjaga dibagian masuk taman Getsemani bersama 6 orang lain yang hanya membekal tongkat.

Lagi pula untuk apa sosok Tuhan harus berdoa ? Tuhan berdoa kepada siapa ? Bukankah seperti pandangan kaum Nasrani, 'Isa al-Masih sudah mengetahui apa yang akan menimpa dirinya sebagai korban tebusan dosa Adam ?

"Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu katanya kepada mereka: "Jiwaku sangatlah sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan aku."(Matius 26:37-38)

Jelas bahwa dia kesana bukan untuk berdoa, melainkan untuk membuat jalur pertahanan.

Kita lihat lagi, Jesus menempatkan delapan orang murid dibagian terdepan dan membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus yang dipersenjatai dengan pedang untuk bersamanya guna: "stay you here and watch with me" (Matius 26:38),

Ya, mereka bertiga hanya disuruh untuk "menunggu dan mengawasi", dalam pengertian bahwa ketiganya disuruh untuk mengawalnya ! Dan jika memang Jesus harus berdoa, kenapa harus memilih taman Getsemany ? Bukankah dia bisa memilih tempat yang suci, yaitu Bait Allah ?

Lihat kembali Lukas 19:45-46 : "And he went into the temple, and began to cast out them that sold therein, and them that bought; Saying unto them, It is written, My house is the HOUSE OF PRAYER "

Kenapa dia menyuruh muridnya untuk membawa pedang ? Kenapa harus mengatur ke-8 muridnya dibagian depan dan mengajak yang 3 untuk mengawalnya ?

Jawabnya tidak lain adalah untuk membuat suatu pertahanan, sebab Jesus telah melihat antusiasme yang ditunjukkan para murid-muridnya pada acara jamuan malam, bahwa mereka bisa melawan Yahudi yang akan menangkapnya dan bersedia mati bersama dirinya. (Matius 26:35)

Bagaimana juga, dibalik semua stategi yang matang dan ketenangannya itu Jesus menyimpan rasa khawatir yang tinggi, akankah apa yang direncanakannya ini akan berjalan sebagaimana kehendak Allah sebelumnya, ataukah Allah merubah keputusan-Nya dan membiarkan dirinya ditangkap dan dibantai oleh musuh-musuhnya?

Dalam diamnya, Jesus bersujud, menghadapkan dirinya keharibaan Allah menyerahkan dirinya lahir batin kepada Allah yang maha kuasa:

"Ya Allah, jika saja Engkau berkenan untuk mengangkat beban ini dari diriku; namun bukanlah kehendakku itu yang harus terjadi melainkan kehendak Engkaulah saja yang terjadi." (Lukas 22:42) Sejenak Jesus diam dan mengangkat kepalanya dari sujud, menoleh kepada para sahabatnya, terperanjatlah ia, mereka semua, kesebelas orang sahabat dan muridnya, hanya dalam hitungan beberapa detik sudah pulas tertidur, sungguh perih hatinya.

Alangkah buruk nasib dirinya mendapatkan pengikut yang seperti ini. Disuruh berjaga malah tidur dalam sekejapan, meninggalkan dirinya sendirian. Mengabaikan perintah guru dan Nabinya. Jesus bangkit berdiri dihadapan Petrus yang berdiri tidak jauh dari dirinya dan sedang nyenyak tertidur lalu menegurnya:

"Hai Simon, apakah engkau tertidur ? tidakkah engkau sanggup berjaga hanya untuk satu jam saja ?, Bangunlah dan berdoalah" (Markus 14:37)

Setelah berkata begitu Jesus kembali menjauh dari Petrus dan dua orang lainnya lalu meneruskan munajatnya kepada Allah, memohon agar dirinya selamat dari ancaman musuh-musuhnya, Jesus tidak rela dirinya dijadikan bahan tertawaan, bahan ejekan oleh para seterunya, mati tergantung diatas kayu terkutuk, dihukum, ditelanjangi dihadapan semua orang.

Ketika pemikirannya sampai kesana, bertambah khawatir hati Jesus dan bertambah dia mengharapkan pertolongan Allah kepadanya "Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah." (Lukas 22:44)

Didalam menanggapi hal ini, Paulus menyatakan dalam Ibrani 5:7

"Dalam hidupnya sebagai manusia, ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada-Nya yang sanggup menyelamatkannya dari maut, dan karena kesalehannya, beliau telah didengarkan."

Untuk itu Allah mengabulkan permohonan Jesus ini lalu mengirimkan malaikat Jibril kepadanya, wahyu Allah telah datang kepada Jesus.

"Lalu kelihatanlah kepadanya seorang malaikatdari langit untuk mengkuatkannya." (Lukas 22:43)

"Dan Kami berikan kepada 'Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus."(Qs. al-Baqarah 2:253)

Melalui perantaraan malaikat-Nya ini Allah berfirman : "Ketika Allah berfirman: Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkatmu kepada-Ku, dan akan membersihkan dirimu dari mereka yang kafir..." (QS. Ali Imran 3:55)

Mendengar wahyu Allah ini, hati Jesus menjadi teduh, kepercayaannya terhadap pertolongan Allah pada dirinya semakin kuat akan keterlepasan dirinya dari marabahaya dan kehinaan, lalu ia bangkit dan mendekati para sahabatnya yang masih tertidur, lalu membangunkan mereka semuanya.

"Bangunlah kamu, marilah kita beranjak; lihatlah orang yang mengkhianatiku sudah mendekat." (Markus 14:42)

Sampai disini kita menemukan satu benturan untuk memberikan gambaran lanjutan peristiwa penangkapan diri Jesus yang dilakukan oleh Judas Iskariot, para ahli Taurat serta tentara Romawi yang terdapat dalam 4 Injil kanonik Nasrani, antara Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes ... ke-4 pengarang Injil ini memiliki pemaparan cerita yang berbeda mengenai tragedy penangkapan hingga penyaliban Jesus dan banyak beberapa bagiannya tidak bisa disatukan alur riwayatnya.

Bersambung Isa al-Masih 4 : Pengkhianatan Yudas

LINK ISA ALMASIH:
ISA AL-MASIH 1/7 : Tokoh kontroversial sepanjang masa
ISA AL-MASIH 2/7 : Arti Mutawaffika (pengangkatan Isa)
ISA AL-MASIH 3/7 : Isa menolak disalib
ISA AL-MASIH 4/7 : Pengkhianatan Yudas
ISA AL-MASIH 5/7 : Arti Syubihalahum (Penyamaran Isa)
ISA AL-MASIH 6/7 : Yesus Wafat di Kashmir
ISA AL-MASIH 7/7 : Benang Merah Islam-Kristen


ISA AL-MASIH 2/7 : Arti Mutawaffika (pengangkatan Isa)



ISA AL-MASIH

Part 2/7
Arti Mutawaffika (pengangkatan Isa)

Oleh : Armansyah

--------------
Lanjutan ...
--------------
Assalamu'alaykum Wr. Wb.
Penafsiran diatas ini adalah penafsiran yang sangat umum sekali bisa kita jumpai dalam masyarakat Muslim kebanyakan (mainstream) meskipun sekali lagi ini bukan satu-satunya penafsiran yang ada.

Sayangnya Departemen Agama RI sehubungan dengan Surah an-Nisa' ayat 157 telah mencampuradukkan terjemahan tersebut dengan pemahaman atau penafsiran mayoritas yang ada sebagaimana bisa kita lihat dalam al-Qur'an dan Terjemahan mereka berikut ini :

Dan karena ucapan mereka : "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, 'Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, TETAPI (YANG MEREKA BUNUH IALAH) ORANG YANG DISERUPAKAN DENGAN 'ISA BAGI MEREKA.”

Ada ketidakjujuran pada terjemahan tersebut, dimana tim penterjemah Departemen Agama RI telah melakukan interpolasi ayat, khususnya adanya penambahan yang bisa membuat arti ayat tersebut menjadi berbeda.

Padahal arti kata Syubiha lahum adalah samar, penyamaran atau disamarkan kepada mereka (maksud mereka disini merujuk pada orang-orang yang melakukan penyaliban itu yaitu tentara Romawi dan para Rabi Yahudi).

Bagaimana bisa sampai Departemen Agama RI menterjemahkan istilah penyamaran menjadi orang yang diserupakan dengan 'isa ?

Adalah syah dan lumrah saja bila para penterjemah itu berkeyakinan Nabi Isa tidak disalib dan masih hidup dilangit sampai sekarang dan kelak akan turun lagi kebumi ini. Namun secara obyektif pemandangan ini tidak bisa dijadikan terjemahan dari kata Syubiha lahum karena dia hanya berbentuk penafsiran dan bukan arti dari kata Syubiha lahum itu sendiri.

Adapun terjemahan yang seharusnya adalah sebagaimana dituliskan pada bagian atas yang akan kita tuliskan lagi :

"Dan perkataan mereka: 'Bahwa kami telah membunuh 'Isa al-Masih putera Maryam, utusan Allah', padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi disamarkan kepada mereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya."

Bagaimana cara penyamaran ini sebenarnya terjadi itulah titik awal timbulnya dua pendapat tadi, bahwa ada yang berpendapat penyamaran dilakukan terhadap diri Isa al-Masih dengan proses substitusi wajah Yudas dan ada pula yang berpendapat bahwa penyamaran itu dilakukan dengan membuat Isa al-Masih seolah berhasil dibunuh padahal beliau hanya dipingsankan oleh Tuhan yang akhirnya disembuhkan oleh salah satu murid rahasianya sebagaimana kisah-kisah ini bisa ditemui didalam beberapa kitab Injil umat Kristen.

Lebih jauh lagi, ulama yang berpendapat penyamaran itu berdasarkan substitusi wajah dan perawakan Yudas iskariot mendasarkan pula kajiannya terhadap ayat berikut :

Ketika Allah berkata: "Hai 'Isa ! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkat kamu kepadaKu serta akan membersihkan kamu dari mereka yang kafir..." (QS. 3:55)

Lagi-lagi para mufassir Islam berbeda pendapat mengenai ayat diatas.
Perbedaan tersebut berawal dari penterjemahan ayat "Tawaffa" (mewafatkanmu).
Makna dari "Tawaffa" adalah "Imatah" (mematikan).

Kata "Tawaffa" tidak menunjukkan waktu tertentu dan juga tidak menunjukkan bahwa kematian itu telah berlalu, namun Allah Swt mewafatkannya kapan saja. Yang jelas tidak ada dalil bahwa waktunya telah berlalu.

Mengenai bersambungnya kata "Mutawafika" dengan kata "Warofi'uka" tetap tidak menunjukkan satu hubungan yang sifatnya berurutan. Sejumlah ahli bahasa sepakat berpendapat bahwa kata sambung /wau/ itu tidak memberi faedah urutan waktu dan tidak pula Jama' (mengumpulkan) akan tetapi memberi faedah Tasyrik (keikutsertaan).

Hal ini bisa kita lihat dalam firman Allah yang menyatakan penciptaan langit dan bumi, terdapat beberapa ayat yang menyebutkan penciptaan bumi lebih dahulu seperti dalam Surah Al Baqarah 29 dan surah Thaha 4. Akan tetapi terdapat lebih banyak ayat2 dimana langit-langit disebutkan sebelum bumi (Surah Al A'raaf 54, Surah Yunus 3, Surah Hud 7, Surah Al Furqaan 59, Surah As-sajadah 4, Surah Qaf 38, Surah Al Hadied 4, Surah An-Naazi'aat 27 dan Surah As Syams 5 s/d 10).

Jika kita tinggalkan surah An-Naazi'aat, tak ada suatu paragrafpun dalam Al Quran yang menunjukkan urutan penciptaan secara formal.

Ditinjau secara langsung kedalam bahasa arab yang terdapat hanya huruf /Wa/ yang artinya "dan" serta fungsinya menghubungkan dua kalimat. Terdapat juga kata "tsumma" yang berarti "disamping itu" atau "kemudian dari pada itu". Maka kata tersebut dapat mengandung arti urut-urutan. Yaitu urutan kejadian atau urutan dalam pemikiran manusia tentang kejadian yang dihadapi. Tetapi kata tersebut dapat juga berarti menyebutkan beberapa kejadian-kejadian tetapi tidak memerlukan arti urutan-urutan.

Bagaimanapun periode penciptaan langit-langit dapat terjadi bersama dengan dua periode penciptaan bumi.

Didalam Al Quran, hanya terdapat satu paragraf yang menyebutkan urutan antara kejadian-kejadian penciptaan secara jelas, yaitu antara ayat 27 s/d ayat 33 Surah An-Naazi'aat.

Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit [planet-planet] itu ? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya [mengatur jarak orbit masing-masing] lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap, dan menjadikan siangnya terang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan darinya air, dan tumbuh-tumbuhannya. Dan tenaga alamiah dipancangkan-Nya dengan teguh, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu."
(QS. 79:27-33)

Perincian nikmat-nikmat dunia yang Allah berikan kepada manusia, yang diterangkan dalam bahasa yang cocok bagi petani atau pengembara (nomad) didahului dengan ajakan untuk memikirkan tentang penciptaan alam. Akan tetapi pembicaraan tentang tahap Tuhan menggelar bumi dan menjadikannya cocok untuk tanaman, dilakukan pada waktu pergantian antara siang dan malam telah terlaksana.

Jelas disini bahwa ada dua hal yang dibicarakan: kelompok kejadian samawi dan kelompok kejadian-kejadian dibumi yang diterangkan dengan waktu. Menyebutkan hal-hal tersebut mengandung arti bahwa bumi harus sudah ada sebelum digelar dan bahwa bumi itu sudah ada ketika Tuhan membentuk langit.

Dapat kita simpulkan bahwa evolusi langit dan bumi terjadi pada waktu yang sama, dengan kait mengkait antara fenomena-fenomena. Oleh sebab itu tidak perlu pula kita memberi arti khusus mengenai disebutkannya kata bumi sebelum langit atau langit sebelum bumi dalam penciptaan alam. Tempat kata-kata tidak menunjukkan urutan penciptaan.

Bertolak dari sini, maka ayat yang berbunyi :

Izqolallahu ya'Isa Inni mutawaffika warofi'uka, Artinya : Ketika Allah berkata: "Hai 'Isa ! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkat kamu kepadaKu, bisa juga bermakna demikian :

Izqolallahu ya'Isa Inni rofi'uka illa wamutawaffika, yang artinya menjadi : Ketika Allah berkata: "Hai 'Isa ! Sesungguhnya Akulah yang mengangkatmu kepadaKu dan yang mewafatkanmu.

Selain itu juga ada pendapat yang mengatakan bahwa kata "Mutawafa" adalah mati dalam arti tidur untuk diangkat kelangit, sehingga ayat tersebut bermaknakan "Inni munimuka warofi'uka Illa" (Sesungguhnya Aku menidurkanmu dan mengangkatmu kepadaKu)

Hal ini juga berdasarkan dalil bahwa didalam AlQur'an juga terdapat pemutlakan kata wafat untuk makna tidur, seperti dalam firman Allah :

Wahualladzi yatawaffakum billayli waya'lamuma jarohtum binnahari
Dan Dialah yang memegang/menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari.
(QS. 6:60)

Allah memegang jiwa-jiwa ketika matinya dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya; lalu ditahanNya jiwa yang telah ditetapkan kematiannya dan dilepaskanNya yang lain sampai satu masa yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.
(QS. 39:42)

Didalam AlQur'an dibenarkan memutlakkan kata wafat untuk tidur. Jika demikian bisa jadi diangkatnya Nabi Isa putra Maryam itu dalam keadaan tidur sebagaimana dikatakan oleh Al Hasan Basri.

Penafsiran lainnya lagi datang dari Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Qatadah bahwa ia berkata: Ini termasuk masalah muqaddam dan muakhkhor atau mendahulukan kata yang datang belakangan dan mengakhirkan kata yang datang lebih dahulu.

Jadi firman Allah tentang wafatnya Isa itu bisa diartikan menjadi :

Rofi'uka wamutawaffika
Kami mengangkatmu dan mewafatkanmu

Dia mengangkatmu (ke planet bumi lain) lalu menurunkanmu (kembali keplanet bumi sekarang) dan mematikanmu sebelum hari kiamat, agar kamu menjadi salah satu tanda hari kiamat tiba.

Jadi faedah menjadikan Isa putra Maryam sebagai tanda hari kiamat sebagai pemberitahuan bahwasanya diangkatnya Isa kelangit itu tidaklah menghalangi kematiannya.

Selanjutnya penafsiran lain, kata "Mutawwafa" adalah isim fail (nomina verbal) dari kata kerja "Tawaffahu", sehingga dapat diartikan "Jika ia menggenggamnya dan menghimpunnya kepadanya".

Ibnu Qutaibah menafsirkan dalam kitab Gharibil Qur'an bahwa menggenggamnya dari bumi tanpa harus mematikan. Imam Ibnu Jarir Ath Thabari berkata: Kita sudah ketahui bahwa jika Allah mematikannya, maka tidak mungkin ia mematikannya sekali lagi lalu mengumpulkannya menjadi dua mayat.

Sehingga penafsiran ayat itu menjadi :

Wahai Isa, sesungguhnya Akulah yang menggenggammu dari bumi dan yang mengangkatmu kepadaKu serta yang mensucikanmu dari orang-orang kafir yang mengingkari kenabianmu.

Syaikh Muhammad Jamil Zainu, seorang ulama Mekkah dan merupakan staff pengajar di Daarul Hadis Al Khairyah Mekkah mengatakan bahwa semua penafsiran tersebut adalah shahih, namun ia sendiri lebih condong kepada penafsiran yang terakhir, yaitu Yang menggenggam diri Isa dalam keadaan hidup didunia, bukan dalam keadaan mati dan juga bukan dalam keadaan tidur.

Sementara ayat : "Inni mutawaffika warofi'uka Illa" merupakan penjelasan tentang cara wafatnya.

Kata "Tawaffa" juga berarti "menyempurnakan, menerima, mengambil, menggenggam", dalam konteks "mematikan" terdapat dalam surah Ali Imran ayat 3:193

Watawaffana ma'al abrori
"...dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang baik."

Dengan arti menyempurnakan pahala, terdapat dalam surah Ali Imran 3:57

Wa ammalladzi na amanu wa'amilussolihati fayuwaffiyahum ujurohum
"Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, maka Allah menyempurnakan pahala bagi mereka..."

Dengan arti menerima/mengambil/menggenggam terdapat dalam surah Az-Zumar 39:42

Allahuyatawaffal anfusahina mawtiha wallati lamtamutfi manamiha
"Allah menerima/mengambil/menggenggam jiwa-jiwa ketika matinya dan yang tidak mati sewaktu tidurnya..."

Dan "Tawaffa" dengan makna "menyempurnakan janji" bisa dilihat dalam surah Ali Imran ayat 3:55 yang kita bicarakan:

Izqolallahu ya'Isa Inni mutawaffika warofi'uka,
Ketika Allah berkata: "Hai 'Isa ! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkat kamu kepadaKu...

Dalam Bible [Matius 26:36-40] diterangkan, sewaktu Jesus [Isa Almasih] ditaman Getsemani dengan para sahabatnya, Jesus mengetahui kaum Yahudi akan membunuhnya, maka Jesus berdoa agar diselamatkan dari pembunuhan dengan cara disalibkan, karena Jesus tahu bahwa tergantung diatas salib itu adalah terkutuk [Galatia 3:13].

Dan ayat Ali Imran 3:55 itu diwahyukan kepada Isa Almasih untuk menenangkan beliau yang berarti "Sesungguhnya Aku menyempurnakan janjiKu kepadamu dengan mengangkatmu [menyelamatkan jasad dan Jiwamu] kepadaKu dan membersihkanmu [memuliakanmu] dari orang-orang kafir serta menjadikan para pengikutmu [kaum Hawariyin] diatas orang-orang kafir hingga hari kiamat."

Dengan penafsiran seperti ini maka jelas bahwa Isa Al-masih tidak tersalibkan.
Lalu bagaimana dengan penafsiran bahwa Isa al-Masih memang sudah wafat dalam arti sebenarnya ?

Para ulama yang membela paham ini tidak merubah-rubah arti dan urutan dari firman Allah yang mengatakan bahwa pengangkatan terjadi setelah kewafatan... dimana Allah lebih dahulu mewafatkan Isa, dan selanjutnya mengangkatnya.

Kalimat Ini mutawaffika wa rafi'uka tidak bisa dirubah menjadi Inni rofi'uka dan wamutawaffika... apalagi merubah Inni mutawaffika menjadi Inni munimuka .... (Aku mewafatkan engkau) ditafsirkan dengan Aku menidurkan Engkau.

Kata hubung waw (dan) dalam ayat ini tidak bisa tidak harus dipahami apa adanya dimana dia menunjukkan adanya tartib atau urutan dalam waktu, bahwa pertama Isa telah diangkat, kemudian baru ia akan dimatikan.

Adanya penafsiran yang membuat kalimat ini bertukar tempat dimana "waw" tidak menunjukkan urutan (tartib) dalam ayat ini, dan bahwa rafi'uka (Aku meninggikan engkau) adalah lebih dulu dan mutawafifika ( Aku akan matikan engkau) adalah kemudian, terpaksa akan menyebabkan firman-firman Allah perlu dirubah -sebagaimana halnya orang-orang Yahudi yang merubah-rubah perkataan-perkataan dari tempatnya dan ini jelas sangat tercela didalam Islam.

Ungkapan muttawaffika harus diartikan bahwa Aku akan lindungi engkau dari mati terbunuh oleh kaum itu dan akan menganugerahi engkau umur panjang yang sudah ditetapkan bagi engkau, dan akan membuat engkau mati secara biasa (wajar).

Kata rafi'uka ilayya (mengangkat engkau kepadaKu) bisa ditarik persamaan dalam beberapa ayat al-Qur'an lainnya, seperti : "Rumah-rumah yang diperintahkan Allah supaya mereka diangkat (turfa'a)" dalam surah 24:36 atau "Dan amal salih yang akan dia angkat(yarfa'ahu) dalam surah 35:10. Atau juga "Sekiranya Kami mau, kami tentu akan mengangkatnya (larafa'nahu)
dengan itu, tetapi ia cenderung ketanah" sebagaimana dijumpai dalam surah 7:176 serta "Allah akan mengangkat (yarfa'i) orang-orang yang beriman dari kamu." pada surah 58:11.

Selain itu, bisa juga ditarik persamaan arti ayat ini dengan beberapa sabda Nabi seperti : "Dengan Al-Qur'an ini Allah akan mengangkat (yarfa'u) beberapa orang merendahkan yang lainnya" - Riwayat Ibnu Majah. Juga ada dikemukakan bahwa kata kerja itu juga digunakan orang Muslim dalam shalat hariannya Allahumarfa'ni (Ya Allah, angkatlah aku).

Dengan demikian, penggunaan kata rafa'a tidak selalu harus dalam arti harafiayah melainkan bisa juga dalam arti kiasan yaitu dengan memberikan kedudukan, kehormatan dan martabat yang tinggi disisi Allah.

Apalagi dalam kasus Isa al-Masih ini juga bisa dijumpai ayat lainnya yang secara tegas mengisyaratkan akan sudah wafatnya Isa al-Masih sekarang ini (artinya dia sudah wafat sebelum Muhammad lahir dan diutus menjadi Nabi).

" Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi sesudah Engkau wafatkan aku (tawaffaitani) Engkaulah yang menjadi penjaga atas mereka, dan Engkau menjadi saksi tentang segala sesuatu " (5: 117).

Maksud ayat ini Isa al-Masih berlepas tangan terhadap umatnya yang apabila setelah kematiannya mereka berbalik murtad dan kafir dari apa yang sebelumnya sudah ia ajarkan kepada mereka.

Kata Mutawaffi berasal dari kata tawaffa.
Didalam bahasa Arab kalimat tawafallahu Adaman adalah berarti... Tuhan telah mengambil nyawa Adam...... maksudnya Tuhan telah mematikan si Adam.

Akhirnya, ayat yang bercerita mengenai penyaliban dan pengangkatan dimaknai sebagai berikut :

"Tidaklah mereka (...berhasil) membunuhnya dan tidaklah pula mereka menyalibnya (... dalam arti sebenarnya), melainkan disamarkan (...kejadian pembunuhan dan penyaliban itu) kepada mereka, dan mereka yang berselisih tentang itu berada dalam keadaan ragu tentang itu; mereka tidak punya pengetahuan tentang itu dan hanya mengikuti suatu dugaan, dan (dugaan) itu tidak diobah mereka menjadi kepastian" - Qs An-Nisaa 4: 157.

Bagaimana kesangsian kaum Yahudi tentang matinya Nabi Isa diatas salib dapat dilihat dalam Injil. Rasa heran Pilatus tentang berita Yesus sudah mati, sangat pendeknya masa Yesus diatas salib untuk menyebabkannya mati, dan tidak dipatahkannya kaki Yesus seperti yang dilakukan terhadap dua pencuri yang sama-sama disalib dengan Yesus, adalah beberapa hal yang menimbulkan kesangsian pada kaum Yahudi tentang meninggalnya Yesus diatas salib.

Kata Ma salabuhu (juga tidak meyalibnya) memiliki akar kata salaba yang berartikan membakar suatu barang hingga hangus atau mematikan seseorang dengan cara yang sudah dipastikan kematiannya. Sehingga bila disebutkan bahwa kaum Yahudi tidak berhasil menyalib Isa al-Masih maka disini yang dimaksudkan bahwa Isa tidak benar-benar mati dan tersalib sebagaimana dugaan mereka.

Kata Syubbiha lahum (penyamaran) adalah suatu peristiwa dimana kejadian ini kelihatan serupa dengan seorang yang disalib bagi mereka jadi tegasnya disini peristiwa penyaliban yang diserupakan ... bukan orang lain yang diserupakan bagi mereka apalagi sampai mengadakan substitusi antara Isa dengan Yudas Iskariot.

Dalam riwayat-riwayat Injil bisa kita temukan bahwa malam pasca penyaliban itu tubuh Isa yang luka-luka itu diturunkan dari atas kayu salib oleh Yusuf, salah satu muridnya yang kaya lalu diletakkan dalam sebuah goa (Matius 27:57 s/d 60) dan dibantu oleh Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome mereka membeli rempah-rempah dan meminyaki tubuh Isa yang luka-luka itu (Markus 16:1), disini besar dugaan bahwa mereka tahu bahwa saat itu Isa al-Masih belum mati dan mereka berupaya untuk mengobati luka-luka penyaliban dengan kedok mempersiapkan upacara kematian bagi Isa sehingga tidak dicurigai oleh orang-orang Yahudi.

Kejadian ini memang akhirnya menaruh syak wasangka dari sejumlah pemuka Yahudi dan Farisi pada keesokan harinya (jadi ini terjadi setelah Isa diberi rempah-rempah dan minyak tadi) dan para pemuka Yahudi dan Farisi ini meminta kepada Pilatus agar goa tempat Isa disemayamkan itu dijaga dengan ketat (Matius 27:62 s/d 66).

Hari minggu paginya pintu goa itu terbuka melalui suatu peristiwa alam gempa bumi yang dicampur mitos keberadaan malaikat (Matius 28:2) dan ini dibuktikan dengan adanya riwayat lain yang sama sekali tidak menyebutkan mengenai malaikat tetapi orang berjubah putih (Markus 16:2 s/d 8) yang memberikan informasi bahwa Isa sudah selamat dan mengabarkannya kepada murid-murid beliau yang lain.

Isa sendiri pertama kali sejak peristiwa penyaliban itu terjadi menampakkan dirinya kepada Maria Magdalena dengan menyamar sebagai tukang kebun (Yohanes 20:12 s/d 17), kemunculan Isa kedua setelah ini yaitu saat beliau menjumpai Simon Petrus, Thomas (Didymus), Nathan dan yang lainnya di Tasik Tiberias (Yohanes 21:1 s/d 4) begitupun Isa dikabarkan juga sempat menjumpai 2 orang sahabatnya yang sedang berjalan menuju kampung Emaus (Lukas 24:13 s/d 17) dan akhirnya muncul secara terbuka dihadapan ibunya serta murid-muridnya yang saat itu sedang berkabung atas kematiannya (Yohanes 20:19). Ketika mereka meragukan dirinya dan menyangkanya sebagai hantu atau arwah gentayangan, Isa al-Masih meyakinkan mereka dengan memperlihatkan tangan dan kakinya yang masih ada bekas-bekas luka-luka penyaliban dan memakan roti sebagai pertanda dirinya memang masih hidup (Lukas 24:37-43).

Sampai disini, penafsiran dari al-Qur'an mengenai penyamaran atas penyaliban dan pengangkatan derajat Isa al-Masih disisi Allah bisa kita terima secara logis dan wajar.

Anda sendiri mau ikut pemahaman seperti apa dari kedua pemahaman diatas ... ? silahkan saja ...

Bersambung Isa al-Masih 3 : Isa al-Masih menolak disalib

LINK ISA ALMASIH:
ISA AL-MASIH 1/7 : Tokoh kontroversial sepanjang masa
ISA AL-MASIH 2/7 : Arti Mutawaffika (pengangkatan Isa)
ISA AL-MASIH 3/7 : Isa menolak disalib
ISA AL-MASIH 4/7 : Pengkhianatan Yudas
ISA AL-MASIH 5/7 : Arti Syubihalahum (Penyamaran Isa)
ISA AL-MASIH 6/7 : Yesus Wafat di Kashmir
ISA AL-MASIH 7/7 : Benang Merah Islam-Kristen


GHOSHOB

  Jika di pesantren, istilah ini sudah sangat familiar. Hanya saja pengertian dan prakteknya sesungguhnya ada perbedaan dari makna ghoshob s...